Kepingan Jejak Bosscha, Tuan Dermawan di Tanah Pasundan

Kepingan Jejak Bosscha, Tuan Dermawan di Tanah Pasundan
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Ketika Kawan mendengar kata Belanda, mungkin hal yang terbesit pertama kali adalah penjajahan, kekerasan, dan kerja paksa. Namun ternyata, ada lho orang Belanda yang datang ke tanah pribumi dengan meninggalkan jasa mulia. Bahkan, manfaatnya pun bisa dirasakan hingga detik ini.

Orang Belanda keturunan Jerman ini bernama Karel Albert Rudolf Bosscha. Sosok yang dijuluki ‘Juragan Teh Malabar’ ini datang ke Indonesia pada tahun 1887 dan mempelajari budidaya teh di Sinagar Sukabumi, Jawa Barat. Lalu, apa saja sih warisan mulia yang ditinggalkan Bosscha? Yuk, kita simak!

1. Mendedikasikan Dirinya di Perkebunan Teh Malabar Hingga Akhir Hayatnya

Perkebunan Teh Malabar
info gambar

Sebagai ahli di bidang perkebunan, Bosscha mencari tanah yang cocok untuk mengembangkan perkebunan teh. Hingga akhirnya, Bosscha singgah di Malabar, yang saat itu masih berupa hutan belantara. Pada tahun 1896, Bosscha memutuskan untuk membabat hutan Malabar dan mendirikan perkebunan teh disana.

Dilansir dari liputan6.com, luas Perkebunan Teh Malabar ini mencapai 1.300 hektar. Perkembangan ini tentu saja dilakukan dengan kerja keras dan kedispilinannya. Selain itu, beliau juga bekerja sama dengan pribumi dalam mengembangkan perkebunan ini.

Bukan dengan sistem paksa yang keji, justru Bosscha diingat sebagai sosok yang dermawan dan baik hati. Menurut masyarakat setempat, Bosscha selalu memberikan waktu istirahat yang cukup bagi pekerjanya.

Saking cintanya dengan Malabar, Bosscha berwasiat untuk dikebumikan di lokasi perkebunan yang belokasi di Bandung Selatan ini. Jika Kawan berkesempatan datang ke sini, siap-siap untuk terpesona dengan keindahan alam dan sejuknya udara perkebunan Malabar.

2. Mendirikan Sekolah Dasar Bernama Vervoloog Malabar

Vervoolog Malabar
info gambar

Vervoloog Malabar atau Sekolah Rakyat Malabar dibangun atas kebaikan Sang Juragan Teh sebagai bentuk kepeduliannya pada pribumi. Meskipun Bosscha memilih untuk tidak menikah dan tidak mempunyai keturunan, sosok budiman ini tak ingin anak-anak pegawainya tumbuh menjadi manusia yang buta huruf.

Menurut ayobandung.com, sekolah rakyat ini didirikan pada tahun 1901, dengan mendatangkan guru-guru yang ditugaskan untuk mengajarkan baca tulis. Tak hanya pelajaran formal, Vervoolog Malabar juga dibangun dengan mengedepankan nilai-nilai inklusivitas.

Disini, anak-anak pribumi dan Belanda berbaur dalam satu kelas yang sama tanpa sekat. Hal ini dilakukan untuk menanamkan nilai kesetaran dan hak yang sama dalam ilmu pengetahuan. Meskipun kini tak lagi digunakan, bangunan Vervoolog Malabar tetapi gagah berdiri dan menjadi cagar budaya dibawah kewenangan PTPN VIII dan Pemerintah Kabupaten Bandung.

Merintis Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha
info gambar

Selain ahli bidang perkebunan, Bosscha juga merupakan pemerhati ilmu pengetahuan, khususnya astronomi. Demi obsesinya pada ilmu perbintangan, pada pertengahan tahun 1920, Bosscha merintis dan menyandang dana pembangunan kawasan Observatoriun Bosscha.

Dikutip dari tirto.id, Boscha dan kolega-koleganya mulai mengusahakan pembelian teropong bintang raksasa yang mahal harganya dari Jerman. Mereka membeli peralatan mewah kala itu di tengah hancurnya ekonomi Jerman yang telah dipecundangi dalam Perang Dunia I dan Perjanjian Versailles.

Pembangunan observatorium ini rampung pada tahun 1928. Teropong yang ada di oservatorium ini bisa dibilang teropong bintang pertama dan tertua di Indonesia. Manfaatnya pun masih bisa kita rasakan hingga sekarang. Sayangnya, Bosscha sendiri tidak sempat menyaksikan bintang melalui observatorium yang telah didirikannya itu karena meninggal beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan warga utama Kota Bandung.

Menurut Edi Khandani di laman Bosscha.id, pasca meninggalnya Bosscha, awalnya observatorium ini dikelola oleh perhimpunan bintang Hindia-Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) dan perhimpunan ini berhasilkan menerbitkan publikasi internasionalnya pada tahun 1933. Singkat cerita, pada tahun 1951 NISV memberikan observatorium ini kepada pemerintah Indonesia yang hingga kini dikelola oleh Institut Teknologi Bandung (ITB).

Makam Bosscha di Areal Perkebunan Teh Malabar

Makam Bosscha
info gambar

Pada bulan November tahun 1928, sosok yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi ini tutup usia dikarenakan penyakit tetanus yang dideritanya. Sesuai wasiat Bosscha, jasadnya disemayamkan di tengah perkebunan Malabar.

Makamnya dikelilingi oleh pohon tua tinggi menjulang seluas 8,3 hektar dengan ditemani kicauan burung. Bangunannya cukup megah, dibalut warna putih bersih yang kini agak kusam dimakan waktu. Makamnya bergaya Eropa dengan kubah putih menyerupai topi yang disangga dengan delapan tiang. Konon, bentuk atap ini mirip dengan topi yang biasa dikenakan ‘Juragan Teh Malabar’ ini saat mengawasi para pekerjanya di perkebunan teh yang berada di ketinggian 1500 mdpl.

Kawan bisa berkunjung ke makam Bosscha tanpa karcis, hanya membayar seikhlasnya pada juru kunci. Sayangnya, akses menuju makam Bosscha ini cukup terjal dan jalannya tidak begitu bagus. Tetapi, jalanan terjal itu akan terbayarkan ketika Kawan sampai di sana. Hamparan kebun teh bak permadani siap menyambut Kawan.

Sebenarnya, masih banyak jasa yang Bosscha torehkan di Tanah Pasundan ini. Seperti yang tertulis di prasasti depan makamnya, beliau juga mendirikan Technische Hoogeschool te Bandoeng atau sekarang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung. ‘Sang Tuan’ juga berkontribusi dalam pembangunan Gedung Condordia alias Gedung Merdeka.*

Referensi:Media Indonesia | Tirto | Kompasiana

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini