Menyoal Hari Jadi Kabupaten Blitar, Merangkai Jejak Nasionalisme

Menyoal Hari Jadi Kabupaten Blitar, Merangkai Jejak Nasionalisme
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI#CeritadariKawanGNFI

Pernahkah Kawan GNFI mendengar tentang Kabupaten Blitar? Wilayah yang terhampar di Lereng Selatan Gunung Kelud tersebut menjadi tempat peristirahatan Soekarno, Bapak Proklamator sekaligus Presiden Republik Indonesia pertama. Blitar juga dikenal sebagai Kota Patria, ditandai dengan peristiwa heroik perlawanan tentara PETA yang dipimpin Supriyadi pada 14 Februari 1945 silam. Lantas, bagaimana hubungan sejarah Blitar dengan nasionalisme rakyatnya?

Blitar yang dikenal sebagai pusara raja-raja menyimpan catatan sejarah panjang. Peradaban tertua di ‘Kota Pecel’ itu dimulai dari pemerintahan Raja Balitung dari Mataram Kuno. Sang raja pada tahun 907 memberikan anugerah berupa sawah bebas pajak kepada rakyat Kinewu atas loyalitasnya.

Nasionalisme rakyat Blitar kuno tidak usah diragukan lagi. Raja Bameswara dari Kadiri pada tahun 1117 memberikan anugerah tanah perdikan di Padelegan karena perjuangan rakyat Blitar mempertahankan kedaulatan negerinya. Bahkan, raja-raja Majapahit memilih tanah Blitar sebagai pusat peribadatan nasional. Ialah Candi Panataran yang difungsikan selama 400-an tahun, menjadi destinasi wajib peribadahan Raja Hayam Wuruk sehabis musim dingin.

Kini, usia Blitar telah menginjak 696 tahun berdasarkan prasasti Blitar I. Prasasti batu tersebut memuat penganugerahan Raja Jayanegara dari Majapahit kepada rakyat Blitar pada 15 Agustus 1324. Peristiwa itulah yang menjadi dasar perumusan Hari Jadi Kabupaten Blitar.

Sayang, bentuk anugerah dan alasan sang raja mengeluarkan prasasti tersebut belum diketahui, lantaran keberadaan prasasti tersebut tidak diketahui lagi. Pemerintah Kabupaten Blitar menyampaikan bahwa prasasti tersebut berada di depan Pendapa Rangga Hadinegara. Nyatanya, batu yang ada di sana memuat keterangan kehidupan Buyut Kamburan pada kekuasaan Raja Kertanegara dari Singhasari.

Prasasti Buyut Kamburan/Panumbangan II
info gambar

Menyoal tentang penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar, terdapat hal menarik tentangnya. Dasar penetapan hari jadi tersebut bukanlah dari temuan prasasti tertua seperti daerah lain di Indonesia, melainkan berdasarkan prasasti tertua yang dikeluarkan penguasa Majapahit. Motivasi tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh rasa ‘Nasionalisme Majapahit’ yang masih melekat erat di hati masyarakat Blitar.

Meniru gagasan Muhammad Yamin, tim perumus hari jadi rupanya ingin mengingatkan kembali peran besar rakyat Blitar terhadap kelangsungan Kerajaan Majapahit. Masyarakat Blitar hingga kini masih mempercayai wilayah Blitar berdiri atas usaha pengusiran tentara Tar-tar yang menyerang Jawa tahun 1293.

Tentara Tar-tar memang berhasil meruntuhkan penguasa Jawa kala itu, Jayakatwang, tetapi mereka tidak menyadari intrik Raden Wijaya membuat kocar-kacir bala tentara Kubhilai Khan tersebut. Sebagian tentara Tar-tar yang telah kalah, bersembunyi di hutan sekitar Gunung Kelud, kemudian diusir Gusti Sudomo atas perintah Raden Wijaya. Peristiwa pulangnya tentara Tar-tar ke Negeri Cina itu dipercaya sebagai toponimi dari Blitar, yaitu frasa "Baline Tar-tar".

Meninjau Ulang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar

Sebenarnya, sumber penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar tidaklah terbatas. Banyak opsi yang dapat dipilih pemerintah untuk menandai tonggak peradaban Bhumi kang Kawentar tersebut. Sukarto Kartoatmodjo, sejarawan yang sering bergulat dengan penetapan hari jadi, menawarkan opsi pemilihan hari jadi sebuah daerah dapat dirunut berdasarkan catatan sejarah tertua, peristiwa yang menimbulkan kebanggaan masyarakatnya, maupun berkiblat pada penguasa yang berprestasi.

Pemerintah Kabupaten Blitar dapat menentukan Hari Jadi Kabupaten Blitar berdasarkan ketiga opsi yang diajukan Sukarto Kartoatmodjo tersebut. Opsi pertama, berupa catatan sejarah Blitar tertua, dapat ditelusuri berdasarkan prasasti Kinewu yang dikeluarkan Raja Balitung pada 12 November 907.

Jika dihitung berdasarkan peristiwa anugerah sawah perdikan tersebut, usia Blitar telah mencapai 1114 tahun. Usia tersebut lebih tua 30 tahun dibanding Kabupaten Nganjuk yang dijuluki sebagai kota tertua di Jawa Timur.

Opsi kedua, penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar berdasarkan peristiwa yang menimbulkan kebanggaan masyarakatnya. Peristiwa nasionalisme rakyat Blitar kuno terhadap negeri Kadiri patut dipertimbangkan untuk menandai tonggak peradaban Blitar. Raja-raja Kadiri sejak pemerintahan Sri Bameswara hingga Sri Kertajaya tidak pernah absen memberikan anugerah kepada rakyat Blitar.

Alasan sang raja mengeluarkan kebijakan tersebut tak lain adalah loyalitas rakyat Blitar yang sangat tinggi serta ketaatannya dalam menjalankan agama. Terdapat setidaknya sembilan prasasti yang dikeluarkan masing-masing penguasa Kadiri di wilayah Blitar.

Peristiwa heroik perlawanan tentara PETA terhadap kolonialis Jepang juga dapat menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar. Ialah Supriyadi, komandan peleton PETA di Blitar yang membakar semangat perjuangan rakyat Blitar dari kebijakan romusha.

Perlawanan pada 14 Februari 1945 tersebut bukan sekadar bentuk protes kepada kolonialis kejam, tetapi juga menjadi salah satu ‘bola salju’ bagi Kemerdekaan Indonesia yang tercapai 184 hari kemudian.

Monumen PETA Blitar
info gambar

Mengenai opsi tokoh pemimpin yang berprestasi, tampaknya dapat ditelusuri berdasarkan peristiwa pendirian Kabupaten Blitar. Blitar secara resmi menjadi sebuah kabupaten pada tahun 1831, di bawah kepemimpinan RM. Arya Rangga Hadinegara.

Kala itu, status Blitar di bawah naungan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Bencana letusan Kelud tahun 1848 meluluhlantakkan pusat pemerintahan Blitar yang berada di tepi Sungai Pakunden. KPH. Warsa Kusuma, Bupati Blitar II kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke Kepanjen Lor pada tahun 1875.

Peristiwa tersebut ditandai dengan pembangunan alun-alun, masjid agung, dan pendopo sesuai konsep sedulur papat lima pancer. Ialah R. Ng. Bawadiman Jayadigda, Patih Blitar yang memprakarsai proyek pemindahan pusat pemerintahan tersebut dengan berkaca pada tata kota Keraton Mataram Islam. Pemindahan itu merupakan peristiwa penting bagi masyarakat Blitar, karena membawa harapan baru agar kehidupannya lebih baik dibandingkan masa sebelumnya.

Beberapa opsi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk meninjau ulang Hari Jadi Kabupaten Blitar. Terlebih, dasar penetapan Hari Jadi Blitar saat ini tidaklah kuat, sebab bukti artefaktualnya telah raib. Pun pembacaan prasasti Blitar I belum selesai sehingga tidak jelas alasan Raja Jayanegara memberikan prasasti kepada rakyat Blitar.

Apabila terdapat kekhawatiran perubahan Hari Jadi Kabupaten Blitar tidak sesuai lagi dengan semboyan Blitar Hurub Hambangun Praja (Semangat Membangun Negeri), seluruh opsi yang ditawarkan di atas malah menunjukkan betapa semangatnya rakyat membangun negeri, mempertahankan kedaulatan, dan berkarya untuk masa depan yang lebih baik.*

Referensi: J.L.A. Brandes. 1913. Oud-Javaansche Oorkonden. Batavia: Albrecht & Co. │ Sukarto Kartoatmodjo. 1990. Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap. Cilacap: Pemda Tingkat II Cilacap. │ M. Satok Yusuf. 2020. “Blitar Tanah Suci Tiga Kerajaan”, Buletin Desawarnnana BPCB Provinsi Jawa Timur.Blitarkab.go.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini