Cicipi Rempeyek Laron, Camilan Asal Jawa Tengah

Cicipi Rempeyek Laron, Camilan Asal Jawa Tengah
info gambar utama

Musim hujan merupakan waktu bagi kawan kecil kita keluar dari sarangnya untuk menghangatkan tubuhnya, sekaligus mencari pasangan. Siapa lagi kalau bukan laron? Sekilas, laron mungkin terlihat seperti semut yang berukuran besar. Namun kenyataanya, laron merupakan bagian dari rayap, yaitu rayap kasta reproduktif yang bertugas untuk berkembang biak.

Kehadiran laron di rumah-rumah seringkali dianggap mengganggu. Jumlahnya yang banyak dan sisa-sisa sayapnya yang bertebaran di lantai membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman.

Tidak hanya itu, apabila laron ini berhasil menemukan pasangan, hal tersebut dapat memicu munculnya koloni baru rayap di sekitar rumah. Koloni ini nantinya berisiko menyerang bagian-bagian rumah, ataupun alat-alat rumah tangga yang terbuat dari kayu.

Namun tidak perlu khawatir, kehadiran laron di rumah ini dapat diatasi dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan cara dikonsumsi, seperti yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa daerah di Jawa Tengah.

Rempeyek Laron | Wiradesa.co
Rempeyek Laron | Sumber: Wiradesa.co

Di sana, laron yang biasa mengganggu ini disulap menjadi santapan yang gurih sekaligus nikmat, yaitu rempeyek. Apabila biasanya rempeyek menggunakan kacang atau teri sebagai isiannya, rempeyek yang satu ini justru menggunakan laron.

Laron-laron itu ditangkap dengan memanfaatkan ember berisi air yang diletakkan di bawah sumber cahaya, seperti lampu atau lilin. Setelah itu, laron dengan sendirinya akan menghampiri sumber cahaya, kemudian jatuh dan terperangkap di dalam ember berisi air tersebut.

Sementara, proses pembuatan rempeyek ini sama saja dengan rempeyek pada umumnya. Tepung beras yang sudah diencerkan, dicampur dengan bumbu-bumbu, seperti garam dan bawang putih. Kemudian, ditambahkan laron yang sudah dibersihkan dari sayapnya, lalu digoreng.

Rempeyek Laron | Cookpad.com
Rempeyek Laron | Sumber: Cookpad.com

Bagi sebagian orang, mengonsumsi laron mungkin menjadi hal yang tidak lazim dan dianggap ekstrim. Terlebih, serangga diketahui memiliki protein yang dapat memicu alergi terhadap beberapa orang yang tidak cocok.

Namun, di samping hal itu, laron juga diketahui memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, seperti protein, lemak, vitamin, maupun mineral. Bahkan, laron ini telah menjadi makanan yang umum bagi masyarakat Afrika Selatan. Mereka biasanya mengonsumsi laron dengan cara disangrai.

Olahan Laron | Rove.me
Olahan Laron | Sumber: Rove.me

Dengan mengonsumsi laron seperti ini, tanpa sadar, masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Tengah, telah mengendalikan rayap di sekitar rumahnya dengan mengurangi kemungkinan munculnya koloni baru rayap. Apakah Kawan tertarik untuk mencobanya?*

Referensi: Kangen Desa | Researchgate

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini