Sejarah Hari Ini (12 Maret 1994) - "Si Doel Anak Sekolahan", Kenalkan Betawi via Sinetron

Sejarah Hari Ini (12 Maret 1994) - "Si Doel Anak Sekolahan", Kenalkan Betawi via Sinetron
info gambar utama

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan tayang perdana di stasiun televisi swasta RCTI pada 12 Maret 1994. Disutradarai Rano Karno - yang juga turun main sebagai pemeran utama, Doel - dan diproduksi Karnos Film, Si Doel Anak Sekolahan merupakan pionir sinetron yang mengusung nuansa ke-Betawi-an lewat orang dan kisahnya.

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan adalah versi modern dari novel berjudul Si Doel Anak Betawi karangan Aman Datuk Majoindo yang rilis pada 1932. Sebelum ada sinetron ini, Si Doel Anak Betawi pernah difilmkan pada 1972 di mana Rano kecil turut berperan sebagai Doel. Film tersebut mengundang perhatian karena dibintangi aktor kawakan Benyamin S yang memerankan Asman, babeh/ayah dari Doel.

Rano dan Benyamin pun bekerja sama kembali dalam mengembangkan Si Doel ke layar kaca. Selain keduanya, juga ada seniman panggung hiburan lain yang turut bermain, baik yang sudah yang sudah dikenal atau baru mengorbit, sebut saja di antaranya Aminah Cendrakasih (Mak Nyak), Maudy Koesnaedi (Zaenab), Cornelia Agatha (Sarah), Pak Tile (Engkong Ali), Suti Karno (Zaitun/Atun), Mandra (Bang Mandra), Nunung, Basuki (Mas Karyo) dan Saparbe Notowidagdo (Pak Bendot).

Kisah sinetron Si Doel sederhana, yakni mengenai keluarga Betawi pinggiran Jakarta yang tengah berkembang pesat. Diceritakan Doel atau Kasdullah seorang anak Betawi asli diidamkan babehnya, Sabeni, segera lulus dari perkuliahan teknik mesin agar bisa menjadi "Tukang Insinyur".

Ceritanya kocak, menarik, dan unik karena banyaknya celotehan dan budaya ala Betawi yang ditonjolkan karakternya. Tidak melulu soal nilai-nilai budaya Betawi, sinetron Si Doel juga menyisipkan kompleksnya kisah asmara segi tiga Doel dengan Zaenab-Sarah serta kasih tak sampai Mandra dan Munaroh.

Rumah Si Doel di
info gambar

Kehadiran Si Doel Anak Sekolahan secara tak langsung juga menjadi pendobrak stigma yang ditujukan pada orang Betawi. Di masyarakat pada zaman itu, orang Betawi memang kerap dicap malas, tidak berpendidikan, tukang kawin, dan lain sebagainya. Karakteristik itu pun ditonjolkan pada sejumlah karakternya, misalnya Mandra yang suka malas menarik oplet tua babeh, Atun - adik Doel - yang cuma tamatan SD, dan karakter Engkong Ali yang masih suka genit pada wanita meski sudah berumur.

Selain stigma orang Betawi tersebut, sinetron Si Doel juga menyinggung nepotisme di Indonesia yang marak pada era Orde Baru. Karakter Doel pun muncul sebagai penetralisir stigma yang ditujukan. Ia digambarkan sebagai orang yang tekun mengejar cita-citanya dan mengedepankan kejujuran saat memilih pelabuhan kariernya.

Menurut Klarijn Loven dalam Watching Si Doel Television, Language and Identity in Contemporary Indonesia, sinetron Si Doel mendulang kesuksesan besar. Si Doel berhasil hidup di tengah kepungan sinetron lokal yang kala itu lebih sering mengangkat tema kehidupan elit kelas atas. Rating Si Doel tinggi, mampu menghibur penonton segala usia dan kalangan. Fenomena menonton di televisi "punya tetangga" pun terjadi yang membuat sinetron ini menyatukan para penontonnya.

Mandra, Pak Tile dan Basuki. Akting ketiganya menjadi penyegar sinetron Si Doel.
info gambar

Dengan nilai-nilai yang dikandung dan kisahnya yang ringan karena dekat dengan kehidupan sehari-hari, sinetron ini kian terkenal sehingga tidak heran bisa mencapai 162 episode dan 7 musim. Bahkan Si Doel Anak Sekolahan juga ditayangkan di Belanda oleh Garuda TV pada awal 2000-an. Saat itu Garuda TV dimiliki orang-orang Indonesia, salah satunya bernama Enteng Tanamal.

Meskipun banyak serbuan sinetron baru di pertelevisian Indonesia, Si Doel Anak Sekolahan yang legendaris tetap diminati hingga kini. Beberapa kali RCTI menayangkannya kembali di tv pada jam-jam tertentu atau bisa pula ditonton secara bebas lewat media/platform berbasis internet.

---

Referensi: Klarijn Loven, "Watching Si Doel Television, Language and Identity in Contemporary Indonesia"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini