Sejarah Hari Ini (18 Februari 1950) - Surat Kepercayaan Gelanggang

Sejarah Hari Ini (18 Februari 1950) - Surat Kepercayaan Gelanggang
info gambar utama

Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin, ketiga pemuda yang kondang sebagai sastrawan ini berembuk bersama setahun setelah kemerdekaan.

Ketiga mendirikan perkumpulan bernama Gelanggang Seniman Merdeka yang mengusung prinsip kebebasan dalam berkarya tanpa intervensi dari penguasa.

Perkumpulan tersebut kian bertambah anggotanya.

Dari kalangan seniman ada Mochtar Apin, Henk Ngantung, Baharuddin M.S, dan Basuki Resobowo, sementara dari sesana sastrawan ada Pramoedya Ananta Toer, Usmar Ismail, Sitor Situmorang, dan Mochtar Lubis.

Beberapa bulan setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, pada 18 Februari 1950 mereka merumuskan dan mengesahkan "Surat Kepercayaan Gelanggang".

Dalam surat mereka menyatakan sikap yang teguh bahwa kebudayaan Indonesia perlu dibangun dan dipertahankan.

"Surat Kepercayaan Gelanggang"

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

Ke-Indonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.

Kami tidak akan memberikan suatu kata-ikatan untuk kebudayaan Indonesia. Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia dan yang kemudian dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha-usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.

Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui itu ialah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.

Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.

Jakarta, 18 Februari 1950

"Surat Kepercayaan Gelanggang" sendiri baru pertama kali diumumkan di ruang kebudayaan majalah mingguan Siasat, "Gelanggang", pada 23 Oktober 1950.

---

Referensi: Ensiklopedia.Kemdikbud.go.id | Fadrik Azis Firdausi, "Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965" | "Kongres Nasional Sejarah, 1996: Sub Tema Studi Komparatif dan Dinamika Regional"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini