KRL Yogyakarta-Solo Pakai Kereta "Berkain Batik" yang Ramah Lingkungan

KRL Yogyakarta-Solo Pakai Kereta "Berkain Batik" yang Ramah Lingkungan
info gambar utama

Sejak awal bulan Februari 2021, Kereta Rel Listrik (KRL) mulai beroperasi di lintas Yogyakarta-Solo/Surakarta (disingkat Joglo). Sebagai perkenalan, dalam sepekan penumpang cukup membayar Rp1 untuk sekali perjalanan.

Kehadiran KRL yang dioperatori PT Kereta Commuter Indonesia menggeser peran kereta bermesin diesel Prambanan Ekspres (Prameks) yang sudah beroperasi sejak 1994. Namun, Prameks tetap membuka layanan yakni pulang-pergi antara Kutoarjo-Yogyakarta per 10 Februari 2021.

Pada Desember 2020, satu set rangkaian KRL seri JR250 dikirimkan dari Jakarta ke Yogyakarta.
info gambar

Setelah sebulan melakukan percobaan, akhirnya KRL diresmikan pada 1 Maret 2021. Peresmiannya dilakukan langsung Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), di Stasiun Tugu Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dukung Transportasi Ramah Lingkungan

Kehadiran KRL di jalur Yogyakarta-Solo disambut baik Jokowi. Menurutnya, konversi dari kereta bertenaga diesel yang memakai bahan bakar solar menjadi kereta berenergi listrik dianggap baik bagi lingkungan.

"Ini adalah sebuah transportasi massal yang ramah lingkungan. Saya kira moda transportasi di negara kita ke depan harus semuanya mengarah kepada angkutan yang ramah lingkungan," kata Jokowi lewat siaran pers.

Beroperasinya rute Kereta Rel Listrik Yogyakarta-Solo tersebut merupakan hasil dari kegiatan elektrifikasi jalur kereta api lintas Yogyakarta-Solo yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional. Lintasan tersebut dimulai dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan berakhir di Stasiun Solo Balapan dengan 11 stasiun pemberhentian dan memiliki panjang lintasan keseluruhan kurang lebih 60 kilometer.

Presiden berharap agar hadirnya KRL lintas Yogyakarta-Solo tersebut dapat semakin meningkatkan kualitas pelayanan transportasi massal kepada para pengguna sekaligus meningkatkan sektor pariwisata dan perekonomian daerah.

"Kita harapkan ini bisa membantu baik mobilisasi orang maupun barang dari Yogyakarta ke Solo, Solo ke Yogya, dan juga meningkatkan pariwisata dan ekonomi kita," ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara beserta rombongan terbatas sekaligus meninjau dan menjajal KRL Lintas Yogyakarta-Solo dengan pengaturan dan pelaksanaan protokol kesehatan selama perjalanan berlangsung.

Presiden Jokowi sedang berbincang di dalam KRL Joglo.
info gambar

Tak hanya Jokowi, Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga memberikan penilaian positif mengenai hadirnya KRL di lintas Yogya-Solo. Ia mengatakan keberadaan KRL Yogyakarta - Solo sangat penting bagi sebagian masyarakat bepergian di dua wilayah tersebut secara rutin.

"Terima kasih kehadiran Presiden untuk resmikan KRL Jogja-Solo, di mana para penumpang yang bekerja dan bersekolah ke Solo maupun Jogja sedemikian besar," ujar Sultan HB X dalam siaran langsung di akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 1 Maret 2021. "Keberadaan Prameks atau KRL sangat penting bagi sebagian masyarakat yang setiap hari sampai sore mondar mandir Jogja-Solo."

Dengan diresmikannya KRL Jogja-Solo tersebut, Sultan HB X berharap moda transportasi itu menjadi pilihan yang baik bagi masyarakat dari segi ketepatan waktu. Pasalnya, masyarakat membutuhkannya untuk mengejar kegiatan belajar, kuliah, maupun bekerja.

"Dengan harapan demikian, semoga masyarakat dengan pelayanan KRL ini bisa lebih baik dirasakan," ujar Sultan.

Pakai KRL "Berkain Batik" Buatan PT INKA

KRL yang dipakai lintas Yogya-Solo merupakan buatan Jepang seri JR20 dan KRL KfW yang merupakan hasil konsorsium antara PT INKA Madiun dengan perusahaan transportasi asal Jerman, Bombardier.

Khusus untuk KRL KfW, kereta tersebut dibuat PT INKA berdasarkan pesanan Kemenhub pada 2008. Saat itu dana pembuatan kereta didapat dari bank milik Pemerintah Federal Jerman, yakni Kreditanstalt für Wiederaufbau atau KfW, karena itu KRL tersebut identik dengan nama KRL KfW. "KRL tersebut dulunya dioperasikan di area Jabodetabek sekitar tahun 2013. Oleh Kementerian Perhubungan kemudian direvitalisasi sebanyak 10 trainset," ujar Bambang Ramadhiarto dalam keterangannya.

Kereta yang beroperasi di lintas Yogya-Solo jumlahnya terdiri dari empat kereta dalam satu rangkaian. Saat kondisi normal, satu trainset KRL Jogja-Solo dapat menampung 670 penumpang baik penumpang duduk maupun berdiri. Sedangkan pada kondisi penuh (di luar masa pandemi), KRL Jogja-Solo ini dapat menampung hingga 954 penumpang. Dari sisi kecepatan, KRL bisa mengantar penumpang 10 menit lebih cepat dibanding kereta pendahulunya.

Corak batik terdapat di eksterior kereta.
info gambar

Baik KfW dan JR 205, pada bagian interior dan livery/eksteriornya telah ditambahkan motif batik yang menggambarkan kearifan lokal Yogya dan Solo. Motif yang ditampilkan adalah motif batik Parang Barong, dengan dominan warna merah untuk menunjukkan ciri khas wilayah Kota Yogya dan Solo, yang merupakan sentra kerajinan batik.

KRL Jogja-Solo yang memiliki jarak 59.337 kilometer ini melayani 20 perjalanan dan berhenti di sebelas stasiun, yakni; Stasiun Yogyakarta, Stasiun Lempuyangan, Stasiun Maguwo, Stasiun Brambanan, Stasiun Srowot, Stasiun Klaten, Stasiun Ceper, Stasiun Delanggu, Stasiun Gawok, Stasiun Purwosari, dan Stasiun Solo Balapan. Jumlah pemberhentian KRL meningkat dari kereta Prameks yang hanya mengangkut dan menurunkan penumpang di tujuh stasiun.

--

Referensi: Tribunnews | Tempo

Konten di atas sebagian memakai konten yang ada di Wikipedia. Untuk melihat yang lainnya, silakan klik tautan berikut Arsip Wikipedia. Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini