Penggunaan Ekosistem IoT di Indonesia Diprediksi Bakal Meningkat

Penggunaan Ekosistem IoT di Indonesia Diprediksi Bakal Meningkat
info gambar utama

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memprediksi bahwa pada 2021 ini pengguna ekosistem Internet of Things (IoT) akan lebih banyak ketimbang pengguna ponsel. Hal itu dikatakan Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN, Anton Setiyawan, yang bilang bahwa perkembangan IoT bakal melonjak.

Secara umum, IoT adalah sebuah konsep atas sebuah objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan internet dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Dan, penetrasi IoT di Indonesia pun mulai marak pada tahun 2018, dengan hadirnya beberapa perangkat, seperti smartwatch misalnya.

Perkembangan perangkat IoT lantas semakin berkembang di Indonesia, seperti yang dikatakan Anton pada Oktober tahun lalu yang menyebut sudah sekira ada 31 miliar perangkat IoT yang terhubung. Dari data tersebut, diperkirakan jumlah ekosistem IoT pada 2021 akan lebih banyak ketimbang jumlah ponsel pintar yang beredar di Indonesia. Pendek kata, perkembangannya akan menjadi sangat masif.

Merujuk data World Bank dan Google, pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia pada periode 2015-2020 menjadi yang paling pesat se-ASEAN. Dari 92 juta pengguna pada 2015 menjadi 215 juta pengguna pada 2020.

pengguna internet tertinggi di ASEAN

Pentingnya basis IoT untuk perusahaan

Apa yang diprediksikan oleh BSSN boleh jadi benar, mengingat perusahaan-perusahaan global mulai melakukan implementasi ekosistem berbasis IoT. Perusahaan melihat, ekosistem IoT dapat membantu dalam mengubah cara kerja dan berbisnis, serta meningkatkan efisiensi operasional.

Sebuah survei yang dilakukan oleh GSMA Intelligence, seperti dilaporkan Forest Interactive disebutkan bahwa hampir 2.900 perusahaan--termasuk perusahaan yang ada di Indonesia--telah melakukan implementasi IoT semasa pandemi, dan mereka memiliki rencana jangka panjang soal pengembangan.

Lain itu, mereka melihat bahwa ekosistem IoT dapat menjadi sebuah transformasi perusahaan guna meningkatkan metode operasional. Diperkirakan, pada 2025 bakal ada 25 miliar perangkat yang terhubung melalui ekosistem IoT.

penetrasi tot di perusahaan
info gambar

Penghargaan perusahaan paling inovatif

Implementasi IoT oleh perusahaan maupun manufaktur global, dibarengi dengan penghargaan yang dilakukan oleh Clarivate Analytics. Mereka telah memilih 100 perusahaan penyedia solusi untuk mendorong dan mengembangkan inovasi berbasis teknologi.

Metodologi yang digunakan untuk menghimpun 100 perusahaan yang masuk dalam daftar itu tak sekadar menghitung dari jumlah paten yang dihasilkan, tapi juga faktor lain, seperti pengaruh dari paten, tingkat keberhasilan dalam pendaftaran paten, serta investasi yang dilakukan untuk mendorong munculnya paten-paten tersebut.

Salah satunya adalah Xiaomi, perusahaan teknologi dengan berbagai perangkat cerdas dan IoT yang masuk dalam daftar 100 lembaga itu sebagai inovator global. Penghargaan ini nyatanya diraih Xiaomi dalam tiga tahun terakhir, yakni 2018, 2019, dan 2020.

Dalam meraih penghargaan itu, Xiaomi bersanding dengan perusahaan-perusahaan lain berbasis telekomunikasi, seperti SK Telecom (Korea Selatan), Qualcomm (Amerika Serikat), dan NTT (Jepang). Lain itu, Xiaomi juga menjadi bagian dari empat perusahaan asal Tiongkok yang masuk dalam daftar, bersanding dengan Huawei, Tencent, dan China Academy of Telecommunications Technology.

Asal tahu saja, pada pada kuartal III (Q3) 2020, jumlah perangkat pintar yang terhubung dengan ekosistem AIoT dari Xiaomi (tak termasuk smartphone dan laptop) mencapai 289 juta unit, dan menjadikan produsen itu sebagai platform perangkat pintar konsumen terbesar di dunia.

Boleh dibilang, pencapaian ini adalah buah dari komitmen, inovasi, dan terus konsisten untuk menjelajahi batas teknologi selama 10 tahun sejak perusahaan berdiri demi meningkatkan kualitas hidup penggunanya melalui produk teknologi.

Xiaomi pun telah memberi peran penting di Indonesia untuk industri perangkat telekomunikasi dengan mendirikan pabrik di Batam, Kepri. Hal tersebut tentunya patut diapresiasi mengingat bakal lebih banyak menyerap tenaga kerja lokal, kandungan komponen lokal (TKDN) yang semakin meningkat, dan tentunya menghadirkan produk dengan harga yang relatif kompetitif.

Laporan ini tentunya menarik benang merah antara tradisi inovasi di dalam perusahaan sebagai salah satu indikator untuk sebuah keberhasilan jangka panjang.

kantor Xiaomi
info gambar

Komitmen dan prestasi berkelanjutan

Perusahaan yang berbasis di Haidian dan Beijing itu nyatanya terus menunjukkan komitmen soal investasi terkait riset dan pengembangan (R&D). Pada tahun lalu saja, investasi R&D diperkirakan menembus 10 miliar yuan (setara Rp22 triliun) dalam rencana merekrut lebih banyak tenaga ahli serta mendaftarkan lebih banyak paten.

Bicara soal paten, pada akhir 2019 Xiaomi tercatat sudah memiliki lebih dari 14.000 paten, dan 16.000 paten tertunda di seluruh dunia. Di antara itu, lebih dari 6.500 paten telah terdaftar di berbagai negara dan wilayah hukum.

Pengakuan tentang inovasi dari Xiaomi juga datang dari Boston Consulting Group, yang memasukkannya ke peringkat 24 dari 50 perusahaan paling inovatif di dunia pada tahun 2020, setelah sebelumnya tercatat pada 2014 dan 2016.

Pada tahun yanga sama pula, Xiaomi telah menjadi produsen ponsel pintar terbesar ke-3 di dunia dan mencatat pertumbuhan sekira 19 persen soal pengapalan ponsel ke seluruh dunia. Demikian seperti dilaporkan IDC, Canalys, dan Counterpoint.

Jenama ini juga masuk dalam daftar Fortune Future 50, atau perusahaan global yang dianggap memiliki potensi cukup menjanjikan di masa depan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini