Kesakralan Alunan Suara Alat Musik Lalove khas Sulawesi Tengah

Kesakralan Alunan Suara Alat Musik Lalove khas Sulawesi Tengah
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

#WritingChallengeGNFI#CeritaDaerahdariKawan#MakinTahuIndonesia

Hampir semua orang gemar mendengarkan musik sebagai sarana hiburan. Perkembangan alat musik kian canggih, siapapun dapat mudah mengakses alunan musik di berbagai platform. Meski begitu, alat musik tradisional yang menjadi bukti kekayaan budaya Nusantara masih populer dan bahkan mendunia.

Bagi masyarakat di beberapa wilayah Indonesia, alat musik tak hanya menghibur, tetapi bisa bersifat sakral. Biasanya, alat musik tersebut hanya ada dalam upacara adat tertentu, seperti pemujaan, kematian, hingga penyembuhan. Termasuk alat musik kebanggaan Sulawesi Tengah, yakni Lalove.

Alat musik Lalove © Instagram.com/lalovepalu
info gambar

Lalove merupakan alat musik tiup pentatonik yang memiliki lima nada mayor. Alat musik ini begitu istimewa, terbuat dari bilah bambu atau rotan pilihan yang tumbuh di bukit atau puncak gunung paling tinggi. Sepintas, mirip seruling berukuran lebih panjang.

Memang tak ada catatan pasti mengenai awal mula kehadiran Lalove, tetapi menurut perkiraan sudah ada sejak peradaban pra-sejarah Suku Kaili. Konon, Lalove erat kaitannya dengan legenda Sawerigading yang mengembara ke tanah Kaili dan ingin meminang Ngilinayo, raja wanita Kerajaan Sigi. Ngilinayo pun mengajukan syarat, yakni mengadakan acara adu kedua ayam milik mereka.

Saat acara, Sawerigading mengiringinya dengan alat musik bawaannya, termasuk Lalove untuk memeriahkan suasana. Hebatnya, suara merdu dari alat musik ini mampu membuat seluruh masyarakat berkumpul, bahkan mereka yang tengah menderita sakit.

Seiring berjalannya waktu, kedudukan Lalove menjadi wajib dan penting dalam mengiringi semua ritual penyembuhan khas Suku Kaili bernama Tari Balia. Selama ritual, alunan Lalove berguna untuk memanggil roh halus.

Kesakralannya mulai dari pemilihan bahan baku pembuatan Lalove. Sebelum menebang dan mengambil buluh bambu, pengrajin akan melakukan upacara adat, mengucapkan tabe (permisi), dan meminta izin kepada penguasa tempat tersebut. Upacara juga menyuguhkan sesajen berupa makanan dan sedikit darah ayam putih.

Usai upacara, pengrajin boleh menebang tiga batang buluh bambu yang paling tinggi, lurus, dan tua. Lalu, ia harus pergi ke aliran sungai, mengeluarkan ranting-ranting bambu dan menghanyutkan ketiga buluh bambu. Bambu yang hanyut lebih dahulu akan terpilih menjadi bambu utama untuk membuat Lalove.

Selanjutnya, pengrajin mengeringkan dan memotong bambu pilihan. Ia memotong salah satu ujung ruas buku, menyayatnya sedikit, dan melilitnya dengan rautan rotan. Tak lupa, memberi lubang antara sayatan dan lilitan rotan untuk masuknya udara dari tiupan.

Di sisi berlawanan, pengrajin melubangi bambu sebanyak enam buah, terbagi dua kelompok dengan masing-masing tiga lubang. Antar kelompok harus berjarak sekitar 5 cm dan ketiga lubang berjarak sekitar 2 cm. Pengrajin juga akan menyatukan ujung terbuka buluh bambu dengan buluh yang lebih besar agar suaranya terdengar lebih nyaring

Setiap tahapan pembuatan Lalove sakral perlu upacara ritual adat sehingga bisa memakan waktu lama hingga berhari-hari. Tentu berbeda dengan Lalove modern yang hanya butuh waktu pengerjaan singkat sekitar tiga jam.

Memainkan alat musik Lalove © Meramuda.com
info gambar

Dahulu, saking sakralnya, hanya orang khusus atau bule yang boleh meniup Lalove. Jadi, tak sembarang orang karena suaranya bisa membuat seseorang kerasukan. Lebih dari itu, alat musik ini juga butuh teknik meniup yang tinggi dan sempurna.

Kebanyakan, orang-orang berusia senja yang mampu meniup Lalove. Namun, kini sudah mulai banyak anak muda ikut belajar memainkan alat musik ini. Terlebih, seniman Amin Abdullah menjadikan Lalove bagian dari instrumen dalam The Hawai’i Kakula Ensemble.

Amin memadukan Lalove dengan musik Kakula dalam berbagai pertunjukkan internasional. Pada tahun 2005 lalu, Lalove tampil di University of Hawai’i Gamelan Ensemble Concert, Honolulu Zoo Society, dan musik pembuka pemutaran film “The Last Bissu” karya Rhoda Grauer di Honolulu.

Alat musik ini telah mengharumkan nama Sulawesi Tengah. Pemerintah Indonesia pun menetapkan Lalove sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Sulawesi Tengah pada tahun 2019. Kini, nama Lalove terabadikan menjadi nama jembatan yang menjadi ikon Sulawesi Tengah.

Kalangan masyarakat tertentu masih menjadikan Lalove sebagai alat musik sakral. Namun, ada pula yang hanya menjadikannya sarana hiburan untuk mengiringi tarian tradisional dalam pertunjukan seni. Jadi, efek ‘penyembuh’ Lalove semakin meluas, tak hanya pada ritual Tari Balia saja.

Kawan, untuk mendengarkan dan mengetahui lebih banyak informasi, yuk, dengarkan podcast GoodVoice di Spotify supaya Kawan Makin Tahu Indonesia!

Referensi: Pariwisata Indonesia | Pemerintah Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini