Ponsel dengan Baterai Jumbo Ternyata Makin Dibutuhkan

Ponsel dengan Baterai Jumbo Ternyata Makin Dibutuhkan
info gambar utama

Kawan GNFI, tak dimungkiri jika saat ini penggunaan pensel sudah menjadi sangat penting bagi setiap orang. Khusus di kawasan Asia Tenggara, Indonesia bahkan diprediksi akan mengalami lonjakan pengguna ponsel sebesar 89 persen dari populasi pada 2025.

Ponsel dan internet memang seperti menjadi nyawa bagi setiap orang. Boleh dibilang mending ketinggalan dompet ketimbang ponsel dalam melakukan aktivitas keseharian. Sebuah peradaban baru yang tak dapat ditolak

Kita barangkali sering lihat bahwa saking dibutuhkannya sebuah ponsel sebagai penunjang ativitas, sarana komunikasi, dan tentunya hiburan, tak sedikit orang yang membekali ponsel dengan ekosistemnya, salah satunya adalah powerbank, atau penyimpan daya yang digadang sebagai penyelamat ketika baterai ponsel habis, terutama saat melakukan aktivitas keluar rumah.

Memang, jika kongkow di cafe atau di restoran, beberapa menyediakan slot listrik untuk mengecas ponsel, namun ada yang bilang itu tak efektif. Tetap saja, powerbank dianggap menjadi solusi terbaik.

Seberapa penting ponsel dengan baterai jumbo?

gojek
info gambar

Belakangan, kebutuhan soal daya baterai pada sebuah ponsel dinilai sebagai kebutuhan paling signifikan oleh para produsen ponsel. Tak heran, ponsel yang awalnya sebagai alat interaksi sosial, kini dibekali dengan kapasitas baterai yang juga mumpuni.

Produsen seolah menginginkan pengguna tak hanya takjub pada sisi fitur saja, tapi juga pada daya tahan baterai ponsel.

Di Indonesia, kebutuhan itu kemudian ditangkap oleh jenama Samsung yang meliris varian Galaxy M51 pada Oktober 2020. Baterai ponsel ini tak tanggung-tanggung, yakni sebesar 7.000 mAh, kawan. Samsung bahkan mengklaim ponsel ini bisa bertahan hingga 34 jam saat digunakan untuk menonton streaming.

Sayang, banderolnya yang kelewat mahal (Rp5,5 juta), dianggap sebagian orang seolah mengombinasikan membeli baterai dan powerbank sekaligus.

''Ya memang serasa gue beli hape dan powerbank sekaligus sih, makanya rada mahal,'' kata seorang pengguna yang kebetulan kerabat penulis, Sabtu (20/2/2021).

Kata ''mahal'' kemudian menjadi konsentrasi penulis lebih jauh, sebenarnya apa sih yang dicari orang soal ponsel berbaterai jumbo? Yang pasti, tentunya harganya juga tak terlalu mahal.

''Kalo bisa harga hape-nya terjangkau, tapi awet batrenya,'' harap seorang pengemudi ojek online (ojol), saat penulis tanyakan soal hal ini ketika menumpangnya, Minggu (21/2).

Ungkapannya boleh jadi masuk akal, karena memang profesi ojol membutuhkan ponsel yang tahan lama soal ketahanan baterai, sehingga tak bolak-balik mencoloknya di slot USB--pada motor, atau pada powerbank.

''Hape bisa cepet rusak mas kalo terus dipasang ke powerbank atau ke USB motor,'' tandas pengguna OPPO A15 itu.

Pendek kata, kebutuhan ponsel saat ini tak lagi hanya menyediakan fitur maupun performa ponsel yang mumpuni, namun juga kapsitas baterai menjadi salah satu pertimbangan orang membeli ponsel, terutama bagi mereka para pekerja lapangan.

Langkah Xiaomi Indonesia menangkap momentum

Redmi 9t
info gambar

Penyataan-pernyataan tadi seolah terjawab hari ini, Senin (22/2), ketika Xiaomi Indonesia secara resmi melakukan peluncuran produk barunya, yakni Redmi 9T. Secara umum Redmi 9T memiliki baterai jumbo 6.000 mAh, dan digadang-gadang bakal menjadi rajanya ponsel dengan baterai jumbo di kelas entry-level (harga di bawah Rp3 juta).

Ponsel berbanderol mulai Rp1,9 jutaan (RAM 4 GB/ROM 64 GB) hingga Rp2,3 jutaan (RAM 6 GB/ROM 128 GB) ini sejatinya akan resmi hadir di pasaran pada, Rabu (24/2). Tak berlebihan apabila ponsel ini dianggap akan menjadi jawaban atas kebutuhan ponsel murah namun dengan daya tahan baterai yang lebih dari cukup.

Untuk mencapai kapasitas penuh baterainya, ponsel yang dijual dalam 3-varian warna (abu-abu, biru, dan hijau) ini bisa dicas dengan adapter baterai 18 watt melalui slot type-C.

Alvin Tse, Country Director Xiaomi Indonesia, menjawab pertanyaan penulis saat acara peluncuran virtual (22/2) menyebutkan bahwa kebutuhan akan sebuah ponsel dengan spesifikasi mumpuni juga harus ditunjang dengan daya tahan baterai yang tak kalah hebatnya. Pendek kata, ia ingin bilang bahwa kebutuhan atas hal-hal tadi sudah saatnya mendapat perhatian.

Belum lagi soal harga. Ia bilang, ''Di Indonesia, harga ponsel sangat sensitif.'' Karenanya tak heran dengan bekal baterai jumbo itu, Redmi 9T dilego seterjangkau mungkin.

Selain soal ketersediaan baterai jumbo, Redmi 9T juga menghadirkan tampilan yang kekinian. Salah satunya desain 4-kamera belakangnya yang beresolusi 48 MP (kamera utama), 8 MP (ultrawide), 2 MP (makro), dan 2 MP (bokeh).

Lain itu, ada layar Full HD+ IPS LCD (400 nits) dengan bentangan seluas 6,53 inci yang dilengkapi kamera selfie (8 MP) dengan desain tetesan air (waterdrop). Layar itu kemudian dilindungi lapisan anti gores Gorilla Glass 3.

Soal performanya, ponsel ini dibenamkan cipset Snapdragon 662 (11 nm) bersanding dengan GPU 610 untuk urusan grafis. Bonus lainnya adalah fitur seperti IR Blaster (infra merah) dan dukungan triple slot, yakni untuk dua katu SIM card dan memori eksternal MicroUSD dengan kapasitas maksimal 512 GB.

Isu soal ponsel berbaterai jumbo itu cenderung berat, nyatanya ditepis melalui produk Redmi 9T yang berbobot hanya 198 gram saja.

Dari paparan yang disebutkan di atas, jelas Xiaomi seolah ingin menangkap momentum kebutuhan pengguna terkait ponsel yang dibekali daya tahan baterai yang pas untuk digunakan keseharian, tanpa harus direpotkan dengan membawa powerbank.

Kehadiran Redmi 9T ini tentunya mengikuti langkah sebelumnya melalui peluncuran ponsel POCO M3 (21/1) dengan bekal baterai serupa (6.000 mAh).

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini