Sejarah Hari Ini (1 Maret 1978) - Waduk Sempor, Mata Air Kehidupan Kebumen

Sejarah Hari Ini (1 Maret 1978) - Waduk Sempor, Mata Air Kehidupan Kebumen
info gambar utama

Waduk atau Danau Sempor merupakan danau buatan yang berada di utara Kota Gombong, lebih tepatnya di Desa Sempor, Kebumen, Jawa Tengah.

Waduk ini merupakan mata air penghidupan bagi masyarakat Kebumen dan sekitarnya yang dikenal sebagai masyarakat agraris yang hidup dari hasil pertanian.

Dilihat dari faktor geografisnya, wilayah Kebumen bersinggungan dengan pantai selatan yang umumnya bersuhu tinggi.

Dengan kondisi yang kurang potensial untuk kegiatan bertani inilah membuat petani sangat bergantung pada musim penghujan saja untuk mengairi lahannya.

Setiap tahunnya, kurangnya pasokan air menjadi masalah yang dialami masyarakat Kebumen. Hasilnya, seusai penyerahan kedaulatan, pemerintah Republik Indonesia menggalakkan Proyek Sempor dengan membangun waduk dan bendungan penampung air.

Mengutip dari jurnal Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Waduk Sempor bagi Masyarakat Kebumen Tahun 1958-1978 karya Puji Astuti, pada masa kepemimpinan Presiden Sukarno dilakukanlah penelitian kembali di Desa Sempor dan Desa Kedungwringin dalam rencana pembangunan bendungan tersebut.

Alasan dipilihnya Desa Sempor dan Desa Kedungwringin karena kedua tempat itu dilintasi sungai besar yang mengalir dari Pegunungan Serayu Selatan yakni Sungai Cincingguling dan dua sungai anakan, Sungai Sampang dan Sungai Kedungwringin.

Pada 1958, pembangunan Waduk Sempor akhirnya dilaksanakan dengan harapan setelah jadi bisa menampung air sebanyak 68 juta meter per kubik.

Dalam artikel Star Weekly edisi 10 Juni 1961, Gubernur Jawa Tengah Mochtar menaksir Proyek Sempor bisa selesai pada awal tahun 1962.

Hanya saja, tidak sesuai perkiraan, karena pembangunan waduk memakan waktu yang sangat lama salah satu alasannya ialah pembebasan lahan.

Pembangunan Waduk Sempor semakin lama karena bendungan pengelak (Confferdam) jebol pada 27 November 1967.

Artikel surat kabar Australia, The Canberra Times, mengabarkan bencana banjir bandang di Gombong.
info gambar

"Bendungan Sempor yang belum jadi jebol setelah hujan lebat," tulis The Canberra Times yang mengutip Antara pada 1 Desember 1967.

Dampak bendungan yang jebol kemudian menimbulkan banjir bandang yang menyerang sejumlah dusun pada pukul 21.30 WIB.

Pemerintah lalu bergerak dengan menerjunkan tentara, kepolisian, tenaga sukarela, dan pramuka untuk mencari korban di bawah tumpukan lumpur hasil banjir. Total ada 127 jiwa yang melayang dari kejadian tersebut.

Bendungan Waduk Sempor akhirnya dibangun ulang pada masa pemerintahan Presiden Suharto lewat Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I.

Peresmian Waduk Sempor baru dilakukan pada 1 Maret 1978 lewat tanda tangan di sebuah prasasti oleh Suharto.

"Tirta Udadha Sarwa Adiguna Pariboga, Paradipta, Parimina, Pariwisata," seperti itulah tulisan dalam prasasti itu yang menyebutkan fungsi wair waduk serbaguna, sebagai sumber penghidupan hingga hiburan.

Dalam buku Jejak Langkah Pak Harto disebutkan, Waduk Sempor memiliki peranan yang vital karena menjadi sumber pengairan irigasi bagi 17 ribu hektare sawah di Kebumen dan Karanganyar.

Sesuai yang disebutkan dalam prasasti yang ditandatangani Suharto, Waduk Sempor pantas menjadi tempat wisata.

Hal itu terbukti kini. Meskipun masih kalah dengan sejumlah objek wisata lain di Jawa Tengah, di tempat ini menjadi satu destinasi andalan di Kebumen karena menyajikan panorama yang indah dan sejuk khas daerah pegunungan.

---

Referensi: Star Weekly | The Canberra Times | Tim Dokumentasi Presiden RI, "Jejak Langkah Pak Harto" | Puji Astuti, "Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Waduk Sempor bagi Masyarakat Kebumen Tahun 1958-1978"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini