Meko, Surga Kecil Tersembunyi di Adonara yang Timbul Tenggelam

Meko, Surga Kecil Tersembunyi di Adonara yang Timbul Tenggelam
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Flores, sebuah pulau indah yang berada di tengah gugusan Nusa Tenggara Timur. Seakan menggambarkan secara harfiah nama yang dibawa, Flores yang berarti Bunga memang memiliki keindahan luar biasa.

Siapa yang tak kenal Maumere, Bajawa, hingga Labuan Bajo dengan Komodonya yang mendunia? Ya, Flores memang memiliki pesona yang tiada duanya. Bahkan, jika kita menelisik daerah ujung timur Pulau Flores, kita akan menemukan pesona wisata lain yang tak kalah menarik.

Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur ini mungkin belum setenar daerah wisata lain di Pulau Flores. Namun, jika bicara tentang keramahan warga serta keindahan alam, rasanya tak ada yang perlu dipertanyakan lagi.

Berada di ujung timur Flores membuat Larantuka diberkahi masyarakat bahari yang menjaga kelestarian laut sebagai sumber kehidupannya. Pantai-pantai indah berpasir putih menjadi pemandangan memukau bagi wisatawan yang mengunjungi Larantuka.

Pantai berpasir putih tak hanya ditemui di pesisir pulau, keajaiban alam tersebut juga bisa muncul di tengah laut. Pulau pasir timbul Meko yang terletak tidak jauh dari Pulau Adonara adalah keajaiban tersebut. Uniknya, fenomena alam ini hanya bisa terlihat saat air laut sedang surut. Pulau pasir timbul Meko atau yang juga dikenal sebagai Pantai Meko terletak di Dusun Meko, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Pulau Meko, Adonara, Flores Timur

Kata Meko berasal dari kata Beko yang dalam bahasa Adonara berarti "Mengambil dari dalam". Nama ini penuh arti sejarah. Dulunya, sebelum banyak dihuni penduduk, di Pantai Meko terdapat sebuah batu berlubang yang selalu disambangi seorang mama tua asal Desa Sandosi bernama Nogo.

Mama Nogo sering datang ke lubang batu tersebut guna mengambil ikan yang terperangkap di dalamnya saat air surut. Ikan yang banyak tersebut oleh mama Nogo dibawa ke Pasar untuk dibarter dengan jagung titi, singkong, dan bahan makanan lainnya.

Suatu ketika, mama Nogo mendatangi lubang batu tersebut hendak mengambil ikan seperti kebiasaan yang kerap dilakoni selama ini. Saat tangannya hendak mengeluarkan ikan dari dalam lubang tersebut, tangannya tersangkut dan tidak bisa dikeluarkan.

Mendengar teriakan mama Nogo, orang kampung berdatangan dan berusaha menolong. Namun, semua usaha sia-sia dan tangan mama Nogo tetap tak bisa dikeluarkan. Akhirnya, penduduk desa pun membiarkan keadaan mama Nogo dan meninggalkannya sendirian di tempat tersebut.

Keesokan paginya saat air laut surut, mama Nogo tidak ditemukan meski penduduk kampung sudah mencarinya. Beko dalam bahasa Adonara "Nogo Soron Lima", ialah kata yang diplesetkan menjadi Meko dan nama tersebut terbawa hingga kini. Kepercayaan masyarakat Adonara, bila mengambil atau menikmati sesuatu terus menerus tanpa membuat ritual pengucapan syukur, maka akan ada petaka.

Objek wisata tersebut dinamai dengan pasir timbul Meko, lantaran terdapat gundukan pasir di tengah laut seperti pulau kecil tak berpenghuni. Luasnya yang tidak sampai satu kilometer persegi menyuguhkan keindahan alam dengan pasir putih yang sedikit berwarna pink, kontras dengan warna laut yang biru kehijauan.

Pasir warna pink itu berasal dari karang yang hancur. Keindahan ini tampak sempurna dengan dipadu pulau-pulau berwarna hijau yang subur. Tak ada ombak di pantai pasir timbul Meko, hanya riak kecil air laut yang menyapu pasir putih yang lembut. Namun, jika para wisatawan yang datang berkunjung "kurang beruntung", saat air laut pasang, pulau itu akan tenggelam.

Di pulau pasir timbul Meko sudah tersedia beberapa pemandu perahu yang dapat mengantar para wisatawan untuk mengunjungi pulau-pulau lain di sekitar Pulau Meko, yaitu Pulau Watan Peni, Pulau Kroko, dan Pulau Kelelawar.

Pemandangan Pulau Meko dari Pulau Kelelawar

Bagi para wisatawan yang ingin berkunjung ke pulau pasir timbul Meko, harus menempuh perjalanan yang cukup panjang. Ada dua rute bila ingin ke Meko, yakni menggunakan kapal motor carteran atau kapal motor umum. Kapal motor carteran bisa melewati dua rute, yakni melalui barat dari Tajo Gemo (Tanjung Gemuk) hingga ke ujung timur atau lewat timur daerah Sagu baru ke Meko.

Apabila membawa sepeda motor, dari Dermaga Larantuka menyebrang ke Waiwerang lalu turun di dermaga ini dan melaju ke timur arah Witihama hingga tiba di dusun Meko. Lantaran minimnya transportasi umum dan jauhnya perjalanan, membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di dusun Meko.

Dusun Meko dihuni oleh Suku Bajo yang mata pencahariannya sebagai nelayan. Dengan menggunakan sampan kecil, mereka menebar jaring untuk menangkap ikan guna menghidupi kehidupan sehari-hari dari hasil tangkapan ikan.

Di era pandemi seperti saat ini, akses masuk ke Desa Meko tetap diperbolehkan dengan memperhatikan peraturan 3M. Warga dusun di sana bisa mengantarkan wisatawan jika ingin mengunjungi pasir timbul Meko.

Wisatawan dapat menyewa perahu nelayan lokal dengan harga Rp100.000 untuk pulang pergi. Apabila ingin berkeliling ke pulau sekitar Meko, dapat menambah biaya sebesar Rp50.000. Sepanjang perjalanan menuju pulau itu, wisatawan akan disuguhi pemandangan yang tak kalah indah.

Wisatawan akan melintasi Laut Meko yang airnya sangat jernih. Sepanjang perjalanan akan terlihat hamparan terumbu karang warna-warni. Jika melihat ke belakang, akan terlihat sebuah pemandangan yang tak kalah indahnya, yakni Ile (Gunung) Boleng. Di sisi kiri dan kanan wisatawan bisa melihat Bukit Sandosi dan Pulau Lembata. Sementara di depan, terdapat Gunung Api.

Sebagai daerah yang terletak di antara gugusan pulau-pulau, kekayaan hayati Flores Timur memang luar biasa. Berbagai jenis fauna laut serta barisan terumbu karang yang tertata apik dijamin siap mengundang rasa ingin tahu untuk mengeksplorasi lebih jauh lagi.

Lestarinya keindahan bawah laut ini tercipta karena kearifan lokal warga Larantuka yang selalu menjaga keindahan alam, layaknya menjaga diri mereka sendiri. Sejauh mata memandang, hanya putihnya pasir pantai yang membatasi birunya langit serta laut. Berada di sini sambil berjalan menyusuri garis pantai dijamin akan membuat siapapun betah berlama-lama karena keindahannya yang menawan.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NF
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini