Merayakan Keberagaman Bahasa di Indonesia dan Australia

Merayakan Keberagaman Bahasa di Indonesia dan Australia
info gambar utama

Multikulturalisme adalah salah satu hal yang menjadi identitas Indonesia. Dalam hal itu, bahasa adalah fitur yang menonjol mengingat Indonesia memiliki kira-kira 700 bahasa daerah di dalamnya. Hal itulah yang kemudian menginspirasi Lingua Franca Community untuk menggelar Surabaya-Sydney Language Festival 2021.

Acara ini hadir sebagai komitmen Lingua Franca Community, sebagai penyelenggara, untuk menghadirkan festival edukasi bahasa setiap tahunnya sejak tahun pertama penyelenggaraannya pada 2018. Acara ini didahului dengan Call for Essay berskala nasional sebagai pembuka rangkaian acara, sedangkan Surabaya-Sydney Language Festival (SSLF) menjadi event penutup rangkaian acara SLF 2020. Pada dua edisi sebelumnya di 2018 dan 2019, acara ini hanya dilaksanakan di Surabaya dengan tajuk Surabaya Language Festival (SLF).

Mendulang kesuksesan penyelenggaraan SLF dalam dua edisi terakhir, di tahun 2021, Lingua Franca Community berkolaborasi dengan Language Festival Association (LFA) yang berbasis di Sydney, Australia, untuk menyelenggarakan Surabaya-Sydney Language Festival (SSLF). Dengan tema “Celebrating Language Diversity”, SSLF bertujuan mewadahi para aktivis dan pegiat bahasa agar semakin menyemarakkan keberagaman bahasa sekaligus menjembatani diplomasi budaya antara Indonesia dan Australia.

SSLF merupakan salah satu program yang didanai Pemerintah Australia melalui Australian Alumni Grant Scheme (AGS) yang diadministrasikan oleh Australia Awards in Indonesia. Program ini digagas Ario Bimo Utomo, penanggung jawab Lingua Franca Community, yang juga merupakan alumnus University of Sydney, Australia. SSLF memiliki misi untuk mempererat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Australia, terutama mengingat keduanya memiliki kesamaan sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman.

Menurut Daffa Izzulhaq, Ketua Lingua Franca Community, terselenggaranya SSLF di tengah kondisi pandemi merupakan sebuah hal yang cukup luar biasa. "Semoga acara ini bisa makin mempererat hubungan masyarakat Surabaya dan Sydney," ungkap Daffa.

Sesi paparan dari Dmitry Lushnikov, pemateri asal Australia (sumber: Lingua Franca Community)
info gambar

SSLF diselenggarakan secara daring melalui video conference Zoom pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 20-21 Februari 2021. Pembicara utama acara ini adalah Jaky Troy (Linguis University of Sydney), Ghilad Zuckermann (Linguis University of Adelaide), Ivan Lanin (Direktur Narabahasa), serta Jeni Karay (Pendiri Sehati Sebangsa Foundation).

Selain materi utama, ada pula sesi presentasi bahasa. Sesi ini diisi oleh sejumlah relawan yang umumnya merupakan penutur asli. Pemateri dari sisi Surabaya membawakan bahasa daerah di antaranya bahasa Jawa Ngapak, Batak, Madura, Sunda, Dayak, dan Bahasa Isyarat Indonesia. Sementara itu, pemateri dari sisi Sydney membawakan sejumlah bahasa terancam punah seperti bahasa Tangut, Kalasha, Gadigal, dan Pitjantjatjara. Adapun, dua nama terakhir merupakan bagian dari bahasa Aborigin Australia.

Cakra Diaz, Ketua Pelaksana SSLF 2021, turut menambahkan bahwa SSLF merupakan sebuah sumbangsih kecil untuk merayakan keberagaman budaya. "SSLF adalah bukti bahwa upaya konservasi bahasa bukanlah hal yang mustahil," ungkap mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur ini.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini