Tarian Balia, Ritual Penyembuh Penyakit dari Suku Kaili

Tarian Balia, Ritual Penyembuh Penyakit dari Suku Kaili
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

#WritingChallengeGNFI#CeritaDaerahdariKawan#MakinTahuIndonesia

Sulawesi Tengah menjadi wilayah terluas di antara semua provinsi di Pulau Sulawesi. Penduduk aslinya terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku dan yang terbanyak adalah Suku Kaili. Suku ini mendiami sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah, mereka tinggal di Donggala, Sigi, Palu, Parigi-Moutong, Tojo-Una Una, Poso,Teluk Tomini, hingga pesisir pantai Poso.

Hebatnya, Suku Kaili merupakan etnis yang memiliki rumpun sendiri. Ada lebih dari 30 rumpun suku, di antaranya rumpun Kaili Rai, rumpun Kaili Ledo, rumpun Kaili Ija, rumpun Kaili Moma, rumpun Kaili Da'a, rumpun Kaili Unde, rumpun Kaili Inde, rumpun Kaili Tara, rumpun Kaili Bare'e, rumpun Kaili Doi, dan rumpun Kaili Torai. Setiap rumpun punya bahasa berbeda untuk percakapan sehari-harinya. Namun, mereka menggunakan bahasa Ledo sebagai bahasa pemersatu semua rumpun.

Tentu sama halnya dengan suku lain di Nusantara, Suku Kaili juga masih memelihara kekayaan budaya adat istiadat. Hingga kini, mereka masih sering melakukan tarian ritual penyembuhan penyakit bernama Tarian Balia. Masyarakat setempat menganggap Tari Balia sebagai prajurit kesehatan.

Pada zaman dahulu, Suku Kaili lumrah melakukan tarian adat ini, terutama bagi kalangan ningrat. Tak sembarang, Suku Kaili hanya akan melakukan ritual ini jika upaya medis tak kunjung berhasil mendatangkan kesembuhan. Masyarakatnya meyakini bahwa Tari Balia mampu menyembuhkan sakit karena pemberian atau pengaruh roh jahat.

Prosesi Tarian Balia © Benarnews.org
info gambar

Tarian ini berbeda dengan tari tradisional lainnya karena ada prosesi yang cukup ekstrem, yakni menginjak bara api. Selaras dengan nama Balia yang berarti tantang dia. Dalam pelbagai literatur, mereka melawan setan atau roh jahat pembawa penyakit dengan menginjak api sebagai simbol elemen buruk atau kemarahan.

Suku Kaili dapat melakukan ritual ini secara individu maupun kelompok. Lama prosesinya tergantung tingkat keparahan penyakit, semakin berat jenis penyakit, maka semakin lama ritual adat ini. Tari Balia terbagi menjadi tiga jenis, ada Balia Bone, Balia Jinja, dan Balia Tampilangi.

Balia Bone menjadi tingkatan terendah dalam rangkaian ritual adat ini. Biasanya, masyarakat kalangan bawah memilih jenis tarian ini untuk penyakit ringan. Seorang sando akan memimpin tarian ini dengan waktu pelaksanaan yang singkat.

Lalu, Balia Jinja yang melibatkan banyak orang, mulai dari sando, bale, si sakit, dan pengunjung yang hadir untuk melakukan gerakan melingkar. Mereka harus siap mendendangkan dondulu secara bersama. Mereka yang mengikuti tarian ini kerap mengalami kerasukan.

Terakhir, Balia Tampilangi, tingkatan tertinggi yang penuh kesakralan, biasanya masyarakat kalangan bangsawan memilih jenis tarian ini. Tari ini memadukan seluruh gerakan dari Balia Bone dan Balia Jinja. Pelaksanaannya membutuhkan waktu lama, bisa 3-4 hari dan harus memenuhi syarat khusus.

Tak hanya sekadar menginjak bara api, Balia sekiranya terdiri dari 10 prosesi. Ritual tersebut, yakni ritual pompoura atau tala bala'a, ritual adat enje da'a, ritual tampilangi ulujadi, pompoura vunja, ritual manuru viata, ritual adat jinja, balia topoledo, vunja ntana, ritual tampilangi, dan nora binangga.

Prosesi penyembelihan hewan kurban © Nrdaeng.com
info gambar

Masyarakat mempersiapkan berbagai bahan, seperti dupa, keranda, buah-buahan, hingga hewan kurban sesuai dengan kasta sang penyelenggara, bisa ayam, kambing, atau kerbau. Penyembelihan hewan untuk seserahan sebagai wujud rasa sungguh memohon kesembuhan. Ada pula irama lalove (seruling) dan gimba (gendang) yang mengiringi jalannya ritual ini.

Usai persiapan rampung, pawang laki-laki akan mulai mengucapkan jampi dan mantra pemanggil arwah. Setiap prosesinya, mereka menaruh sesajian berbeda dekat dupa. Seseorang yang sakit dan memohon kesembuhan harus berada di sekitar penari Balia hingga acara puncak berakhir.

Kebanyakan masyarakat setempat begitu meyakini bahawa ritual ini efektif menyembuhkan penyakit. Namun, tak sedikit pula masyarakat yang terbiasa dengan gaya hidup modern dan memilih pengobatan dokter dan ahli kesehatan.

Kawan, untuk mendengarkan dan mengetahui lebih banyak informasi, yuk, dengarkan podcast GoodVoice di Spotify supaya Kawan Makin Tahu Indonesia!

Referensi: Kumparan | Etnis.id | Pemerintah Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini