Sejarah Hari Ini (27 Februari 1992) - Denpasar, Kota Termuda di Bali

Sejarah Hari Ini (27 Februari 1992) - Denpasar, Kota Termuda di Bali
info gambar utama

Kota Denpasar adalah ibu kota Provinsi Bali yang letak geografisnya berada di ketinggian 0-75 meter dari permukaan laut dengan luas wilayah 127,78 kilometer per segi.

GNFI kutip dari artikel Berita Bali yang berjudul "Nama Denpasar Berawal dari Keberadaan Taman di Utara Pasar", disebutkan arti Denpasar yaitu gabungan frasa 'den' yang berarti utara dan 'pasar' berarti pasar.

Asal kata ini menunjukkan asal kota sebagai kota pasar, di tempat yang sekarang disebut Pasar Kumbasari (sebelumnya "Peken Payuk"), di bagian utara kota modern.

Sebelum dibentuk menjadi kota, Denpasar merupakan bagian Kabupaten Badung yang sarat akan sejarah perjuangan rakyat Bali pada masa kolonialisme Belanda dan revolusi nasional.

Status Denpasar sebagai wilayah pemerintahan mengalami peningkatan sejak masa Orde Lama. Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No Des. 52/2/36-136 tanggal 23 Juni 1960, Denpasar ditetapkan sebagai ibu kota bagi Provinsi Bali yang awalnya berkedudukan di Singaraja.

Pada 1978, Denpasar resmi menjadi kota administratif. Kemudian, seiring majunya potensi wilayahnya dalam menyelenggarakan otonomi daerah statusnya berubah menjadi kotamadya berdasarkan Peraturan No. 1/1992, 15 Januari 1992.

Seusai peraturan dicanangkan, penetapan Denpasar sebagai kota baru dilakukan pada 27 Februari 1992 oleh Menteri Dalam Negeri, Rudini.

Reni Widiastuti dalam Kebudayaan dan Pariwisata Bali menyebutkan penetapan itu membuat Denpasar berstatus kota termuda di Bali sekaligus kota budaya.

Daerah yang dulunya pusat kota kerajaan ini pun kini menjadi sibuk, padat, dan riuh karena kegiatan pariwisata yang terus menggeliat.

Sejumlah objek wisata tersedia di beberapa titik kota, sebut saja di antaranya Pantai Sanur, Museum Bali, Pura Sakenan, dan Monumen Bajra Sandhi.

---

Referensi: Beritabali.com | "Pembinaan Disiplin di Lingkungan Masyarakat Kota Denpasar" | Gagas Ulung, "Liburan Murah Meriah di Bali" | Agung Bawantara, Maria Ekaristi, "Jalan-Jalan Bali" | Dayat Suryana, "Bali dan Sekitarnya" | Reni Widiastuti dalam, "Kebudayaan dan Pariwisata Bali"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini