Cerita di Balik Tari Gandrung, Identitas Budaya Khas Banyuwangi

Cerita di Balik Tari Gandrung, Identitas Budaya Khas Banyuwangi
info gambar utama

Penulis: Thalitha Avifah Yuristiana

#WritingChallengeGNFI#CeritaDaerahdariKawan#MakinTahuIndonesia

Banyuwangi memiliki beragam kebudayaan yang menarik untuk dikulik. Salah satunya adalah Tari Gandrung yang kerap mewarnai berbagai kegiatan, baik formal maupun non-formal. Mulai dari upacara pethik laut, perkawainan, khitanan, dan lain-lain.

Sejarah perkembangan dari tari ini dimulai ketika Banyuwangi masih di bawah kekuasaan Kerajaan Blambangan beberapa abad silam. Kata 'gandrung' memiliki makna bentuk perwujudan rasa kagum dan terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri, yakni Dewi Padi yang dianggap menjadi pembawa kesejahteraan masyarakat. Pada mulanya, tarian ini hanya digunakan sebagai ungkapan rasa syukur pasca panen.

Seni Tari Gandrung disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya antara Jawa dan Bali. Kepopuleran tarian ini berhasil menyematkan beberapa panggilan khusus untuk kota Banyuwangi, seperti Bumi Belambangan, Tanah Osing, dan The Sunrise of Java.

Tari Gandrung
info gambar

Pembataian Sadis Kompeni dalam Sejarah Tari Gandrung

Menurut sejarah sekitar tahun 1767, pasukan kompeni yang kala itu didukung dengan prajurit Mataram dan Madura, menyerang Belambangan yang dipimpin Mangwi. Perang dinamakan Perang Bayu yang pada akhirnya hanya menyisakan lima ribu prajurit Belambangan dan beberapa penduduk. Perempuan dan anak-anak menjadi korban dalam perang ini.

Perang tersebut baru berakhir ketika 11 Oktober 1772, para prajurit dan penduduk kemudian pergi mengungsi untuk menyelamatkan diri mereka. Ada yang pergi ke gunung dan ada juga yang pergi ke hutan.

Singkat cerita, para prajurit kemudian mengumpulkan kembali masyarakat desa Belambangan yang masih ada dan kemudian prajurit tersebut menamai diri mereka sebagai Gandrung Marsan atau penari laki-laki. Mereka menari dari satu kampung ke kampung lainnya untuk mengumpulkan berbagai bahan makanan, yang dapat mereka gunakan untuk bertahan hidup. Tak hanya bagi kelompok Gandrung Marsan, tetapi juga masyarakat Belambangan lainnya yang mengungsi di wilayah hutan dan gunung.

Kemunculan Gandrung Marsan mulai populer atau mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan bupati kelima Banyuwangi, yaitu Bupati Pringgokusumo pada tahun 1867. Kemudian, pada perkembangannya, Tari Gandrung tidak hanya dimainkan kaum lelaki, tapi juga perempuan.

Tari Gandrung
info gambar

Pada mulanya Gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari sebelumnya. Namun, sejak tahun 1970-an, tarian ini menjadi sebuah profesi. Bahkan pada masa kepemimpinan Abdullah Azwar Anas, tarian ini dijadikan salah satu destinasi budaya di Banyuwangi yang menarik banyak wisatawan lokal dan mancanegara. Sejak saat itu juga, tarian Gandrung tak pernah absen ketika perayaan ulang tahun Kota Banyuwangi setiap 18 Desember.

Nah, bagaimana menurut Kawan terkait tari Gandrung tersebut? Bagaimana dengan tari tradisional yang terkenal di daerah kalian? Yuk, ikuti #WritingChallengeGNFI dan ceritakan kebudayaan unik di daerah Kawan!

Kawan, untuk mendengarkan dan mengetahui lebih banyak informasi, yuk, dengarkan podcast GoodVoice di Spotify supaya Kawan Makin Tahu Indonesia!

Referensi: Selasar | Negriku Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini