Lampaui Arab dan Turki, Ekonomi Indonesia Jadi yang Terbesar di Antara Negara OKI

Lampaui Arab dan Turki, Ekonomi Indonesia Jadi yang Terbesar di Antara Negara OKI
info gambar utama

Selama lebih dari 70 tahun negara ini berdiri, Indonesia telah bergabung dengan berbagai organisasi internasional. Mulai dari ASEAN, APEC, G20 hingga OKI.

Sebelum mengulas ekonomi negara-negara anggota OKI, penulis akan membawa Kawan GNFI mengenal lebih jauh apa itu OKI, alasan pembentukan dan Tujuannya.

Mengenal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)

Organization of Islamic Cooperation (OIC) atau dalam Bahasa Indonesia dikenal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) merupakan salah satu organisasi internasional terbesar yang diikuti Indonesia.

Indonesia tergabung bersama puluhan negara mayoritas muslim lainnya. Pada awalnya, OKI hanya beranggotakan 30 negara. Selama 40 tahun berdiri, jumlah anggotanya terus bertambah. OKI saat ini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim di kawasan Asia dan Afrika.

Pembentukan OKI awalnya dilatarbelakangi keprihatinan negara-negara Islam atas berbagai masalah yang diahadapi umat Islam.

Salah satu pemicunya, pembakaran Masjid Suci Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 oleh zionis Israel. Para pemimpin dari 24 negara Islam pun mengadakan Konferensi di Rabat, Maroko, pada tanggal 25 September 1969. Negara-negara itu menyepakati Deklarasi Rabat. Deklarasi itu berbunyi:

"Pemerintahan muslim akan berupaya mempromosikan di antara mereka, kerja sama yang erat, dan tolong menolong dalam hal ekonomi, ilmu pengetahuan, budaya, keyakinan, berdasarkan ajaran Islam yang abadi."

Kemudian pada 1970, para menteri luar negeri berkumpul di Jeddah. Pertemuan yang kelak menjadi Konferensi Tingkat Menteri (KTM) OKI itu menetapkan Jeddah sebagai markas OKI.

Piagam OKI baru diadopsi pada KTM OKI ketiga pada 1972. Piagam itu memuat tujuan dan prinsip OKI. Tujuan OKI dibentuk antara lain:

  • Meningkatkan solidaritas Islam di antara negara anggota
  • Mengoordinasikan kerja sama antarnegara anggota
  • Mendukung perdamaian dan keamanan internasional
  • Melindungi tempat-tempat suci Islam
  • Membantu perjuangan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat

Sebagai organisasi internasional yang pada awalnya lebih banyak menekankan pada masalah politik, terutama masalah Palestina, dalam perkembangannya OKI menjelma sebagai suatu organisasi internasional yang menjadi wadah kerja sama di berbagai bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan antar negara-negara muslim di seluruh dunia.

Negara anggota OKI dengan Ekonomi Terbesar

Mayoritas anggota OKI adalah negara-negara muslim, termasuk negeri kaya minyak yang super tajir di wilayah timur tengah. Dari 57 negara anggota OKI, ternyata total Gross Domestict Product (GDP) atau Pendapatan Domestik Bruto (PDB) RI mencatatkan angka yang tertinggi. Jauh melampaui Turki dan Arab Saudi yang beberapa tahun kebelakang berada di atas Indonesia.

Berikut daftar negara anggota OKI pemilik ekonomi terbesar 2020, berdasarkan nominal gross domestic product (GDP).

Baca juga: Menggapai Impian Sebagai Negara dengan Ekonomi Syariah Terbesar di Dunia

1. Indonesia

Berdasarkan laporan terbaru International Monetry Fund (IMF) yang dirilis akhir tahun 2020 menunjukkan, total GDP Indonesia menempati posisi pertama dengan nominal sebesar 1.088.768 juta dolar AS. Padahal berdasarkan catatan World Bank, pada saat GDP Indonesia pertama kali tercatat (1967) hanya menempati posisi keenam dengan nominal tidak lebih dari 6.000 juta dolar AS.

Selama lebih dari 5 dekade, ekonomi RI telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan, hal itu terbukti dari posisi Indonesia yang mampu berprogres dari peringkat ke-6 pada 1967 naik menjadi pemuncak pada 2020. Sungguh suatu catatatan yang perlu kita apresiasi.

Baca juga: GDP Tembus 1,02 Triliun Dolar AS, Indonesia Jadi Raja Ekonomi ASEAN

2. Arab Saudi

Posisi kedua diisi oleh salah satu produsen minyak bumi terkemuka dunia, Arab Saudi. Pada 2020, negara yang dipimpin oleh Raja Salman ini mencatatkan nominal GDP sebesar 680.987 juta dolar AS.

Ekonomi Arab Saudi sangat bergantung pada minyak, hingga kini, Arab Saudi diketahui memiliki cadangan minyak terbesar kedua di dunia. Sedangkan minyak dari Saudi diketahui menyumbang lebih dari 95 persen ekspor, jumlah itu nyatanya juga menjadi 70 persen dari pendapatan pemerintah.

3. Turki

Turki menempati posisi ketiga dengan total GDP senilai 649.436 juta dolar AS. Sejak krisis mata uang lira, percobaan kudeta Presiden Erdogan dan campur tangan terhadap konflik perbatasan, ekonomi Turki terus mengalami penurunan.

Pada 2014, total GDP Turki sempat menyentuh angka 948.000 juta dolar AS sekaligus menempati peringkat pertama sebagai negara anggota OKI dengan ekonomi terbesar. Namun, sederet persoalan membuat ekonomi Turki semakin dalam jatuh ke jurang resesi (2020).

4. Iran

Posisi keempat diisi oleh negara kaya minyak dan gas (migas), Iran. Ditengah sanksi dan memanasnya hubungan dengan Amerika Serikat (AS), GDP Iran justru mengalami peningkatan yang tajam.

Berdasarkan data IMF, pada 2020 GDP Iran menyentuh angka 610.662 juta dolar AS. Padalah di tahun sebelumnya hanya mencatatkan angka 457.987 juta dolar AS, naik lebih dari 150.000 juta dolar AS. Kenaikan GDP Iran merupakan yang tertinggi dibanding negara anggota OKI lainnya.

5. Nigeria

Posisi kelima ditempati oleh raksasa ekonomi Afrika, Nigeria. Sama halnya denga Iran, Nigeria merupakan negeri yang kaya akan minyak dan gas (migas). Sektor tersebut merupakan penyumbang terbesar GDP Nigeria.

Pada 2020, total GDP Nigeria tercatat sebesar 442.976 dolar AS. Angka tersebut sekaligus menjadikannya sebagai negara dengan ekonomi terbesar di benua hitam, Afrika.

Nigeria adalah masa depan ekonomi Afrika. Dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ditunjang dengan penduduk usia produktif yang besar, Nigeria diprediksi bakal menjadi kekuatan baru ekonomi dunia. Dengan catatan, negara tersebut mampu menyelesaikan sederet konflik terutama persoalan terorisme.

6. Mesir

Negara yang terkenal dengan kemegahan peradaban kuno, Mesir, menempati posisi kelima tepat satu tingkat di bawah Nigeria dan satu tingkat di atas negeri kaya raya markasnya para sultan tajir, Uni Emirat Arab.

Di tengah pandemi yang meruntuhkan ekonomi banyak negara, secara mengejutkan GDP Mesir justru meningkat cukup signifikan. Berdasarkan data World Bank, pada 2019 GDP Mesir hanya 303.093 juta dolar AS. Kemudian pada 2020, berdasarkan data IMF, nominalnya melonjak menjadi 361.875 juta dolar AS.

7. Uni Emirat Arab

Negara para sultan tajir sekaligus markas dari gedung pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Khalifa, menempati posisi ketujuh dengan total GDP senilai 353.899 juta dolar AS.

Kendati secara nominal GDP menempati peringkat ke-7, namun GDP per kapita Uni Emirat Arab menjadi yang tertinggi dibanding negara yang masuk dalam list. Sebagai catatan, pada 2020 GDP per kapita UEA mencapai 31.948 dolar AS. Menjadikannya sebagai salah satu negara anggota OKI paling makmur.

8. Bangladesh

Sang kuda hitam yang terus menunjukan pertumbuhan positif, Bangladesh, berhasil menempati peringkat ke-8 sebagai negara anggota OKI dengan ekonomi terbesar.

Pada 2020, nominal GDP Bangladesh menyentuh angka 348.954 dolar AS, angka tersebut jauh melampaui saudaranya, Pakistan ($276.200). Bahkan GDP per kapita Bangladesh ($1.888) telah berhasil melampaui India (1.877) yang dikenal sebagai negeri paling diperhitungkan di Asia Selatan.

9. Malaysia

Negeri Jiran, tetangga sekaligus negeri serumpun kita, Malaysia, berhasil menempati posisi kesembilan sebagai negara anggota OKI dengan ekonomi terbesar 2020.

Nominal GDP Malaysia menyentuh angka 336.330 juta dolar AS. Kendati secara nominal GDP menempati urutan kesembilan, namun dari segi GDP per kapita dan total ekspor, catatan Malaysia menjadi salah satu yang tertinggi dibanding negara-negara yang masuk dalam list.

10. Pakistan

Posisi terakhir sebagai negara anggota OKI dengan ekonomi terbesar diisi oleh Pakistan. Bersama Indonesia dan India, Pakistan adalah negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia.

Negara yang dipimpin oleh presiden kharismatik, Imran Khan, ini tercatat memiliki GDP senilai 276.200 juta dolar AS. Pada awal dekade ke-17, Pakistan sempat berjaya dengan menempati peringkat pertama. Nominal GDP nya mampu melampaui Indonesia, Turki hingga Saudi. Namun sederet konflik dan persoalan membuat ekonomi Pakistan melambat.

Berikut kami sajikan link video motion chart grafik perkembangan ekonomi negara OKI periode 1960-2020

==

Sumber: International Monetery Fund (IMF) | Wolrd Bank | OIC | Kompas.com | Kemenlu RI

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini