Kisah Evita Chu, Perajut Sweater Michelle Obama

Kisah Evita Chu, Perajut Sweater Michelle Obama
info gambar utama

Momen pelantikan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) 20 Januari 2020, menghadirkan sosok Michelle Obama dengan pakaian memukau. Tak disangka, sweater yang dikenakan oleh Michelle adalah hasil dari perajut asal Indonesia.

Evita Chu, tidak menduga akan mendapatkan kesempatan memproduksi sweater untuk mantan Ibu Negara tersebut. Dirinya bahkan langsung diminta oleh desainer AS, Sergio Hudson.

"Dia memang klien saya. Saya yang bikin semua knitwear (pakaian rajut) untuk Sergio Hudson," ujar Evita kepada VOA, yang dikutip pada Jumat (19/2/2021).

Eva pun menceritakan bahwa dirinya mendapatkan email dari Sergio Hudson agar memproduksi sweater untuk Michelle. Tapi project tersebut harus top secret atau rahasia.

"Gimana caranya. Saya nggak ngomong sama Mama, saya enggak sama keluarga, saya enggak ngomong sama siapa-siapa," kata Evita.

"Cuma sama asisten saya satu, Sophia namanya... Terus projectnya enggak dikasih nama juga, ditulisnya "personal," ungkap wanita asal Bandung tersebut.

Hudson juga meminta agar Eva bisa menyelesaikan project tersebut dalam waktu dua minggu. Mulai dari menerima email hingga baju dicoba oleh Michelle Obama.

"Hasil fitting pertama, hasilnya sempurna," kata Evita senang.

Bahkan netizen Amerika Serikat pun banyak yang membahas busana Michelle tersebut. Hal ini membuat Sergio Hudson mengucapkan rasa terima kasih khusus kepada Evita melalui instagram.

"Anda buat pakaian ini hanya untuk kami ketika Anda sedang sibuk-sibuknya," tulis desainer itu.

"Nn.Evita, Anda luar biasa. Terima kasih untuk segalanya."

Dari artis K-POP hingga Bollywood

Ternyata karya Evita tidak hanya digunakan oleh Michelle Obama. Dirinya dan tim ternyata pernah merajut untuk para bintang-bintang besar lainya.

Di dunia K-Pop ada Jennie dari Blackpink dan J-Hope dari BTS. Juga beberapa syuting untuk film dan program televisi.

"Kita bikin buat film, kadang-kadang buat pribadi juga, kadang-kadang untuk sitcom, untuk iklan," kata Evita.

Melalui Instagram bisnisnya, Evita bercerita pernah dapat proyek membuat replika cardigan pembunuh berantai Ted Bundy untuk dipakai Zac Efron dalam film "Extremly Wicked, Shockingly Evil and Evil."

"Saya harus meriset cardigan ini untuk mempelajari desain teknisnya." tulis Evita.

"Saya dapat mimpi buruk setelah membaca tentang Ted Bunny."

Awal kisah bisnis Evita Chu

Evita mengawali karirnya sebagai desainer pakaian rajut, sebelum terjun ke bisnis pabrik merajut.

Ia mendirikan PDR Knitting di Los Angeles pada 2006, setelah kecelakaan mobil dua kali dalam sebulan sehingga membuatnya harus keluar dari pekerjaannya.

"Waktu itu saya harus rehabilitasi, terus harus ke dokter banya," ujar Evita.

"Jadi waktu itu saya bilang sama bos saya, saya enggak bisa kerja full time seperti ini,soalnya tempat rehabilitasinya itu jauh dari kerjaan," ungkapnya.

Pada suatu hari, teman Evita menghubunginya meminta dibuatkan sweater. Menggunakan mesin rajut di rumahnya, lalu Evita memenuhi pesanan itu.

Lewat kabar dari mulut ke mulut, Evita pun dapat semakin banyak pesanan. Dari menyewa studio dengan satu pegawai, kini Evita punya pabrik dengan total 16 pegawai.

Pujian dari dunia fesyen

Karena mengawali karir sebagai desainer rajut. Evita mengaku senang mendapat tantangan saat bekerja.

"Kalau engga ada tantangan, engga seru, gitu lho," katanya.

"Misalnya (klien) punya ide yang so crazy, saya bisa membuatnya," imbuhnya

Otak kreatif Evita menjadi salah satu hal yang dipuji Scoot Studenberg, pendiri dan cretive director merek fesyen Baja East.

Keduanyaa telah bekerja sama selama tujuh tahun. Pakaian dari Baja East sendiri kerap dipakai selebriti, termasuk Lady Gaga.

"Evita sudah pernah mengembangkan segalanya, dari ikat sampai print Mojave," kata Stundenberg pada VOA.

"Dia sudah pernah mengerjakan jutaan hal berbeda. Dia kreatif, bisa mengerti dan berpikir outside the box," pujinya.

Semakin sibuk saat pabrik dibuka kembali

Saat momen pandemi, PDR Knitting ikut terdampak seperti bisnis lainnya. Pabriknya harus tutup pada Maret 2020 selama tiga bulan.

Apalagi, kebanyakan benang yang digunakan PDR Knitting diimpor dari Italia. Sehingga ia harus memutar strategi agar usahanya tetap berjalan.

"Waktu itu karena semua Italia tutup, jadi switch ke China," kata Evita.

"Terus kita (California) tutup. terus China tutup. Tapi waktu itu kita engga ada aktivitas, di sini kita enggak boleh buka. Enggak ada satu bisnis pun yang boleh buka."

Namun, waktu bisnis kembali dibuka, Evita mengatakan kliennya sudah mengantri.

"Puji syukur juga, setelah buka sampai sekarang itu justru jauh lebih sibuk dari tahun lalu," Evita menambahkan.

Saat ditanya apa rencana Evita untuk ke depannya, ia katakan, "sudah berada di masa di mana semuanya pas."

"Saya sudah punya orang-orang yang saya percaya, jadi saya mau habiskan waktu bersama keluarga saya sekarang."

"Mungkin bikin bisnis saya lebih kuat lagi, tapi tidak lebih besar" pungkasnya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini