Rahasia Kerobokan Bali, Tetap Macet di Masa Pandemi

Rahasia Kerobokan Bali, Tetap Macet di Masa Pandemi
info gambar utama

Dari semua laporan mengenai jalan-jalan Bali selama pandemi, rata-rata menyajikan foto-foto menyedihkan mengenai tutupnya toko-toko souvenir akibat berkurangnya kedatangan turis. Namun, ada satu jalan yang terus ramai, bahkan menjadi biang macet ketika bulan lalu kami berkunjung ke Bali, yaitu Jalan Kerobokan.

Ketika semua sudut Bali nampak lesu, justru Jalan Raya Kerobokan tetap ramai, macet, penuh karyawan yang datang dan pergi baik dengan motor maupun dengan mobil. Rush hour tetap berlaku, pukul 8 pagi dan pukul 5 pagi macet lagi. Berarti ekonomi masih berjalan di sini. Apa rahasianya?

“Ketika saya pertama kali ke sini, semua tanah di sekitar kami masih berupa sawah,” kata Lucio Brissolese, pendiri produsen mebel Warisan, sambil ngopi di tokonya di Jalan Kerobokan.

Perkataannya sulit dipercaya sekarang karena lokasi ini dijepit padatnya bangunan toko. Bahkan saya pun nyaris terlambat karena terjebak macet.

“Bahkan teman-teman saya bertanya, mengapa kok mau buka usaha di tempat yang sangat terpencil ini?” katanya, sementara rekanannya, Gianpaolo Nogara, manggut-manggut sambil tersenyum.

Salah satu produk Warisan dari katalog warisan.com
info gambar

Dua sahabat ini mulai membangun bisnis mebel Warisan sejak tahun 1989, bermula di Kerobokan. Dalam wawancaranya dengan CNBC Asia Pacific, Lucio dan Gianpaolo mula-mula terjun ke Bali dengan bisnis barang antik.

Ketika barang-barang antik mulai langka, mereka lalu beralih ke produksi mebel sendiri, dan di tahun 1998 mulai merambah pasar global dengan membuka toko di Los Angeles. Tahun 2000, mereka mendapat pesanan besar pertama dari Disney.

Kemudian, bisnis mereka bergerak ke Asia Tenggara, dan menjadi symbol jaminan mutu untu resor-resor pantai di Malaysia, Maladewa, dan Seychelles. Setelah itu kemudian mereka kembali ke Bali, ketika hotel-hotel di Bali sudah “naik kelas” menjadi resor kelas dunia.

Rupanya, rintisan mereka banyak diikuti oleh perusahaan sejenis di sepanjang jalan Kerobokan. Toko-toko mebel yang berjajar, dari yang hanya memajang kursi dan meja kayu sederhana, sampai yang kelas butik, nampak ramai di sepanjang jalan ini.

Beberapa bahkan memiliki logo yang mirip dengan logo Warisan, mungkin karena terinspirasi. Namun, semuanya nampak aktif, dan menandakan bahwa wilayah ini mampu bertahan menghadapi pandemi. Meskipun volume bisnis menurun, tetapi secara umum kegiatan ekspor masih berjalan, dan memberikan imunitas khusus pada wilayah ini.

“Kami memulai bisnis ini karena kagum pada bakat seni yang besar yang dimiliki orang Bali,” kata Lucio.

Sesuatu yang menjadi modal Bali, karena rasanya tidak ada suku lain di Indonesia yang memiliki eksposure sebanyak orang Bali pada karya seni sejak pagi sampai malam, dikelilingi keindahan seni patung, musik, dan lansekap.

Yang perlu dibenahi hanya dari sisi pembiayaan dan pemasaran saja. Maka, Bali bisa menjadi pusat industri mebel dunia. Toh, dari nama “Bali”-nya saja, sudah terbayang kan keindahannya?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini