Bhinneka Tunggal Ika di Tengah Hiruk Pikuk Tangerang

Bhinneka Tunggal Ika di Tengah Hiruk Pikuk Tangerang
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Kota Tangerang sebagai wilayah yang memiliki latar belakang budaya, industri besar, dan tempat wisata mengundang siapa saja untuk melihat dan menggali potensi Tangerang. Sejarah Tangerang tidak bisa dilepaskan dari empat hal utama yang saling terkait. Keempat hal itu adalah peranan Sungai Cisadane, lokasi Tangerang di tapal batas antara Banten dan Jakarta, status bagian terbesar daerah Tangerang sebagai tanah partikelir dalam jangka waktu lama, dan bertemunya beberapa etnis budaya dalam masyarakat Tangerang.

Salah satunya etnis Tionghoa Tangerang yang memang sulit dipisahkan dengan kawasan Pasar Lama, Kota Lama Tangerang, yang terletak di tepi Sungai Cisadane dan merupakan permukiman pertama masyarakat Tionghoa di sana. Struktur tata ruangnya sangat baik dan itu merupakan cikal bakal terbentuknya Kota Tangerang. Mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cilangkap), dan Gang Gula (Cirarab). Sayangnya, sekarang tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas pecinan.

Kawasan Kota Lama Tangerang termasuk dalam Kawasan Strategis dari sudut Kepentingan Sosial dan Budaya, yaitu kawasan bersejarah seluas kurang lebih 30 hektar yang berada di Kelurahan Sukasari dan Kelurahan Sukarasa. Berdasarkan nilai historisnya, arahan pengembangan di kawasan Kota Lama meliputi revitalisasi Blok Kota Lama atau kawasan heritage, Blok Masjid Agung-Pendopo, dan Blok Stasiun Kereta Api.

Blok Kota Lama adalah kawasan dengan fungsi atau aktivitas yang lebih di dominasi oleh kawasan heritage dengan bangunan cagar budayanya, dan permukiman yang masih mempertahankan karakter jalannya. Di dalam Blok Kota Lama, terdapat dua blok perkampungan etnis, yaitu Blok Perkampungan Tionghoa (pecinan) dan Blok Perkampungan Muslim di sekitar Masjid Kalipasir.

Blok perkampungan pecinan terdiri dari permukiman petak sembilan, kelenteng, dan pasar. Blok perkampungan muslim sendiri terdiri dari Masjid Kalipasir dan deretan rumah penduduk. Tradisi dan budaya lokal yang dipengaruhi oleh etnik Tionghoa masih dilestarikan sampai saat ini. Dengan potensi-potensi tersebut, Kota Lama Tangerang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pusaka, khususnya di Blok Kota Lama.

Sebagai kota yang dihuni oleh penduduk multi etnis, Tangerang banyak meninggalkan bangunan-bangunan dengan nilai historis yang kental. Hal tersebut merupakan modal yang sangat besar bagi konsep pariwisata kota pusaka. Pengembangan Kota Lama Tangerang sebagai destinasi wisata pusaka berpotensi menjadi sebuah new landmark Kota Tangerang yang dapat dipromosikan sebagai daya tarik wisata kota.

Saat ini, di dalam Blok Kota Lama Tangerang terdapat cagar budaya yang ditetapkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang (BP3S) pada 25 Agustus 2011. Di antaranya Kelenteng Boen Tek Bio, Rumah Arsitektur Cina (Museum Benteng Heritage), Masjid Jami, dan Makam Kalipasir.

Kelenteng Boen Tek Bio

Image result for sejarah klenteng boen tek bio
info gambar

Inilah klenteng tertua di Kota Tangerang. Terletak di Jalan Bhakti No. 14 Kota Tangerang, Kelenteng Boen Tek Bio diperkirakan dibangun pada tahun 1684. Kelenteng yang dibangun oleh seorang tuan tanah (kapitan) ini berarti “Boen” yaitu intelektual, “Tek” berarti kebajikan, sementara “Bio” berarti tempat ibadah. Secara etimologi, “Boen tek bio” berarti tempat bagi umat manusia untuk menjadi insan yang penuh kebajikan dan intelektual.

Bangunan ini sempat mengalami renovasi pada tahun 1844. Dalam renovasi, sengaja didatangkan ahli bangunan dari Cina. Dengan begitu, bangunan kelenteng yang pada awalnya hanya berupa rumah menjadi seperti yang bisa dilihat seperti saat ini. Sementara, bangunan di sisi kiri, kanan, dan belakang dibangun kembali. Bangunan sisi kiri-kanan dibuat pada tahun 1875 sedangkan bangunan di bagian belakang dibangun pada tahun 1904.

Salah satu hal yang menarik pada klenteng ini adalah segala aksesori yang ada di dalamnya. Mulai dari tempat sembahyang, papan, serta lainnya berasal dari Cina. Seperti lonceng besar yang terdapat di bagian depan klenteng. Lonceng ini dibuat oleh perusahaan pengecoran Ban Coan Lou di Cina pada tahun 1835. Selain itu, masih di bagian depan, ada pula Singa Batu (Cioh Sai) yang dibuat pada tahun 1827.

Di kelenteng ini, sering diadakan perayaan besar YMS Kwan im Hud Couw atau perayaan arak-arakan Toapekong. Perayaan ini selalu diadakan bertepatan dengan tahun naga, yang terjadi setiap 12 tahun. Perayaan ini dilakukan untuk memperingati kembalinya kimsin Dewi Kwan Im Hud Couw, kimsin Kongco Kha Lam Ya, kimsin Kongco Hok Tek Ceng Sin, dan kimsin Kongco Kwan Seng Tee Kun ke Klenteng BoenTek Bio.

Saat dilakukan renovasi besar-besaran pada 1844, keempat kimsin tersebut dipindahkan ke Klenteng Boen San Bio yang terletak di daerah Pasar Baru, Tangerang. Saat pengembalian keempat kimsin ke Klenteng Boen Tek Bio, dilakukan arah-arakan.

Perayaan pertama YMS Kwan im Hud Couw dilakukan pada tahun 1856. Terakhir kali, perayaan Toapekong diadakan pada 6 Oktober 2012. Perayaan berikutnya akan diadakan pada 2024. Selain itu, setiap tahunnya kelenteng ini pun mengadakan berbagai acara, seperti Pe Cun.

Museum Benteng Heritage

Image result for museum benteng heritage
info gambar

Museum Benteng Heritage merupakan hasil restorasi sebuah bangunan berasitektur tradisional Tionghoa, yang menurut perkiraan dibangun pada pertengahan abad 17 dan salah satu bangunan tertua di Kota Tangerang. Bangunan ini terletak di Jalan Cilame No. 20, Pasar Lama, Tangerang yang juga adalah Zero Point dari Kota Tangerang karena di sinilah cikal bakal pusat Kota Tangerang.

Tindakan restorasi ini berbekal pada kesadaran akan pentingnya melestarikan peninggalan sejarah dari setiap budaya dan tradisi, yang ada di Bumi Persada Nusantara. Untuk itulah pengelola museum tergerak untuk turut berpartisipasi aktif melakukan penyelamatan situs-situs budaya yang masih tercecer sehingga menyelamatkan generasi milenial masa kini dari “Amnesia sejarah”.

Di Museum ini, Kawan akan menemukan banyak hal-hal unik di balik sejarah kehidupan etnik Tionghoa serta berbagai artefak yang menjadi saksi bisu kehidupan masa lalu. Selain menyaksikan hal-hal yang berhubungan dengan budaya Tionghoa beserta artefak-artefak yang berusia ratusan tahun, kita juga dapat memanjakan mata dalam sebuah galeri berisi berbagai macam kamera tua.

Bagi Kawan yang senang dengan musik, Kawan juga akan dicengangkan oleh berbagai koleksi alat pemutar lagu mulai dari yang paling kuno, Edisson phonograph buatan tahun 1890-an sampai zamannya retro.

Masjid Jami Kalipasir

Berkas:Masjid Jami Kalipasir in Tangerang, Banten.jpg
info gambar

Masjid berukuran sekitar 288 meter persegi ini didirikan pada tahun 1700 oleh Tumenggung Pamit Wijaya yang berasal dari Kahuripan Bogor. Awalnya, Tumenggung Pamit Wijaya ingin melakukan syiar Islam dari Kesultanan Cirebon ke wilayah Banten. Namun, ia singgah di Tangerang dan mendirikan sebuah masjid.

Pembangunan masjid dilakukan oleh warga muslim sekitar dan dibantu oleh warga Tionghoa. Pada tahun 1712, kepengurusan masjid dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Raden Bagus Uning Wiradilaga. Masjid ini sudah berkali-kali direnovasi, tetapi bangunannya masih bergaya Arab, Tionghoa, dan Eropa.

Saat ini, hanya dua sisi arsitektur yang masih tetap utuh dipertahankan, yaitu empat tiang di dalam masjid dan kubah kecil bermotif China. Tiang tersebut terbuat dari kayu dan tampak mulai keropos sehingga harus disanggah dengan sejumlah besi.

Selain menjadi tempat ibadah dan syiar agama, Masjid Jami Kalipasir memiliki nilai sejarah yang tinggi. Masjid ini menjadi tempat akulturasi budaya dan saksi perjuangan anak bangsa melawan penjajah. Selain itu, dari segi bangunan, menara masjid ini mirip dengan pagoda Tiongkok.

Ada juga acara arakan minitur perahu yang digelar oleh masjid ini dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad. Arakan perahu dilakukan sebagai simbol tibanya para sesepuh Islam di Sungai Cisadane Kota Tangerang. Arakan tersebut dimulai sejak tahun 1926 dengan mengisi perahu dengan berbagai buah-buahan.

Hal unik lain adalah bentuk saf yang miring dibandingkan dengan arah masjid. Bentuk saf sudah ada sejak awal pendirian masjid. Hal ini dikarenakan jika masjid dibangun sesuai arah kiblat, rumah di sekitar masjid akan terbongkar.

Pasar Lama

Image result for pasar lama tangerang
info gambar

Pasar Lama terletak di dalam kawasan pecinan, tepatnya berada di timur Kelenteng Boen Tek Bio. Para pedagang pasar berjualan di kios atau ruko dan membuka meja lapak di sepanjang koridor Jalan Cilame dan Jalan Bhakti. Aktivitas perdagangan di Pasar Lama dimulai dari subuh hingga siang hari atau sekitar pukul 05.00 WIB sampai 13.00 WIB.

Di Jalan Cilame dan Jalan Bhakti terdapat dua tempat ibadah, yaitu Kelenteng Boen Tek Bio dan Vihara Padumuttara. Di kedua Gang tersebut suasana pecinan masih terasa kental karena terdapat beberapa bangunan khas pecinan, seperti dua bangunan cagar budaya, yaitu Kelenteng Boen Tek Bio dan Museum Benteng Heritage.

Itulah beberapa tempat wisata yang menarik dan khas dari Kabupaten Tangerang. Kaya akan nilai dan esensi sejarah, serta budaya Indonesia yang layak untuk kita kunjungi dan kita lestarikan.*

Referensi:Indonesiakaya | Benteng Heritage | Media Neliti

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HX
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini