Kehebatan Insinyur Indonesia yang Ambil Bagian dalam Pembuatan Roket NASA

Kehebatan Insinyur Indonesia yang Ambil Bagian dalam Pembuatan Roket NASA
info gambar utama

Amerika Serikat menjadi salah satu kiblat dalam urusan ilmu pengetahuan astronomi. Adapun badan penerbangan dan antariksa mereka, National Aeronautics and Space Administration (NASA), sering menjadi tempat tujuan para akademisi bidang sains dari negara manapun yang berambisi mencurahkan kemampuan yang dimilikinya.

Tentu Indonesia tidak ketinggalan. Bahkan pada 1985, Pratiwi Pujilestari Sudarmono pernah terpilih untuk ambil bagian dalam misi peluncuran satelit Palapa B-3 dengan Wahana Antariksa NASA STS-61-H. Kala itu Pratiwi ditunjuk sebagai spesialis muatan. Sayangnya misi tersebut urung dijalankan karena NASA tertimpa musibah ledakan pesawat Challenger yang menewaskan 7 awak astronotnya pada 28 Januari 1986.

Ketika perkembangan teknologi terus maju, anak Indonesia kembali dipercaya oleh NASA. Sosok bernama Marko Djuliarso menjadi salah satu yang tengah disorot karena punya andil dalam misi luar angkasa mereka. Tidak seperti Pratiwi yang hendak diterbangkan ke luar angkasa, tetapi Marko berperan sebagai perancang roket peluncur pesawatnya.

Lamar 100 Pekerjaan, Berjodoh dengan Boeing

Sejumput kisah Marko Djuliarso mungkin sebelas dua belas seperti tokoh Doel di sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Sama-sama bergelar insinyur, tetapi ada masa di mana keduanya tidak menemui peruntungannya dalam soal mendapatkan pekerjaan.

Pada 2009, ketika kondisi ekonomi tidak terlalu baik, Marko merasakan sulitnya mencari pekerjaan. "Jadi saya banyak melamar kerjaan di AS. Selama 6 bulan kira-kira setiap minggu saya mungkin melamar 100 kerjaan," kata Marko dikutip GNFI dari VOA Indonesia. Akhirnya, Marko mendapatkan tawaran dari perusahaan penerbangan Boeing saat ia telah bekerja di perusahaan produksi jendela di Dallas, AS.

"Saya juga udah lupa pernah wawancara sama Boeing, pernah lamar ke Boeing," ucapnya. "Jadi, setelah dipikir-pikir sedikit, saya dan Vieda, istri saya memutuskan ambil kerjaan di Boeing dan pindah ke daerah Seattle, Washington," ujarnya. Selama di Boeing, Marko sudah pernah terlibat dalam proyek pesawat komersial 787 dan 777 di Seattle dan Italia.

Peluncuran roket oleh NASA.
info gambar

Dikutip dari akun Linkedin-nya, Marko meraih gelar pendidikannya di tiga universitas di luar negeri, yakni Universitas Tennessee, Universitas Teknologi Nanyang Singapura, dan Universitas Southern California. Ia sudah mempunyai pengalaman bekerja yang mentereng.

Di Boeing, pria yang mengaku tidak ada pikiran bercita-cita berkarier di bidang roket ini sudah mengabdi selama 10 tahun 6 bulan. Ia menjelaskan kemampuannya di mana ia mengaku terampil dalam Time Study, Value Stream Mapping, Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), Systems Engineering, dan Six Sigma. Marko juga seorang profesional operasi yang kuat dengan gelar Master of Science yang berfokus pada Sistem Arsitek dan Teknik dari University of Southern California.

Proyek Pembuatan Roket ke Bulan

Terbaru, Marko sedang menggarap proyek roket untuk NASA di New Orleans dengan misi menerbangkan astronot ke Bulan pada 2024. "Untuk launch pertama ke Bulan, tapi kita ada target (jangka jauh) ke Mars," kata pria satu anak ini. Menurutnya, roket ini disebut sebagai roket NASA paling kuat dan "paling keren".

NASA sendiri sudah mengumumkan rencana ke bulan sejak September 2020. Proyek bernama Artemis Plan atau Misi Artemis III tersebut akan melibatkan astronot perempuan pertama yang akan didaratkan di permukaan bulan.

Dalam laporan setebal 188 halaman, NASA menetapkan tujuh tujuan sains untuk Misi Artemis III, termasuk memahami proses yang berkenaan dengan planet. Maksimal para astronot berada di bulan hanya enam setengah hari. Laporan tersebut juga memberikan sumber daya bagi perencana misi yang akan mengembangkan aktivitas mereka di permukaan.

NASA berharap tim bisa membawa 85 kilogram sampel Bulan, baik dari permukaan maupun bawah permukaan Bulan. Jumlah tersebut beratnya lebih dari yang pernah dibawa pulang misi Apollo antara tahun 1969-1972, yakni sekitar 64 kilogram. ''Bulan memiliki potensi ilmiah yang sangat besar dan para astronot akan membantu kita memperoleh wawasan itu,'' ujar Thomas Zurbuchen, administrator asosiasi untuk Direktorat Misi Sains NASA, dikutip dari AFP.

---

Referensi: NASA | Kompas | VOA Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

DI
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini