Membangun Museum Mojoagung, Bentuk Kesadaran akan Sejarah Kecamatan

Membangun Museum Mojoagung, Bentuk Kesadaran akan Sejarah Kecamatan
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Museum Mojoagung menjadi salah satu bentuk kesadaran masyarakat Mojoagung akan pentingnya sejarah dari kecamatannya sendiri. Museum ini terletak di Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Daerah Mojoagung sendiri merupakan daerah yang dilintasi jalan provinsi menuju Surabaya, sekaligus dilintasi oleh garis historis yang sangat panjang, baik itu era Majapahit maupun era kolonial.

Mengutip statuta ICOM yang diadopsi oleh sidang umum ke-22 di Wina, Austria, pada 24 Agustus 2007, museum adalah lembaga nonprofit permanen yang melayani masyarakat, terbuka untuk umum, yang memperoleh, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan warisan berwujud maupun tak berwujud dari kemanusiaan dan lingkungannya untuk tujuan Pendidikan, belajar, dan bersenang-senang.

Lanskap historis menarik inilah yang membuat salah satu organisasi yang berada di Mojoagung, yaitu AirKita ingin menggugah rasa cinta tanah air masyarakat Mojoagung lewat hal kecil, dengan sudut pandang sejarah dan budaya tiap desa masing-masing. Maka, pada tahun 2017, tercetuslah ide Museum Mojoagung, hasil dari pemikiran Agung Priyo Wibowo, Purwanto, dan Zaenal Faudin.

Menurut Purwanto, salah seorang penggagas Museum Mojoagung, dalam film dokumenter peringatan Sumpah Pemuda yang dibuat oleh Rekam Indonesia dan diupload di akun Instagram Pendekar Pancasila, museum Mojoagung ini berawal dari pemikiran. Jombang memiliki banyak tokoh besar kelas nasional maupun internasional, akan tetapi tidak memiliki museum kota. Oleh karena itu, terbentuklah museum tingkat kecamatan dengan nama Museum Mojoagung Bergerak.

Museum ini hadir untuk membentuk pemuda yang cinta atas lokalitas daerahnya. Oleh sebab itu, pengurus museum kini diampu oleh para pemuda Mojoagung yang sekiranya masih berumur belasan tahun dan beberapa ada yang masih sekolah SMA, kuliah, maupun sudah bekerja.

Museum Mojoagung mulai bergerak pada tahun 2017, bersamaan dengan Festival Sholawatan Air Hujan, sebuah festival tahunan yang diadakan oleh AirKita. Museum Mojoagung hanya berbekal tenda doom dan display seadanya, tetapi dapat menggugah mata untuk menelusuri barang-barang yang telah di-display.

Kegiatan apa saja yang telah dilakukan Museum Mojoagung?

Dongeng Mojoagung

foto: Kang Dony
info gambar

Dongeng menjadi sebuah diskusi tentang kesejarahan Mojoagung. Namun, dengan sudut pandang pelaku sejarah sebagai subjek yang bercerita, hal ini sangat berbeda dengan diskusi-diskusi para akademisi yang sangat formal dan saling berbicara tentang data.

Dongeng Mojoagung menggunakan narasumber, si pelaku sejarah dengan menggunakan data-data yang ada. Oleh karena itu, program diskusi ini disebut Dongeng Mojoagung.

“Dongeng Mojoagung ini bertujuan untuk menarik simpati anak muda agar mencintai desanya, mencintai sejarah di sekitarnya,” ucap Agung Priyo Wibowo dalam satu sambutannya pada acara Dongeng Mojoagung di desa Miagan.

Buletin Museum Mojoagung “De Sukodono”

Foto: Alfian Widi Santoso
info gambar

Penamaan buletin ini digagas oleh Agung Priyo Wibowo yang diambil dari penamaan pabrik gula Mojoagung, yaitu Sukodono. Nama yang sama dengan pabrik gula di Lumajang. Buletin ini memiliki 6-7 rubrik dalam setiap edisi. Buletin ini ada sebagai bentuk kegiatan museum di masa pandemi. Setidaknya, hingga artikel ini diterbitkan, sudah ada 4 edisi yang terkumpul.

Display Museum Mojoagung di Sholawatan Air Hujan

Tiap tahun akan selalu diadakan Sholawatan Air Hujan, karena Museum Mojoagung adalah salah satu program yang bersifat kesejarahan milik AirKita. Oleh karena itu, tiap tahunnya Museum Mojoagung turut andil dalam festival tahunan tersebut. Barang-barang yang di-display hanyalah barang-barang umum pada zaman dahulu, seperti kaset pita, kentongan, mesin tik, hingga televisi tabung.

Museum ini menjadi salah satu bentuk solusi dari AirKita untuk menaikkan pamor sejarah lokal yang jarang terjamah oleh masyarakat sekitar, sekaligus sebagai bentuk kecintaan tanah air melalui sekitar. Dengan mempelajari sejarah lokal, Museum Mojoagung juga sebagai wadah pemuda untuk belajar mencintai daerah mereka sendiri.

Para penggagas Museum Mojoagung memiliki harapan agar ide museum kecamatan ini bisa menyebar secara luas, setidaknya dalam lingkup kabupaten atau dapat memantik pemerintah kabupaten untuk membangun museum kota secepatnya. Sebab, Jombang memiliki keberagaman budaya maupun sejarah yang melimpah.

Hingga kini, Museum Mojoagung tetap bergerak melalui media digital saja sebab masih tidak memiliki bangunan secara resmi. Museum ini dibuat dengan dana seadanya dan sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah, maupun masyarakat Mojoagung. Museum ini tentu memerlukan perawatan untuk mengingatkan kita akan masa lalu, sekaligus museum sebagai pustaka masa lalu yang sangat berharga.*

Sumber: Buletin Museum Mojoagung "De Soekodono" Edisi pertama | Video Dokumenter "Pemuda Penggerak Mojoagung" oleh Rekam Indonesia | Wawancara

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AS
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini