Menengok Tradisi Unik Seputar Pernikahan dari Suku Ogan

Menengok Tradisi Unik Seputar Pernikahan dari Suku Ogan
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

#WritingChallengeGNFI#CeritaDaerahdariKawan#MakinTahuIndonesia

Dahulu, Provinsi Sumatra Selatan terkenal dengan Kerajaan Sriwijaya yang cukup besar dan berjaya. Di provinsi ini, ada banyak macam ras, suku dan budaya. Terhitung ada 12 suku yang hingga kini keberadaannya masih bertahan, termasuk Suku Ogan, salah satu dari dua suku mayoritas.

Masyarakat Suku Ogan tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu Timur. Mereka mendiami wilayah sepanjang aliran sungai Ogan, dari Baturaja hingga Selapan.

Budaya Islam dan Melayu hampir mempengaruhi seluruh budaya dan adat istiadatnya. Kawan dapat melihatnya dari beberapa tradisi yang mereka jaga sejak lama, seperti tradisi seputar pernikahan warisan leluhur. Memang banyak masyarakat Nusantara yang punya tradisi pernikahan khusus, mengingat pernikahan merupakan acara sakral dalam kehidupan manusia.

Beberapa tradisi pernikahan Suku Ogan, yakni pengadangan dan ningkuk. Yuk, simak rangkumannya supaya Kawan lebih kenal dengan kedua tradisi ini.

Pengadangan

Pengadangan © Indonesiakaya.com
info gambar

Pengadangan berarti menghalangi pengantin pria dengan menggunakan selendang panjang. Sang pria dan rombongannya harus memenuhi apa pun permintaan pengantin wanita untuk bisa melewati selendang tersebut.

Prosesi pengadangan mengandung nilai luhur, yakni menghargai sang wanita sebagaimana menghargai ibu sendiri dan mempererat silaturahmi antar dua keluarga. Pada dasarnya, pernikahan perlu menyatukan dua keluarga, bukan hanya menyatukan dua insan.

Selama prosesi berlangsung, tetabuhan dari alat musik rebana akan mengiringi pihak mempelai laki-laki. Tak lupa, mereka juga harus membawa berbagai permintaan mempelai wanita. Biasanya, pada pengadangan ada seorang pemangku adat yang bertugas menjadi juru bicara untuk mendekati dan meyakinkan pihak mempelai wanita.

Setelah kedua pihak keluarga sepakat untuk menyetujui, maka boleh melanjutkan ke prosesi akad nikah. Seiring mengucapkan akad nikah, kedua mempelai pun sah secara hukum dan adat, lalu mereka akan memeriahkan pesta pernikahan dengan tarian penghibur pengantin.

Ningkuk

Ningkuk © Instagram.com/muaraenimupdate
info gambar

Perayaan menjelang akad nikah lainnya ada ningkuk. Kebudayaan ini masih dapat Kawan temui di kalangan masyarakat Suku Ogan, khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Biasanya, setiap masyarakat Suku Ogan yang melangsungkan acara pernikahan, sesudahnya akan mengadakan tradisi ningkuk. Melalui tradisi ningkuk, ada pesan edukasi yang positif terkait sosialisasi, tanggung jawab, kecekatan, dan rekreasi.

Uniknya, ningkuk merupakan pertemuan antara pemuda dan pemudi yang menjadi sahabat atau kerabat dekat kedua mempelai. Saat datang ke acara Ningkuk, pemuda harus mengajak seorang pemudi. Tak hanya mengajak, ia pun harus menjemput, meminta izin pada orang tua, dan mengantarkan pulang kembali pemudi tersebut.

Nantinya, kerabat mempelai ini akan berada di suatu tempat dan terbagi menjadi kelompok pemuda dan kelompok pemudi. Kedua mempelai pengantin tetap hadir, tetapi keduanya hanya berperan sebagai raja dan ratu. Sebelum memulai acara juga bertugas menjelaskan peraturan dan memandu jalannya acara.

Setiap kelompok akan menerima selendang atau sarung yang nantinya bergantian antar kelompok. Selama prosesi tukar menukar sarung, mereka saling melempar pantun dengan iringan irama musik. Saat musik berhenti, pemuda dan pemudi yang memegang selendang terakhir akan mendapat hukuman dari kedua mempelai.

Hukumannya beragam, bisa berupa menyanyi, menari, berpantun, berpuisi, atau bahkan merayu lawan jenis. Memasuki akhir acara, pemuda boleh menyatakan perasaan pada pemudi idamannya yang hadir pada tradisi ini. Jika tak bisa menyampaikannya secara langsung, pemuda boleh memberi surat yang nantinya akan disampaikan oleh kepada kedua mempelai.

Nah, itu dua tradisi seputar pernikahan yang ternyata unik dan seru, ya Kawan. Meski sudah semakin sulit menjumpainya, tetapi masyarakat Suku Ogan masih giat mengajak generasi muda untuk tetap mewariskan tradisi lama ini. Masyarakat Suku Ogan menganggap bahwa tradisi tersebut memiliki banyak nilai positif.

Kawan, untuk mendengarkan dan mengetahui lebih banyak informasi, yuk, dengarkan podcast GoodVoice di Spotify supaya Kawan Makin Tahu Indonesia!

Referensi: Indonesia Kaya | Kumparan | Egindo

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini