Sejarah Hari Ini (18 Maret 1940) - Penobatan Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Sejarah Hari Ini (18 Maret 1940) - Penobatan Sri Sultan Hamengkubuwana IX
info gambar utama

Sri Sultan Hamengkubuwana VIII wafat di Yogyakarta pada 22 Oktober 1939. Tampuk takhta kepemimpinan Kesultanan Yogyakarta pun diserahkan pada putranya, Gusti Raden Mas Dorojatun.

Namun, perjalanan GRM Dorojatun menjadi raja tidak mudah. Sebagai bagian dari sejarah Mataram, setiap calon raja baru di Kesultanan Yogyakarta diharuskan untuk menandatangani kesepakatan bersama terlebih dahulu dengan Belanda. Politisi senior Belanda, Dr. Lucien Adams yang berusia 60 tahun harus berdebat panjang dengan GRM Dorojatun yang saat itu usianya baru menginjak 28 tahun. Perdebatan berjalan alot utamanya disebabkan karena hal-hal sebagai berikut:

  1. GRM Dorojatun tidak setuju jabatan Patih merangkap pegawai kolonial, hal ini agar tidak ada konflik kepentingan
  2. Ia juga tidak setuju dewan penasehatnya ditentukan oleh Belanda
  3. Ia menolak pasukan/prajurit keraton mendapat perintah langsung dari Belanda

Dikisahkan, setelah 4 bulan tidak menghasilkan kesepakatan apapun, GRM Dorojatun tiba-tiba berubah sikap. Hal yang begitu mengherankan diplomat senior Belanda tersebut karena GRM Dorojatun bersedia menerima semua usulan Dr. Lucien Adams. Di kemudian hari, beliau berkisah bahwa keputusan itu berdasar bisikan yang menyuruh beliau menandatangani saja kesepakatan yang diajukan karena Belanda tidak lama lagi akan pergi dari bumi Mataram.

Pada 12 Maret 1940 di Tratag Prabayeksa, kontrak politik dengan Belanda, yang berisi 17 bab dan terdiri dari 59 pasal, GRM Dorojatun menandatangani tanpa dibaca lagi. Kontrak tersebut berlaku semenjak GRM Dorojatun naik tahta.

Hari Senin Pon, 18 Maret 1940, ia dinobatkan sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibja Radja Putra Narendra Mataram. Langkah selanjutnya dilakukan penobatannya sebagai Raja dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kandjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping IX.

Diorama penobatan Sri Sultan Hamengkubuwana IX di Benteng Vredeburg.
info gambar

Biasanya pada saat itu upacara resmi kenegaraan di pemerintah kolonial Belanda tidak mengundang pers nasional. Hanya saja pengecualian pada acara penobatan Sultan Hamengkubuwana IX, terdapat dua wartawan Indonesia yang diundang dan duduk sejajar dengan pejabat Belanda yakni R. Roedjito dan Bramono dari majalah Pustaka Timur dan Mardi Mulyo.

Pada hari pelantikan tersebut sultan yang baru pun berpidato dan mengeluarkan kalimat yang dikenang oleh semua orang hingga saat ini: ''saya memang berpendidikan barat tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa''.

---

Referensi: Kratonjogja.id | Kemdikbud, "Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini