Pelestarian Budaya lewat Literasi Nusantara

Pelestarian Budaya lewat Literasi Nusantara
info gambar utama

Revolusi Industri 4.0 memberikan dampak pada tergerusnya nilai dan jati diri budaya. Oleh karena itu, generasi milenial hendaknya memiliki proteksi agar tak tergerus oleh kemajuan zaman. Peran ini memiliki kesadaran akan pentingnya penjagaan bersama nilai-nilai budaya lokal.

Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, masyarakat membutuhkan literasi budaya dan kewargaan agar dapat mempertahankan identitas diri. Sebagaimana hal yang sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan lahir dalam rangka melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia, pemerintah bersama dengan Komisi X DPR RI akhirnya mengeluarkan UU Pemajuan Kebudayaan Republik Indonesia.

Meskipun zaman semakin maju, tetapi masih ada seorang pria yang masih fokus pada penafsiran kuno zaman dahulu. Pria bernama Ki Tarka Sutarahardja atau yang akrab dipanggil Ki Tarka ini merupakan seorang penerjemah yang fokus menggali, mengetahui, dan menafsirkan penerapan nilai-nilai naskah kuno nusantara.

Ki Tarka sebagai sosok yang memperjuangkan identitas bangsa selalu mengenalkan literasi literasi sastra kuno di kalangan generasi muda, lewat berbagai kreativitas kekaryaan. Keilmuan yang didapatkan membuka cakrawala berpikirnya dalam menanggapi manusia dan alam.

Ki Tarka di Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung (SAJAKP) | Foto: Kliksaja Jatim
info gambar

Melestarikan Warisan Budaya

Konon, sejak munculnya peradaban manusia, budaya baca tulis sebenarnya sudah ada. Membaca dan menulis adalah cara manusia berkomunikasi. Tentunya disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan zamannya. Bukti peradaban manusia juga tercatat pada prasasti, tulisan-tulisan di dinding gua, kitab, atau lembaran-lembaran kulit binatang. Dan hanya profesi tertentu, seperti arkeolog, filolog, atau ahli sejarah yang bisa menafsirkannya.

Peradaban manusia yang terus berkembang juga berpengaruh terhadap budaya baca dan tulis. Oleh karena itu, manusia memiliki budaya dan bahasa masing-masing. Indonesia juga merupakan negara yang majemuk memiliki ribuan suku bangsa dan bahasa. Walau demikian, bangsa Indonesia memiliki bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia.

Beragam wujud warisan budaya memberi kesempatan untuk mempelajari nilai kearifan budaya dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi di masa lalu. Hanya saja, nilai kearifan budaya tersebut seringkali diabaikan dan dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan. Akibatnya, banyak warisan budaya yang lapuk dimakan usia, terlantar, terabaikan bahkan dilecehkan keberadaannya.

Padahal banyak bangsa yang kurang kuat sejarahnya justru mencari-cari jati dirinya dari peninggalan sejarah dan warisan budaya yang sedikit jumlahnya. Kita sendiri, bangsa Indonesia, yang kaya dengan warisan budaya justru mengabaikan aset yang tidak ternilai tersebut. Sungguh kondisi yang kontradiktif.

Kita sebagai bangsa dengan jejak perjalanan sejarah yang panjang seharusnya mati-matian melestarikan warisan budaya yang sampai kepada kita. Melestarikan berarti memelihara untuk waktu yang sangat lama. Maka, perlu dikembangkan pelestarian sebagai upaya yang berkelanjutan, bukan pelestarian yang hanya mode atau kepentingan sesaat, berbasis proyek dan tanpa akar yang kuat di masyarakat.

Mengenali literasi ini adalah sebuah cermin kebudayaan. Dengan kata lain, manusia yang melek literasi bisa dikatakan sebagai manusia berbudaya. Selain itu, literasi juga bisa dijadikan sebagai sarana menyebarluaskan dan menjaga budaya. Maka, generasi milenial selayaknya memahami secara holistik dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari untuk memperkuat identitas budaya.

Referensi: Wawancara dengan Ki Tarka (Penerjemah Naskah Kuno), 16 November 2020, 13:00

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini