Upaya Pupuk Kaltim untuk Tekan Penumpukan Sampah

Upaya Pupuk Kaltim untuk Tekan Penumpukan Sampah
info gambar utama

Tak bisa dimungkiri jika persoalan sampah masih menjadi salah satu perhatian serius, salah satunya oleh Pupuk Kaltim, sebagai produsen pupuk urea terbesar di Indonesia. Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional 2021 yang jatuh pada Senin (22/2), Pupuk Kaltim kembali memperkuat komitmennya untuk menekan penumpukan sampah.

Selama tiga tahun terakhir, komitmen tersebut sudah diwujudkan melalui berbagai upaya penanggulangan hingga pemanfaatan sampah agar lebih bernilai ekonomis.

Melalui kerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang, Kalimantan Timur, Pupuk Kaltim menginisiasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bessai Berinta, sebagai wadah pemilahan untuk mengurangi volume sampah yang bakal disalurkan ke TPA Bontang Lestari saban harinya.

Inisiatif ini juga telah diperkuat dengan program Black Soldier Fly (BSF), sebagai inovasi pengelolaan sampah sisa makanan. Rangkaian solusi ini menjawab kondisi produksi sampah di Kota Bontang yang mencapai 80-85 ton per hari di TPA Bontang Lestari.

Pengembangan program bank sampah

TPST adalah bagian dari pengembangan program Bank Sampah Bessai Berinta dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bontang, yang disinergikan mulai tahap perencanaan, implementasi, hingga monitoring dan evaluasi. Sejatinya, gagasan ini telah berjalan sejak 2018, dengan kesinambungan program hingga 2022.

''Program ini memiliki tujuan utama sebagai tempat pengolahan sampah terpadu dan mampu menjadi wadah edukasi pengolahan sampah bagi masyarakat Bontang,'' ungkap VP CSR Pupuk Kaltim Anggono Wijaya, dalam siaran pers perusahaan yang diterima redaksi, Selasa (23/2).

Fokus pengembangan program ini juga merupakan langkah Pupuk Kaltim dalam memberdayakan masyarakat, khususnya di lima Kelurahan dan satu Kecamatan di Bontang, di antaranya;

  • Kelurahan Tanjung Laut,
  • Kelurahan Tanjung Laut Indah,
  • Kelurahan Gunung Elai,
  • Kelurahan Api-api, Kelurahan Bontang Kuala, dan
  • Kecamatan Bontang Utara..

Lain itu, Pupuk Kaltim pun memberi dukungan dengan pengadaan sarana dan prasarana alat pemilah sampah di TPST Bessai Berinta senilai Rp411 Juta, guna meningkatkan kerja sama dalam bentuk pemberdayaan masyarakat yang melibatkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai pengelola serta pemilah sampah di Bontang.

Ada dua jenis sampah yang diolah di TPST, sambung Anggono. Yakni sampah organik untuk dijadikan kompos dan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi--bakal dipilih untuk kemudian dijual.

Pada pertengahan 2020 lalu, implementasi program ditingkatkan melalui inovasi pengolahan sampah sisa makanan dengan budidaya Black Soldier Fly (BSF) maggot, sekaligus memunculkan nilai ekonomi tambahan untuk dikembangkan dengan target peningkatan produksi yang lebih besar.

Hal ini mengingat budidaya BSF mampu menghasilkan berbagai produk seperti kasgot (kompos padat), lindi (kompos cair) serta larva, yang bermanfaat untuk pakan ternak.

Implementasi oleh kelompok binaan

Hingga akhir 2020, pengembangan program melalui inovasi BSF di TPST Bessai Berinta berhasil membina 2 kelompok binaan di Kelurahan Loktuan dan Api-api Bontang Utara, serta mampu mengolah 974.538 Kg sampah sisa makanan dan menyalurkan 16,69 Kg larva maggot untuk kelompok binaan tersebut.

''Program ini akan terus dikembangkan serta direplikasi, untuk meningkatkan nilai ekonomi dengan berbagai inovasi produk turunan,'' tambah Anggono.

Seiring dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2021, Anggono menekankan Pupuk Kaltim akan terus menyikapi berbagai persoalan sampah sekaligus mengupayakan solusi berkesinambungan untuk menekan jumlah penumpukan yang terjadi.

Hal ini sebagai wujud implementasi dukungan Pupuk Kaltim terhadap Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) Nomor 97 Tahun 2017, tentang Pengolahan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis, untuk pengurangan dan penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga tingkat nasional secara terpadu dan berkelanjutan.

''Apalagi Pemerintah secara nasional menargetkan adanya penurunan sampah hingga 30 persen pada 2025, maka perlu merubah mindset terhadap pengelolaan sampah, karena peran masyarakat sangat dibutuhkan dalam mendukung hal tersebut,” pungkasnya

Kota/kabupaten dengan pengelolaan sampah terbaik

Secara umum, dari data yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tercatat 10 kota/kabupaten terbaik soal pengelolaan sampah periode 2017-2018.

Dari data KLHK itu menunjukkan, Kota Serambi Mekah itu mengolah 95 persen dari total 210 ton sampah yang dihasilkan setiap hari. Dari 192 kabupaten/kota di Indonesia yang data sampahnya terekam oleh KLHK, sekira hanya 94 wilayah yang mampu mengelola sampah yang dihasilkan warganya.

kota dengan kelola sampan terbaik

Selain Banda Aceh, ada Kota Surakarta (Solo) dengan persentase pengelolaan sampah sebesar 94 persen, Kabupaten Poso (89 persen), Kota Baubau (89 persen), dan Kota Banjarbaru (87 persen). Nama kota terakhir bahkan berhasil mengelola sampah dan menjadikannya biogas dari timbunan sampah.

Sementara kota/kabupaten terbaik lainnya yang mampu mengelola sampah, adalah;

  • Kota Kediri (85 persen),
  • Kabupaten Dairi (84 persen),
  • Kota Mojokerto (83 persen),
  • Kabupaten Pelalawan (82 persen), dan
  • Kota Tarakan (80 persen).

Nah, dari apa yang dilakukan para aktivis lingkungan serta data yang terekam KLHK, tentunya kita sebagai masyarakat juga harusnya turut berperan untuk menjaga lingkungan menjadi apik dan resik.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini