Menjelajah Sisi Lain Outstadt, Visual Eropa Klasik dalam Kapsul Histori Kota Tua Semarang

Menjelajah Sisi Lain Outstadt, Visual Eropa Klasik dalam Kapsul Histori Kota Tua Semarang
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritaDariKawanGNFI

Siapa yang tidak mengenal Kota Semarang? Ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang terletak di sisi utara Pulau Jawa ini memiliki beragam destinasi menarik untuk dikunjungi. Jika memilih Stasiun Tawang sebagai tempat pemberhentian kereta, Kawan akan merasakan sebuah euforia yang menarik saat mengeksplor kawasan luar gedung stasiun. Ya, utopia nostalgia ala zaman Eropa klasik dalam kapsul histori Kota Tua Semarang.

Outstadt, begitulah kaum Belanda menyebut kawasan ini. Dengan kalkulasi sekitar 50 bangunan yang masih berdiri kokoh di atas tanah seluas 31 hektare, secara geografis, Outstadt tampak seakan terpisah dari daerah sekitarnya sebagai kota tersendiri. Eksistensinya ialah membuat label permukiman “Little Netherland” populer di kalangan inlander pada masa itu.

Karakteristik arsitektur klasik di tahun 1700-an terlihat dari ornamen yang identik dengan kultur Eropa, seperti ukuran pintu dan jendela raksasa, penggunaan kaca-kaca grafit berwarna menyala, konstruksi atap yang unik, hingga keberadaan ruang bawah tanah penuh misteri.

2012-2019: Perjalanan Revitalisasi, Lembaran Baru Bagi Outstadt

Terletak di wilayah administratif Tanjung Emas, Kecamatan Semarang Utara, Outstadt alias Kota Tua Semarang memiliki sejumlah landmark populer favorit para pelancong di Indonesia saat ini. Namun, jika memutar waktu kembali ke 10 atau 20 tahun silam, Outstadt sama sekali bukan sudut yang menyenangkan untuk bercengkrama. Apalagi jika cahaya senja telah tenggelam, orang-orang mungkin akan berpikir ulang untuk menjelajah kawasan ini.

Di bawah tangan dingin wali kota Semarang, Hendrar Prihadi, Outstadt memulai lembaran perjalanannya yang baru. Suntikan dana sejumlah Rp160 miliar dari pemerintah pusat memicu proyek ambisius Hendi, sapaannya. Proyek tersebut mampu mencatat persentase revitalisasi sekitar 80 persen dari 116 bangunan cagar budaya di tahun 2017, dan memugar berbagai infrastruktur yang selama periode 2012 hingga September 2019 lalu.

Penekanan Nominal PBB, Strategi Pemkot Libatkan Pemilik Gedung

Spiegel Bar and Bistro awalnya merupakan sebuah gedung tua terbengkalai yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah kafe dengan arsitektur klasik

Bisa dikatakan ide revolusioner Hendi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesadaran penyelamatan bangunan aset bersejarah dengan gagasan revitalisasi sebenarnya telah berikhtiar di antara masyarakat Semarang, terkhususnya para pemilik gedung tua. Namun, lagi-lagi dana finansial untuk perawatan yang masif menjadi problematika klasik bagi mereka.

Ada sebagian pemilik gedung tua yang terus merawat estetika properti yang dimilikinya. Akan tetapi, tidak jarang mereka bersikap acuh tak acuh, bahkan lebih memilih untuk merobohkan konstruksi bangunan Outstadt agar tidak terdaftar dalam aset lindungan pemerintah, untuk kemudian dapat dijual kembali dengan harga menjanjikan.

Kekuatan ikon arsitektur lawas Eropa Klasik merupakan daya tarik tersendiri bagi pelancong di Outstadt. Oleh karena itu, Hendi memandang bahwa keterlibatan pemilik gedung menjadi strategi yang sangat penting dalam usaha menghidupkan kembali ‘jiwa’ dari seluruh kawasan historikal tersebut.

Maka dari itu, sebagai bentuk realisasi Piagam Komitmen Kota Pusaka yang diteken Hendi di awal pembangunan proyek Outstadt di tahun 2012, pemerintah Kota Semarang secara terbuka memberikan insentif keringanan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 50% kepada pemilik gedung tua yang bersedia memperbaiki dan merawat properti mereka.

Selain itu, Hevearita menyebut bahwa Pemkot juga menawarkan resolusi berupa opsi pencarian investor baru untuk mengelola gedung mereka apabila ada pemilik gedung yang terkendala biaya perawatan.

2020-2021: Raih FIABCI-REI Excellence Award, Oustadt Catat Prestasi Perdana di Pembuka Tahun.

Sempat dinilai visioner, pembangunan proyek revitalisasi outstadt karya pemerintah Kota Semarang ternyata mendapat lirikan di mata Federasi Realestat Dunia (FIABCI) Chapter Indonesia dan Asosiasi Realestat Indonesia (REI). Kedua himpunan pengusaha properti ini sepakat untuk menganugerahi kawasan Kota Tua Semarang dengan titel gold winner, kategori Heritage dalam ajang FIABCI Indonesia-REI Excellence Awards 2020.

Proses penganugerahan trofi penghargaan telah diselenggarakan secara daring dan luring pada Senin (25/1) lalu. Trofi tersebut diserahkan langsung kepada inisiator proyek Kota Tua sekaligus Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi oleh Ketua Badan Diklat DPP REI yang juga menjabat sebagai Ketua BPO DPD REI Jawa Tengah, MR Priyanto.

Dilansir Media Indonesia, dalam kesempatan tersebut, Presiden FIABCI Indonesia, Budiarsa Sastrawinata menjelaskan bahwa penganugerahan penghargaan itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju kompetisi persaingan tingkat internasional, yaitu FIABCI Prix d’Excellence Award 2021. Maka dari itu, ia berharap seluruh pemenang FIABCI Indonesia – REI Excellence Award 2020, termasuk pemerintah daerah Jawa Tengah, dapat mempersiapkan diri untuk maju dan mengharumkan nama Indonesia dalam forum global.

“Penghargaan seperti ini sangat diperlukan sebagai bentuk apresiasi kepada pelaku usaha di bidang properti dan pemerintah daerah untuk menghasilkan karya dan program yang berkualitas dalam mendorong investasi.” ungkap Budi.

Catatan Sejarawan: Proyek Outstadt Tidak Hargai Keautentikan Sejarah

Meskipun mendapat berbagai apresiasi, Outstadt sebagai proyek ambisius yang digagas Hendi juga tidak luput dari kritik kontradiktif, terutama di kalangan sejarawan. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan BBC Indonesia, Rukardi selaku Koordinator Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang mengeklaim bahwa proses peremajaan visual Outstadt dianggap mengubah autentisitas aset sejarah. Hal ini dibuktikan dengan beberapa konstruksi bangunan yang sudah direnovasi, tetapi kemudian arsitekturnya berubah, bahkan berbeda dari aslinya.

"Konservasi (bangunan cagar budaya, red) itu 'kan mengembalikan sesuai dengan aslinya, tetapi yang terjadi, justru lebih banyak polesannya," tegas Rukadi.

Ia juga menuturkan bahwa pegiat sejarah menganggap ornamen pembatas jalan, lampu-lampu, dan gardu telepon sebagai elemen “salah konteks”.

Pengajuan Warisan UNESCO, Sudah Layakkah Outstadt?

Menjadi salah satu warisan arsitektur bersejarah di Semarang, keberadaan Outstadt kini rentan terhadap berbagai ancaman lokal. Posisi geografis Kota Semarang di garis pantai utara Jawa cenderung berisiko terhadap kenaikan muka air laut di kawasan pesisir. Kondisi yang disebabkan oleh kerusakan ekologis ini kerap merendam kawasan Little Netherland dalam ganasnya banjir rob, seperti yang baru saja terjadi dalam kurun waktu 5 hingga 7 Februari 2021 lalu.

Di sisi lain, pola hidup masyarakat posmodernisme seringkali mendorong keinginan para pemilik gedung tua di kawasan Outstadt untuk mengubah desain bangunan klasik menjadi lebih modern sekaligus menghilangkan kesan autentisitas di dalamnya.

Namun, tampaknya berbagai catatan dan ancaman lokal ini tetap tidak menyurutkan ambisi Hendi untuk terus berusaha mencatatkan Outstadt menjadi salah satu respresentatif Indonesia sebagai UNESCO World Heritage di tahun 2021.

Mengutip CNN Indonesia, UNESCO World Heritage sendiri merupakan program PBB bertujuan untuk melestarikan dan menjaga situs warisan budaya dan alam yang bereksistensi secara global di seluruh dunia.

Dengan pendelegasian kawasan Outstadt sebagai bagian dari ikon berserjarah UNESCO World Heritage, kesempatan untuk meningkatkan engagement turis asing akan semakin terbuka lebar bagi Indonesia, khususnya dalam rangka memperkenalkan kultur Kota Semarang.*

Referensi: Seputar Semarang | Native Indonesia | CNN Indonesia | Semarang City Heritage | BBC Indonesia | Media Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CN
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini