Mari Tumbuhkan Kecintaan Anak pada Budaya Indonesia

Mari Tumbuhkan Kecintaan Anak pada Budaya Indonesia
info gambar utama

Membumikan lagu-lagu daerah di kalangan anak-anak zaman sekarang memang bukanlah persoalan mudah. Alasan anak-anak sekarang tidak mau mendengar dan menyanyikan lagu daerah, karena dianggap jadul dan tidak kekinian. Sebagian dari mereka bahkan menyebut jika lagu daerah itu membuat ngantuk, kolot, bahkan ‘menakutkan’. Lho, kok bisa?

Hal-hal semacam itu memang perlu disikapi secara arif dan bijak oleh kita. Sebab, jika ditelusuri akar masalahnya ialah sejak dini mereka tidak dibiasakan mengenal lagu-lagu daerah oleh lingkungannya. Padahal, musik dan lagu bisa meneruskan budaya. Bukan hanya menghaluskan rasa, lagu juga bisa menjadi alat menanamkan nilai-nilai luhur dengan cara ringan yang menyenangkan.

Meskipun dirasa cukup sulit, ada beberapa upaya yang dapat kita tempuh untuk memperkenalkan lagu-lagu daerah kepada anak. Berikut uraian sejumlah tips yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rasa cinta anak terhadap lagu daerah yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak.

1. Pembiasaan di Lingkungan Keluarga

Menceritkan isi dan pesan lagu dengan mendongeng dapat dilakukan juga setelah berlatih bersama
info gambar

Keluarga atau orang tua menjadi tempat pertama untuk mengenalkan anak terhadap budayanya. Bagaimana anak-anak bisa mencintai lagu daerah, jika sejak dini mereka tidak dibiasakan atau dikenalkan mendengarkan lagunya?

Minimnya produksi lagu anak-anak membuat orang tua cukup kesulitan untuk menyediakan lagu yang sesuai dengan usia anak. Akibatnya sang anak lebih sering dijejali oleh lagu-lagu yang sesuai dengan selera orang tuanya. Hal ini sudah tentu menjadi salah satu keprihatinan, sebab lingkungan keluarga seharusnya memberikan lagu yang sesuai dengan perkembangan psikologis anak-anaknya.

Upaya agar anak mencintai lagu daerah dapat dilakukan melalui beberapa cara, misalnya memutar lagunya dan menyanyikannya secara bersama-sama. Bisa juga dilakukan ketika berkumpul di rumah setelah pulang kerja atau menidurkan anak dengan lagu-lagu daerah.

Orang tua juga bisa sedikit menjelaskan isi dari lagu yang diperdengarkan tersebut melalui cara yang kreatif, misalnya dengan mendongeng. Orang tua juga bisa memutar lagu daerah selama perjalanan di mobil atau ketika di waktu senggang lainnya. Dengan pembiasaan yang terus-menerus akan tumbuh rasa kecintaan anak terhadap lagu-lagu daerah.

2. Pembiasaan di Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran penting dalam pewarisan kebudayaan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Ada berbagai cara yang dapat ditempuh untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter. Penanaman pendidikan karakter bangsa dan kepribadian di luar negeri misalnya kerap dilakukan melalui materi lagu. Di Jerman, di Jepang, Korea, Cina atau Taiwan anak-anak kerap dijadikan diajarkan lagu-lagu bertemakan cinta tanah air dan penghormatan kepada sang pemimpin untuk menumbuhkan karakter kebangsaan dan pribadi yang kokoh.

Kini melalui Permendikbud nomor 51 tahun 2015, pemerintah mewajibkan pula para siswa untuk menyanyikan secara bersama-sama lagu nasional sebelum masuk kelas, serta menyanyikan lagu-lagu bahasa daerah ketika akan meninggalkan kelas. Regulasi ini tentu saja perlu kita sambut, demi pembentukan karakter bangsa dan pribadi yang mulia bagi anak-anak usia sekolah, baik di tingkat dasar maupun menengah.

Di Jawa Barat, materi lagu seperti Kawih, Pupuh, Kaulinan Barudak ataupun Kawih Asuh Barudak dapat pula dijadikan sebagai media pembelajaran Bahasa Sunda di sekolah. Terlebih Kawih Asuh Barudak memiliki metode tiga langkah yang dirasa sangat efektif dan efisien dalam menerapkan materinya sebagai media pembelajaran. Ketiga metode tersebut yaitu galindeng maca, galideng nutur dan galindeng bisa. Melalui konsep ini para siswa dan para guru dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran bahasa Sunda melalui kawih Sunda secara inovatif, kreatif, interaktif, dan rekreatif.

Pembiasaan sebagaimana yang dijelaskan di atas mampu menumbuhkan kecintaan anak terhadap lagu-lagu daerah. Terlebih sudah seharusnya juga lingkungan sekolah memberi porsi dan menyeleksi lagu-lagu yang sesuai dengan usia anak-anak. Dengan begitu, hal ini bisa menjadi salah satu upaya kita dalam mengonterlagu-lagu dewasa dan asing, melalui pembiasaan lagu daerah di lingkungan sekolah.

3. Berlatih bersama atau bergabung di Sanggar/Komunitas Seni

Belajar dan berlatih bersama akan membuat anak saling termotivasi
info gambar

Berlatih dan bergaul dengan sesama orang yang bergelut dan menekuni bidang yang sama dapat memberikan banyak manfaat, seperti saling berbagi pengetahuan, bertukar informasi mengenai lagu daerah, menjalin persahabatan, dan lain sebagainya. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak pada pengembangan dan peningkatan kemampuan skill anak.

Secara positif berlatih bersama mampu mendongkrak semangat mereka yang belum bisa ingin menjadi bisa, yang belum mahir ingin menjadi mahir, yang belum juara ingin menjadi juara. Hal tersebut terjadi karena mereka termotivasi oleh rekan-rekannya.

4. Dukungan dari Pemerintah

Pemerintah mempunyai peran penting dalam pelestarian seni dan budaya yang ada Indonesia. Lagu-lagu daerah yang sarat akan ajaran moral dan pendidikan karakter dapat dipilih sebagai upaya pelestarian budaya. Adapun bentuk dukungan tersebut dapat dilakukan cara menyelenggarakan festival dan pagelaran budaya khusus anak-anak, melakukan pelatihan terhadap guru dan masyarakat melalui seminar atau workshop, dan pembinaan untuk peningkatan kualitas para seniman.

Kegiatan festival atau pasanggiri berbasis lagu daerah sangat penting dilakukan untuk membangun motivasi anak. Sebab mereka tidak akan dengan sengaja mendengarkan lagu daerah apabila tidak ada even khusus atau tujuan tertentu. Jadi, bisa dikatakan ini juga menjadi salah satu solusi yang bisa dilakukan ketika lagu anak sudah tidak memiliki ruang.

Meskipun demikian pemilihan lagu untuk anak-anak juga harus mempertimbangan tingkatan psikologis anak-anak dan muatan budi pekerti. Pemilihannya dapat digunakan dengan memilih aspek lirik (bahasa). Pilihlah lagu daerah dengan bahasa yang mudah dicerna, tema yang dekat dengan dunia anak-anak, muatan pendidikan, serta kandungan amanat (norma dan moral) yang terukur bagi usia anak-anak.

Aspek musikal, melodi yang disusun harus sederhana namun menarik, kontur melodi yang mampu dicapai suara (ambitus) anak-anak, serta warna lagu yang diaransemen kekinian. Selain itu, pertimbangkan pula teknis implementasinya, aspek metodologis, yang disusun sebagai media pembelajaran kebahasaan dan kesenian di sekolah harus mempertimbangkan metode yang mudah, efektif, efisien, dan menyenangkan bagi guru maupun bagi murid.

Jangan lupa, pertimbangkan pula kebutuhan usia anak, pemilihan materi lagu daerah juga perlu disusun dan dikemas sesuai dengan kebutuhan yang terukur, dengan melihat kebutuhan ‘kebahasaan’, ‘musikal’, ‘metode’, serta ‘pengemasan tampilan’ yang disesuaikan dengan takaran jiwa dan psikologi anak didik: mudah, ringan, riang, menyenangkan, memberi nasehat, belajar mencintai alam dan sesama.

Sementara itu, dukungan pemerintah melalui program pelatihan dan seminar bagi guru, orang tua, dan anak penting dilakukan, mengingat komponen tersebut harus selektif memilih lagu-lagu yang baik bagi usia dan perkembangan anak. Artinya guru dan orang tua perlu memiliki pengetahuan yang baik terhadap lagu-lagu yang cocok bagi anak-anak.

Adapun peningkatan intelektualitas seniman melalui program pemerintah juga perlu dilakukan karena seniman memiliki peran penting dalam upaya pelestarian dan produktivitas karya yang berkualitas. Melalui dukungan dari berbagai pihak, dapat dipastikan lagu-lagu anak dapat kembali populer sebagaimana yang pernah terjadi di era sebelumnya.

Selain ketiga hal di atas, kurangnya pemanfaatan terhadap teknologi menjadikan lagu-lagu daerah untuk anak-anak tidak sepopuler lagu-lagu dewasa pada umumnya. Padahal teknologi memiliki peran yang strategis dalam memperkenalkan lagu-lagu daerah, seperti kanal youtube, film animasi anak berbasis bahasa dan lagu daerah, aplikasi game bertajuk tradisi ataupun aplikasi hiburan sejenis lainnya.

Padahal apabila hal ini dapat ditanggapi secara serius, pasti akan memiliki dampak yang signifikan terhadap kepopuleran lagu-lagu daerah. Hal semacam ini juga bisa dilakukan dalam upaya mensosialisasikan lagu-lagu daerah untuk semakin dikenal.

Semoga beberapa tips strategis di atas mampu menjawab tantangan membangun semangat budaya bangsa di era global, sehingga minat anak-anak Indonesia terhadap lagu daerah tetap terpelihara dan mereka bangga akan warisan budaya bangsanya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini