Ketika Charlie Chaplin Kesengsem Guling di Garut

Ketika Charlie Chaplin Kesengsem Guling di Garut
info gambar utama

Guling, bantal panjang ini seakan sulit dipisahkan dalam kehidupan orang Indonesia. Jadi teman tidur, penghangat kala malam, yang tentunya penting bagi mereka yang masih tidur sendirian. Kasian.

Ya, guling jadi penyelamat bagi jiwa-jiwa nelangsa yang sepi pelukan di atas ranjang. Bentuknya sederhana, tapi peranannya besar. Si teman tidur tak bernyawa itu bahkan pernah disinggung dalam sebuah adegan percakapan lucu di sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan.

Suatu hari Nyak Rodiah, bini Engkong Ali - kakek Doel dan Atun - curhat dengan Pak Salim, tetangga baru keluarga Doel yang statusnya single parent. Di adegan tersebut Pak Salim mencoba membujuk Nyak Rodiah yang ngebet jadi janda lagi.

"Gak enak jadi janda, bu. Tidur sendiran kayak saya nih duda. Gak ada temennye," kata Pak Salim. Nyak Rodiah rupanya punya argumentasinya sendiri. Ia pun menimpali dengan kalimat: "Kan ada guling.". Solutif sekali.

Guling aslinya bikinan kebudayaan Indisch, percampuran kebudayaan Eropa, Indonesia, Tionghoa, dan Arab yang muncul sekitar abad 18 atau 19. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Jejak Langkah sempat menyebutkan secuil sejarah eksistensinya.

"Orang Belanda terkenal sangat pelit. Mereka ingin pulang ke negerinya sebagai orang berada. Maka banyak juga yang tak mau menggundik (istri tak sah dari kalangan pribumi). Sebagai pengganti gundik mereka membikin guling-gundik yang tak dapat kentut itu," tulis Pram. Tak ayal, guling pun punya nama beken di luar negeri dengan sebutan dutch wife atau "istri Belanda".

info gambar

Lekatnya guling dengan kebudayaan Indisch juga tersampaikan lewat sebuah lagu karya seniman Belanda, Wieteke van Dort. Sosok kelahiran Surabaya yang dikenal dengan persona Tante Lien itu menyanyikan lagu berjudul "Meis Suleika". Lagu tersebut menceritakan kebiasaan Suleika, seorang penyanyi berdarah Indo yang melancong di negeri orang tapi tak bisa meninggalkan kebiasaan di tanah kelahirannya. Salah satunya apalagi kalau bukan memeluk guling.

Berikut potongan liriknya:
Meis Suleika op toernee
Haar impresario wordt gek
Londen, Wenen of Parijs altijd weglopen
Dan probeert ze prijzen af te dingen, het liefste op de markt
"Boleh tawar," bij alles wat ze wil kopen
Meis Soeleika op toernee
Dat is in restaurants een sof
Ze wilt rijst, en ze wilt sambal op het eten
Sambal op de escargots en op de beouf stroganoff
En die goeling in haar bed moet niet vergeten

Terjemahan kasarnya:
Meis Suleika sedang menjalani tur
Agennya bukan main kelimpungan
Di London, Vienna, atau Paris selalu melarikan diri
Lalu ia coba-coba tawar menawar harga di sejumlah pasar
"Boleh tawar," dengan apapun yang ia ingin beli
Meis Suleika sedang menjalani tur
Titik lemahnya di restoran
Ia ingin nasi dengan sambal di atasnya
Sambal di siput dan beef stroganoff
Dan jangan lupa guling di tempat tidurnya

Guling Mencuri Hati Charlie Chaplin

Bintang film Hollywood awal abad 20, Charlie Chaplin, pernah bertamasya ke Indonesia. Pada 1961, Chaplin dan keluarganya menyempatkan diri menyaksikan sendratari Ramayana di Prambanan, Yogyakarta. Namun, itu bukanlah kunjungan pertama Chaplin di Indonesia karena sebelumnya ia juga pernah bertamu pada 1932.

Charlie Chaplin tiba di Pulau Jawa dengan kapal laut milik perusahaan pelaran Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM).
info gambar

Chaplin dikenal peduli akan masalah sosial dan ekonomi dunia. Maka dari itu, seusai film City Lights rilis pada 1931, ia mengambil cuti dengan liburan ke luar negeri agar bisa memahami perkembangan dunia pada saat itu.

Negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia (saat itu Hindia Belanda) jadi destinasi wisata Chaplin. Ia tidak sendiri karena juga ditemani kakaknya Sydney beserta kru filmnya. Dari Singapura dengan menumpang kapal milik Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM) Van Lansberge, Chaplin pun tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia (sekarang Jakarta), pada 30 Maret 1932.

Chaplin dan kolega tiba di Batavia. Di ibu kota koloni Belanda itu ia terkesima melihat transportasi trem uap milik BVM.
info gambar

"Setiba di sana kru Charlie Chaplin disambut kerumunan orang di dermaga dan dikalungi karangan bunga selamat datang," lapor sejumlah surat kabar berbahasa Belanda. Chaplin tidak lama di Batavia. Segera ia bertolak menggunakan mobil ke sejumlah kota di Pulau Jawa yang salah satunya ialah Garut, Jawa Barat.

Chaplin ke Garut menggunakan mobil.
info gambar

Garut adalah sebuah daerah di tanah Priangan/Parahyangan yang berada di ketinggian 717 meter di atas permukaan laut. Dikelilingi Gunung Karacak, Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, dan Gunung Guntur membuat daerah ini menawarkan suasana sejuk khas pegunungan.

Chaplin sendiri tiba di Garut kira-kira setengah hari perjalanan. Sebelum tiba di Garut ia sempat singgah di Bandung. Dalam tulisan perjalanan yang ia buat dan diberi judul A Comedian Sees the World, lama perjalanan dari Batavia ke Bandung kala itu ialah enam jam menggunakan mobil.

Setelah makan malam, perjalanan dilanjutkan Chaplin dan Sydney ke arah tenggara, yang tentu saja Garut. Di sinilah untuk pertama kalinya Chaplin mendapatkan pengalaman baru, pengalaman yang ia anggap lucu yaitu bermalam dengan guling.

Chaplin bersua dengan warga sekitar di Stasiun Garut.
info gambar

"Di sinilah saya menemukan pengalaman pertama saya dengan seorang "istri Belanda" yang kalau anda tinggal terlalu lama di daerah tropis anda akan sangat memerlukannya," tulis Chaplin.

Singkat, jelas, padat, Chaplin juga menjelaskan fungsi guling yang menurutnya punya sifat menenangkan ketika dipeluk dan ditempatkan di antara kedua paha. Ia mengaku sempat tertawa ketika pertama kali mengetahui fungsi asli guling yang menjadi teman tidurnya itu.

Tak hanya Chaplin, karena Sydney juga merasakan pengalamannya yang sama. Namun, tampaknya Sydney punya 'imajinasi liarnya' sendiri dengan guling yang menemani tidurnya. "Kami mendapatkan banyak hiburan dari "istri Belanda" di tempat tidur," begitulah kata Sydney.

Chaplin meninggalkan Pulau Jawa.
info gambar

Dari Garut, Chaplin melanjutkan perjalanannya ke arah timur. Pada awal April 1932 ia tiba di Surabaya lalu menyeberang ke Bali untuk mengabadikan kegiatan warga pulau dewata tersebut.

Setelah lama menetap sementara di Bali, Chaplin akhirnya meninggalkan Pulau Jawa untuk sekali lagi ke Singapura pada 19 April 1932. Sekembalinya ke Amerika Serikat, segala ingatannya saat keliling dunia kemudian dituangkan lewat artikel berjudul A Comedian Sees the World (yang kemudian dibukukan) di majalah Women's Home Companion.

Ilustrasi berjudul
info gambar

Pengalaman bersama guling di Garut sepertinya masih mengena bagi Chaplin. Karena ilustrator majalah tersebut, Robert Gellert, turut menyertakan guling untuk artikel sang komedian terbesar abad 20 itu.

---

Referensi: Charliechaplinarchive.org | Chaplin116.rssing.com | Naratesgaroet.net | De Locomotief | The Daily Standard | Bataviaasch Nieuwsblad | Charlie Chaplin, "A Comedian Sees the World" | Pramoedya Ananta Toer, "Jejak Langkah"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini