Tradisi Tubo di Grobogan, Dilema Kontra dan Budaya

Tradisi Tubo di Grobogan, Dilema Kontra dan Budaya
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritaDaerahdariKawan

Tradisi Tubo sering diadakan di kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ribuan warga tepatnya di Desa Ngombak dan Desa Karanglangu rutin menggelar tradisi ini yang berlangsung setiap dua tahun sekali. Sekitar pukul 11.00, warga dari dua desa tersebut berbondong-bondong menuju Sungai Tuntang yang mengalir deras dan membelah dua desa tersebut.

Tokoh masyarakat setempat mengadakan ritual berdoa setelah lengkapnya bahan-bahan ritualan adat yang akan disebarkan di sungai sebelum tradisi dimulai. Bahan alami dari nenek moyang warga sekitar kemudian digunakan untuk meracuni ikan di sungai. Racun spesifik ikan itu diberi nama “Racun Tubo”.

Tubo sendiri sebenarnya kata lain dari tuba. Tuba, dalam bahasa ilmiah disebut derris elliptica, jenis tumbuhan yang biasa digunakan sebagai peracun ikan. Akar tanaman Tuba ini mengandung rotenone, racun kuat untuk ikan dan serangga.

Dua kendi berisi racun tanaman tuba yang telah selesai dibacai doa kemudian disalurkan ke Sungai Tuntang. Ramuan racun tersebut dicampur dengan singkong, telur, dan nasi. Usai berdoa, beberapa perwakilan masyarakat terjun ke sungai dan memecahkan kendi tersebut ke tengah sungai. Beberapa jam kemudian, ikan-ikan di sungai tersebut telah teracuni dan terapung di permukaan air.

Warga berbaris sepanjang 3 kilometer di sekitar sungai. Tanpa peringatan, ribuan orang yang menunggu di pinggir sungai berenang di Sungai Tuntang untuk memperebutkan ikan. Mereka adalah warga dua desa yang berseberangan atau dipisahkan oleh sungai yang terdiri dari anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Sejumlah pemuda pun terlihat antusias berenang ke tengah derasnya sungai sedalam 1,5 meter untuk mendapatkan ikan.

Warga berbondong berebut ikan di Sungai | Foto: Travel Kompas
info gambar

Beberapa penduduk desa menggunakan jaring, keranjang, atau tangan kosong untuk menangkap dan mengumpulkan ikan yang hampir mati. Mereka menceburkan diri ke sungai dengan kedalaman 80 meter untuk memperebutkan ikan di sungai tersebut.

Tradisi Tubo ini sudah menjadi tujuan wisata. Warga majemuk dari berbagai penjuru daerah rela melihatnya. Semuanya selalu antusias untuk melakukan itu. Ikan yang didapat dianggap milik bersama dan menjadi makanan semua orang. Tradisi ini termasuk dalam perilaku budaya karena dilakukan dua tahun sekali untuk memperingati nenek moyang desa, dan telah menjadi kebiasaan turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Latar Belakang Cerita Rakyat

Tradisi Tubo sangat erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat terhadap sosok Kedhana Kedhini, yaitu Reden Sutejo dan Roro Musiah yang dipercaya sebagai pendiri Desa Ngambak dan Desa Karanglangu. Menurut mitologi, Kedhana dan Kedhini adalah saudara kandung.

Mereka berpisah saat masih kecil. Keduanya melakukan perjalanan secara terpisah melewati hutan dan sungai, sampai akhirnya Kedhana singgah dan menetap di sebuah desa bernama Karanglangu. Kedhini sendiri singgah dan menetap di sebuah desa bernama Ngombak.

Tak lama setelah Kedhana Kedhini dewasa, mereka bertemu hingga jatuh cinta dan hampir menikah. Pernikahan tersebut akhirnya gagal terlaksana setelah terungkap saudara kandung yang sudah lama berpisah. Pertemuan yang cukup lama di antara mereka ini kemudian dimeriahkan dengan perayaan ungkapan terima kasih pada Tradisi Tuba.

Ikan yang terkumpul akan dimasak bersama dan menjadi santapan warga desa. Dahulu kala, kedua sosok tersebut sedang memancing di Sungai Tuntang dengan menggunakan serangga maupun tanaman tuba. Ikan yang didapat kemudian dibagikan kepada warga. Tradisi ini berlanjut hingga hari ini.

Antara Kontra dan Budaya Lama

Gambar Tanaman Tuba
info gambar

Di era ini, Desa Ngombak dan Karanglangu masih mempertahankan karakteristik budayanya dengan menggunakan racun tanaman tuba untuk mendapatkan ikan di sungai. Masih banyak masyarakat luar desa yang menemukan hal aneh seperti itu karena masih diselingi dengan ritual sakral. Kontradiksi pun muncul ketika Tradisi Tuba yang bertentangan dengan lingkungan.

Tanaman tuba ini mengandung rotenone, racun yang ampuh untuk mematikan ikan dan serangga. Tuba biasanya digunakan untuk meracuni ikan di sungai agar mendapat ikan yang banyak. Cara ini dilarang keras oleh pemerintah karena akan merusak ekosistem biota sungai dan juga air akan tercemar. Air yang tercemar bila terminum secara normal akan memunculkan efek, seperti sakit perut.

Tradisi Tuba berkaitan erat dengan “Perilaku Bersama”. Hal ini telah mengikat penduduk desa sebagai kelompok yang dapat diidentifikasi, dan memungkinkan mereka untuk hidup bersama secara harmonis. Terlepas dari berbagai kontradiksi, tradisi ini sangat dinantikan oleh masyarakat desa.

Selain budaya, tradisi ini diharapkan dapat mempererat hubungan baik antara masyarakat Desa Ngombak dan Karanglangu. Para penduduk menerima sebagian besar budaya yang dimiliki.

Walau begitu, mereka pasti memperhatikan ketika seseorang tidak mengikuti budaya mereka. Namun, mereka tetap mencoba memahami dan mempertahankan apa yang ada serta mengambil sisi positifnya.*

Referensi: Travel Kompas | Travel Kompas 2 | Gerbang Bengkulu

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini