Di Balik Sepotong Kue Ini, Ada Cinta Putri Kerajaan yang Tak Terbalas

Di Balik Sepotong Kue Ini, Ada Cinta Putri Kerajaan yang Tak Terbalas
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

#WritingChallengeGNFI#CeritaDaerahdariKawan#MakinTahuIndonesia

Dunia kuliner nusantara kaya akan aneka ragam kudapan tradisional. Selain kental dengan nuansa terdahulu, kelezatan cita rasanya pun terkenal hingga penjuru dunia. Uniknya, beberapa kudapan kerap memiliki kisah sejarah di baliknya.

Ada kudapan tradisional khas Kepulauan Riau yang sejarahnya menarik untuk Kawan simak. Provinsi dengan gugusan 1.350 pulau besar dan kecil ini menghadirkan kudapan menggugah selera bernama kue batang buruk. Kawan akan melihat kue ini menghiasi meja makan jika berkunjung ke rumah kerabat di daerah Bintan dan Tanjungpinang pada acara-acara khusus, seperti Hari Raya Idulfitri.

Kepulauan Riau © Ksmtour.com
info gambar

Meski namanya batang buruk, tetapi rasanya sama sekali tidak buruk. Justru, rasa manis kue ini mampu membuat siapa pun ketagihan menyantapnya. Batang buruk berukuran kecil sekitar 3-4 sentimeter, serta berbentuk gulungan tipis berongga di bagian tengahnya.

Ternyata, ada sejarah menarik di balik penamaan kue batang buruk. Jejak awal kehadiran kudapan ini bermula dari kisah Wan Sendari, putri sulung Baginda Raja Tua yang memerintah Kerajaan Bintan sekitar 450 tahun silam.

Saat itu, Wan Sendari merasa kasmaran dengan seorang pemuda bernama Raja Andak. Ia mengagumi Panglima Muda Bintan ini karena begitu rupawan, gagah, dan cerdas. Namun, malang nasibnya, ketulusan cinta sang putri tak berbalas.

Sedih rasanya saat mengetahui bahwa pemuda pujaan hatinya lebih memilih Wan Inta, yang tak lain ialah adik kandung Wan Sendari. Ia pun patah hati dan berusaha mengusir rasa sedih dengan menyibukkan diri di dapur istana kerajaan. Wan Sendari bersama para pengasuhnya meracik masakan baru.

Rasa sedihnya membuahkan hasil, Wan Sendari berhasil menciptakan kudapan yang terbuat dari campuran tepung gandum, tepung beras, tepung kelapa serta sedikit mentega dan air untuk mengikat adonan. Selain itu, kue ini berselimut campuran serbuk kacang hijau goreng, gula halus, dan susu bubuk.

Kue batang buruk © Instagram.com/resepi_ala_kampung
info gambar

Terlintas di benak Wan Sendari kalau ia ingin menyajikan kue tersebut untuk lingkungan istana dan para tamu kerajaan. Baginda Raja Tua pun menerima permohonan tulus putrinya. Wan Sendari begitu senang karena sang ayah memberinya kesempatan.

Hingga suatu hari, ada sebuah pertemuan di istana yang menghadirkan seluruh petinggi kerajaan. Termasuk Raja Andak, sosoknya terlihat hadir di antara tamu lainnya.

Wan Sendari seolah menemukan waktu yang tepat memamerkan kudapan hasil kreasi tangannya. Saat waktunya tiba, Raja Baginda Tua mempersilakan tamu mencicipi kue buatan sang buah hati. Para tamu antusias melahap kue berwarna putih yang mengundang selera.

Selagi asik menikmati kue, para tamu tak sadar kalau sebagian kue mulai berjatuhan. Serpihannya berserak memenuhi pakaian kebesaran mereka. Meski kesulitan, mereka segara melahap sisa kue di tangan sambil tertunduk menahan malu.

Namun, tak demikian dengan Raja Andak. Panglima muda ini berbeda karena tetap santai menikmati kue. Baju kebesarannya masih bersih dan rapi tanpa satu pun serpihan kue.

Rupanya, ia memegang teguh filosofi di Kerajaan Bintan. Kalimatnya berbunyi, “Biar pecah di mulut, asal jangan pecah di tangan” yang pada masanya cukup terkenal. Filosofi ini mengandung pesan bahwa seorang bangsawan harus beretika saat makan, termasuk ketika mencicipi kudapan.

Betapa buruk cerminan tingkah laku bangsawan apabila makan dengan tergesa-gesa dan ceroboh. Melalui kuenya, Wan Sendari sadar bahwa dirinya tidak salah pernah menjatuhkan hatinya pada Raja Andak. Meski begitu, akhirnya kisah cinta Wan Sendari tak berujung manis.

Sejak saat itu, sebutan kudapan ini menjadi kue batang buruk. Sekarang, kue batang buruk sudah terkenal hingga ke beberapa negara tetangga, seperti Malaysia. Apakah Kawan penasaran dengan rasa kue ciptaan Wan Sendari ini?

Kawan, untuk mendengarkan dan mengetahui lebih banyak informasi, yuk, dengarkan podcast GoodVoice di Spotify supaya Kawan Makin Tahu Indonesia!

Referensi: Pemerintah Indonesia | Kebudayaan Kemdikbud

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini