Dampak Koneksi 5G untuk Konsumen, Mulai dari Performa hingga Konsumsi Data

Dampak Koneksi 5G untuk Konsumen, Mulai dari Performa hingga Konsumsi Data
info gambar utama

Semua pasti setuju dengan penetrasi teknologi jaringan 5G yang kian agresif, membuka banyak potensi menarik dengan kemajuan kapabilitas yang dihadirkan. Dengan bekal kecepatan transfer data tinggi dan latensi yang rendah, implementasi 5G diprediksi mampu menghadirkan pengalaman--terutama--untuk streaming video dan pengunduhan (download) menjadi lebih cepat dan lancar.

Meskipun saat ini Indonesia masih dalam era 4G (LTE) atau 4,5G (VoLTE), nyatanya permintaan atas layanan video streaming dan pengunduhan video meningkat tajam dari sisi konsumen. Setidaknya itu yang dilaporkan UC Browser dalam laporan tahunan sepanjang 2020.

''menonton video merupakan fungsi aplikasi paling populer sepanjang tahun 2020 di pasar Indonesia, yang menjadi indikasi kuat permintaan pengguna atas konsumsi konten video,'' demikian bunyi laporan itu.

gen z video streaming
info gambar

Sementara Global Web Index yang juga melakukan survey serupa, melaporkan bahwa tuntutan konsumsi konten video dari konsumen terus meningkat tajam, terutama untuk kalangan Gen Z (usia 11-23). Sekira 51 persen dari generasi itu lebih memilih konten video online untuk konsumsi media mereka, sedangkan 31 persen lainnya memilih TV online.

Hal tersebut boleh dibilang wajar, mengingat generasi pada rentang usia itu disebut sebagai generasi internet yang merupakan turunan dari generasi Y (usia 27-40).

Nah, karenanya teknologi 5G menjadikan potensi pada konsumen soal kebutuhan pengalaman video berkualitas lebih tinggi ketimbang teknologi dari generasi sebelumnya. Lain itu, teknologi 5G juga implementasi atas kebutuhan pasar dan tren yang sejatinya akan terus berkembang.

Transisi yang membawa perubahan tren

ecommerce
info gambar

Bicara soal transisi dari teknologi jaringan berbasis 4G (LTE) dan 4,5G (VoLTE) ke 5G, tentu akan mendorong masyarakat secara bertahap untuk bergerak menuju era konten video-first. Laman HubSpot menyebut bahwa 90 persen konsumen menjadikan video produk sebagai referensi pengambilan dalam membeli suatu barang.

Sementara soal metode pembeliannya, sekitar 64 persen konsumen cenderung membeli produk secara online setelah menonton video review produk. Ini yang kemudian membuat banyak raksasa e-commerce untuk menggunakan video online sebagai salah satu sarana promosi produk.

Dalam sebuah survey yang dilakukan Open Signal pada tahun 2020--dipublikasikan Light Reading, menunjukkan bahwa teknologi 5G berdampak pada peningkatan konsumsi data seluler sebesar 2.7 kali lipat dibanding pengguna 4G. Pendek kata, konsumsi data pada 5G ini bakal lebih boros. Ini yang boleh jadi bakal jadi konsekuensi para pengguna.

Dari kekhawatiran konsumsi data seluler semakin tinggi itulah, CNBC Indonesia menyampaikan poin penting mengenai harga paket data 5G yang diprediksi bakal lebih mahal. Meskipun koneksi jaringan ini belum resmi hadir di Indonesia, teknologi baru ini diprediksi membawa tantangan besar bagi masyarakat Indonesia, terutama soal gaya hidup hemat.

Menghadapi keadaan tersebut, kiranya masyarakat Indonesia bisa mempersiapkan adaptasi perilaku di era digital agar dapat menghemat dan mengurangi konsumsi kuota data internet.

Bagaimana caranya? Hanya waktu yang bisa membuktikan, karena memang ''barangnya'' saja belum hadir. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, siapkah masyarakat Indonesia?

Implementasi 5G di kawasan Asia

Untuk saat ini, wilayah Asia masih memimpin adopsi koneksi jaringan 5G ketimbang wilayah lain di seluruh dunia. GSMA Intelligence bahkan memperkirakan bahwa wilayah Asia akan memiliki 1,2 miliar koneksi 5G pada 2025.

Pada awal kuartal pertama 2021, Cina memimpin adopsi jaringan 5G dengan menjangkau lebih dari 200 juta pengguna 5G, atau lebih tepatnya menyentuh angka 384,7 juta pengguna. Angka tersebut jomplang dengan negara lain, seperti Jepang (25,1 juta pengguna), dan Korea Selatan (16 juta pengguna) yang berada pada posisi ke-2 dan ke-3.

negara dengan koneksi 5G
info gambar

Sementara menyoal pembaruan untuk koneksi 5G, kawasan Asia-Pasifik masih memimpin dengan tingkat penyebaran dan adopsi, di atas wilayah lain. Sebagian besar penyebaran 5G standalone (SA) telah terjadi di wilayah ini.

Pada kuartal IV (Q4) 2020, kawasan Asia-Pasifik (tidak termasuk Cina) memiliki 15 operator seluler di delapan pasar berbeda yang meluncurkan 5G, dan menjadikan jumlah total jaringan 5G komersial di wilayah itu menjadi total 23 di 11 pasar.

Korea Selatan, Jepang, dan Australia adalah yang terdepan di sektor ini berkat dukungan spektrum jaringan serta ketersediaan perangkat, serta peraturan pemerintah yang ramah operator di seluruh pasar.

Dari sana, konsumen di pasar juga yakin bahwa koneksi jaringan 5G, bakal mendorong adopsi teknologi yang lebih jauh dan lebih besar.

pengembangan 5G di asia pasifik
info gambar

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini