Kisah Putri Keraton Solo dan Hari Patah Hati Nasional Pertama

Kisah Putri Keraton Solo dan Hari Patah Hati Nasional Pertama
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

#WritingChallengeGNFI#CeritaDaerahdariKawan#MakinTahuIndonesia

Sekarang ini, banyak warga media sosial yang sering menyematkan ucapan hari patah hati nasional. Biasanya, mereka mengucapkan kata tersebut jika ada sosok berparas menawan dengan banyak penggemar, yang akan menikah. Namun, tahukah Kawan kapan dan siapa sekiranya hari patah hati nasional tercetus?

Ia adalah Gusti Nurul, meski pada zamannya banyak yang mengenal dan mengaguminya, kini tak banyak yang tahu sosoknya. Pemilik nama lengkap Gusti Raden Ayu (GRAy) Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumowardhani ini merupakan putri tunggal Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII, seorang ningrat dari Solo.

Gusti Nurul memiliki paras elok yang menjadi primadona di Solo. Tak hanya termasyhur karena kecantikannya saja, semasa mudanya, ia juga sosok yang berbakat. Ia piawai dalam menari, menulis puisi, berkuda, berenang, hingga bermain tenis.

Dahulu, negeri Belanda pernah mengundangnya untuk menari. Gusti Nurul yang baru berusia 15 tahun itu pun menari di prosesi pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Benhard, tepatnya pada 6 Januari 1937. Ia menyuguhkan tarian memukau di hadapan Ratu Wilhelmina beserta pejabat-pejabat dan tamu kenegaraan.

Gusti Nurul menari di Belanda © Historia.id
info gambar

Bahkan, potretnya menari saat itu terpajang di Majalah Life edisi 25 Januari 1937. Gusti Nurul menjadi orang Indonesia yang wajahnya pernah terlihat di majalah terbitan Amerika Serikat. Ia juga berperan banyak pada pendirian stasiun radio pertama di Indonesia, Solosche Radio Vereeniging (SRV) yang kini menjadi Radio Republik Indonesia (RRI) Solo.

Tak hanya berbakat, ia juga terkenal cerdas dan memiliki pemikiran modern. Meski hidup di tembok keraton yang sangat menjunjung tinggi berbagai nilai, ia tetap tak segan-segan menolak poligami. Saat itu, beristri banyak sudah menjadi hal wajar dalam kehidupan keraton.

Melihat kecantikan dan kecerdasannya, tak heran bila banyak lelaki menaruh hati pada putri keraton yang punya julukan Kembang Kusumanegaran ini. Tak tanggung-tanggung, bahkan tak sedikit tokoh nasional yang ingin meminangnya.

Paras Gusti Nurul © Nasional.tempo.co
info gambar

Gusti Nurul bercerita dalam buku Goesti Noeroel: Straven naar Geluk Mengejar Kebahagiaan (2014) bahwa Ayahnya pernah menerima utusan dari Yogyakarta. Ia utusan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang menanyakan tentang Gusti Nurul dan berniat meminangnya menjadi istri.

Hanya saja, sang ibu menolak karena kurang nyaman apabila anaknya menyandang status sebagai istri sultan. Gusti Nurul pun enggan karena mengetahui Sultan HB IX telah beristri dan ia tak mau menikah dengan pria beristri.

Sang proklamator dan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno juga pernah mengagumi Gusti Nurul. Menurut Gusti Nurul, Soekarno tak pernah mengungkapkan isi hatinya. Namun, Hartini, istrinya pernah bercerita kepada Gusti Nurul.

Setelah tentara Belanda pergi dari Indonesia, Soekarno pernah mengundang Gusti Nurul dan ibunya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer ke Istana Cipanas. Di sana, Soekarno meminta Basuki Abdullah untuk melukis Gusti Nurul. Soekarno pun memajang lukisan tersebut di ruang kerjanya dan mengaku kalah cepat dengan suami Gusti Nurul.

Ada pula Sutan Sjahrir, ia menyukai Gusti Nurul dengan unik dan berbeda. Ia tak berdarah Jawa, padahal kebanyakan penggemar Gusti Nurul berasal dari pembesar dan bangsawan Jawa.

Setiap menghadiri rapat kabinet di Yogyakarta, ia selalu mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaidah Oesman, ke Pura Mangkunegaran. Siti khusus mengantar hadiah dari Jakarta, pemberian Perdana Menteri Indonesia pertama ini. Ia juga melampirkan surat tulisan tangan Sjahrir dan Gusti Nurul pun rajin membalas surat tersebut.

Meski terlihat jatuh hati, Sjahrir tak pernah mengunjunginya ke Pura Mangkunegaran. Justru, Sjahrir pernah mengundang Gusti Nurul berserta ibu dan kakaknya ke rumah tempat berlangsungnya Perundingan Linggarjati.

Setelah mendengar Gusti Nurul menikah, Sjahrir nampaknya masih penasaran. Sjahrir pernah menyambangi kediamannya dan memilih posisi dekat Gusti Nurul saat foto bersama. Meski Jarso, suami Gusti Nurul tahu bahwa Sjahrir mengagumi istrinya, ia tak cemburu dan malah memilih posisi foto jauh dari Gusti Nurul.

Para penggemar Gusti Nurul memang banyak yang telah beristri. Maka dari itu, ia tak menerima cinta atau pinangan mereka. Gusti Nurul memang menentang poligami karena tak mau dimadu dan menyakiti perasaan wanita lain.

Gusti Nurul dan suaminya, Jarso © Repro Buku Gusti Nurul
info gambar

Rasanya, 24 Maret 1954 bisa menjadi hari patah hati nasional pertama karena saat itu Gusti Nurul melabuhkan hatinya dan menikah. Harapan lelaki bangsa yang ingin meminang pun pupus. Mereka harus gigit jari menerima kenyataan bahwa perempuan pujaannya memilih RM Soejarsoejarso Soerjosoerarso atau akrab dengan sebutan Jarso.

Gusti Nurul resmi menikah dengan seorang perwira menengah tentara pada 24 Maret 1951 silam. Gusti Nurul melepas status lajangnya pada usia 30 tahun. Masyarakat saat itu menganggap usianya sudah cukup tua bagi perempuan untuk menikah.

Meski bukan pejabat tinggi atau bangsawan seperti pengagumnya terdahulu, Jarso juga tak kalah hebat. Ia seorang perwira militer lulusan Akademi Militer Kerajaan Belanda. Ia pernah dinas di tentara kerajaan Belanda dengan penempatan di Proef Batalion Vechtwagens, Bandung dan Batalion Infanteri, Bogor.

Usai proklamasi kemerdekaan, Jarso bergabung di TNI. Ia pun menjadi kepala Inspektorat Kavaleri Angkatan Darat pertama. Saat menyandang pangkat letnan kolonel itu, ia meminang Gusti Nurul. Jarso berjanji pada Gusti Nurul untuk tak memadunya.

Gusti Nurul wafat pada usia 94 tahun © Liputan6.com
info gambar

Sejak hidup bersama Jarso, Gusti Nurul tak lagi tinggal di Pura Mangkunegaran. Ia setia mendampingi suaminya berdinas ke mana pun, bahkan ketika Jarso menjadi Atase Militer di Washington DC. Bersama Jarso, Gusti Nurul dikaruniai 7 orang anak.

Pada 10 November 2015, Indonesia berduka mengantar kepergian Gusti Nurul dalam usia 94 tahun. Keluarganya pun membawa Gusti Nurul ke Pura Mangkunegaran Solo dan memakamkan di Astana Giri Layu, kompleks pemakaman keluarga Pura Mangkunegaran.

Kawan, untuk mendengarkan dan mengetahui lebih banyak informasi, yuk, dengarkan podcast GoodVoice di Spotify supaya Kawan Makin Tahu Indonesia!

Referensi: Tirto.id | Merdeka

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini