Ateng, Mengundang Tawa Lewat Film Komedi Nasional

Ateng, Mengundang Tawa Lewat Film Komedi Nasional
info gambar utama

Begitu banyak komedian di Indonesia yang memiliki kekhasan ketika beraksi menghibur orang, Ateng salah satunya. Ateng adalah peranakan Tionghoa, ia lahir dengan nama Kho Tjeng Lie dan mempunyai nama Indonesia, Andreas Leo Ateng Suripto. Profesi Ateng tak lain tak bukan adalah melawak dari panggung ke panggung dan puncaknya ia kerap tampil sebagai aktor utama di kancah perfilman nasional.

Ateng lahir di Semplak, Bogor pada 8 Agustus 1942 dan merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara. Yang khas dari dirinya ialah tinggi badannya yang hanya berukuran 145 sentimeter.

Namun jangan salah, ukuran badan tidak menjadi penghalang di kehidupan Ateng. Buktinya ia sanggup menyelesaikan sekolah Taman Siswa (1962) masuk Universitas Nasional di Fakultas, Ekonomi dan Politik selama dua tahun serta besar di dunia lawak Indonesia.

Besar di Kwartet Jaya

Karier Ateng di dunia panggung dimulai sejak ia duduk di sekolah menengah (1956-1962). Waktu itu hampir setiap pagi ia mengikuti acara Panggung Gembira Anak-anak bersama Pak Kasur - ikon pendidikan Indonesia saat itu - yang muncul di RRI pada 1961-1963. Di situ, Ateng membentuk lawak Tos Kejeblos bersama almarhum Alwi dan Dori.

Pada 1963-1966, Ateng kemudian bergabung dengan kelompok lawak baru Bagyo CS bersama S. Bagyo dan Iskak. Namun, masa keemasannya dirasakan saat tergabung dalam kelompok lawak Kwartet Kita pada 1967-1974.

Sesuai namanya, kelompok lawak ini terdiri dari kuartet alias empat orang yakni Bing Slamet, Eddy Sud, dan Iskak. Atas usul Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, nama Kwartet Kita berganti menjadi Kwartet Jayakarta dan agar mudah disebut disingkat menjadi Kwartet Jaya (Jakarta Raya).

Bersama Ateng, lawakan Kwartet Jaya merajai panggung pementasan pada awal 70-an. Mereka juga memproduksi lelucon dalam bentuk kaset yang laris manis di pasaran. Mereka terkenal karena guyonan yang memberikan komentar sosial yang tepat sasaran serta dialog dan tingkah menggelitik yang mengocok perut.

Iskak, Bing Slamet, Eddy Sud, dan Ateng yang tergabung dalam Kwartet Jaya sedang menghibur khalayak di atas panggung.
info gambar

Tak seperti grup lawak kebanyakan ketika itu, Kwartet Jaya tampil lebih banyak tanpa skrip dan mengandalkan improvisasi di atas panggung. Mereka lebih sering diberi garis besar oleh Bing Slamet, si sumber ide, lalu mengembangkannya saat bermain di pentas.

Artinya, Kwartet Jaya bertopang pada kemampuan masing-masing anggotanya. Setiap personel benar-benar sanggup melawak, tak sekadar asal menimpali guyonan salah satu personilnya.

Bing Slamet yang dikenal seniman serba bisa andal menirukan logat bahasa dan gaya perempuan. Sementara Ateng dengan tubuhnya yang bantet sanggup memerankan peran orang yang gayanya sok bin tengil. Lain lagi dengan Iskak yang tampil dengan tingkahnya yang bodoh. Kemudian Eddy, meski ketampanan jadi modal utamanya ia lebih ditugasi bergerak di belakang panggung mengatur keperluan dan keuangan grup.

Di Dunia Film Bersama Iskak

Pada 17 Desember 1975, atau tepat setahun setelah Bing Slamet meninggal, Ateng membentuk duo lawak dengan Iskak. Keduanya pun kerap muncul di sejumlah acara salah satunya tayangan Ria Jenaka di TVRI. Dalam acara ini, Ateng berperan sebagai Bagong, salah seorang punakawan yang mempunyai ciri khas pemantik kelucuan penonton wayang.

Pasca Bing tiada, nama Ateng sering muncul di perfilman Indonesia. Sebenarnya Ateng sudah bermain film, bahkan sejak tahun 60-an. Sosoknya semakin sering dijumpai di film-film Bing yang menjadi pentolan Kwartet Jaya, sebut saja Bing Slamet Setan Djalanan (1972), Bing Slamet Dukun Palsu (1973), Bing Slamet Sibuk (1973), dan yang terakhir Bing Slamet Koboi Cengeng (1974).

Nama Ateng mulai besar setelah bergabung dengan Kwartet Jaya. (Foto: Parkit Film)

Judul-judul film Kwartet Jaya memang memakai "Bing" untuk namanya. Maklum, nama besar dan predikat seniman jago apa saja melekat pada sosok kelahiran Cilegon itu. Sepeninggal Bing, formula itu lalu dipakai produsen film dengan memusatkan pada Ateng. Pada 1974-1977, namanya menghias layar lebar film perak nasional dengan judul Ateng Minta Kawin (1974), Ateng Raja Penyamun (1974), Ateng Mata Keranjang (1975), Ateng Sok Tahu (1976), Ateng Bikin Pusing (1977), Ateng Sok Aksi (1977), dan lain-lain.

Di banyak filmnya, Ateng selalu berpasangan dengan Iskak, jadi partner of crime istilah kerennya. Ia kerap menjadi tokoh sentral yang teraniaya, tapi akhirnya mendulang keberuntungan kesuksesan dan inilah yang disukai penonton Indonesia. Soleh Solihun, komedian masa kini yang memerankan Iskak dalam film Lagi-Lagi Ateng (2019) menilai keduanya bak yin dan yang, karena mampu berjalan iringan dalam perbedaan yang terlihat baik itu dari segi fisik maupun latar belakang agama. Selain dengan Iskak, Ateng juga beradu akting dengan seniman panggung hiburan yang tengah naik daun saat itu sebut saja Vivi Sumanti, Ernie Djohan, Titiek Puspa, hingga Ira Maya Sopha.

Ateng yang Tidak Petantang-petenteng

Sukses dan populer komedian Indonesia, nyatanya itu membutakan diri Ateng. Rekan-rekannya mengingat Ateng sebagai sosok yang santun. Ateng juga tak mengenal kasta senior-junior yang kerap terjadi dalam dunia hiburan ketika itu.

"Jauh, dia jauh dari kesan mesti dihormati atau disanjung oleh pelawak yang lebih junior atau pelawak baru. Etikanya sangat tinggi," tulis jurnalis Ilham Bintang dalam buku Mengamati Daun-Daun Kecil Kehidupan yang mengupas tentang pesohor tanah air ’70-’90-an.

Ilham menyebut Ateng kerap menjadi tempat bertanya dan menimba ilmu bagi pelawak baru dan seniman sengkatannya. Ateng juga tak pernah terlibat konflik pribadi maupun kelompok dengan rekan seniman lain. Pelawak Srimulat, Tarzan, menilai sosok Ateng bersahaja dan toleran.

Ateng kemudian dikenal lewat sederet film populer. (Foto: Safari Sinar Sakti Film Corp)

"Kesederhanaan beliau menjadi panutan kita semua. Beliau menjauhi minuman, judi, dan kehidupan malam. Hidupnya sangat sederhana sekali dan toleran, yaitu ditunjukkan dengan semangat saling menghormati antarumat beragama," kata Tarzan dikutip GNFI dari CNN.

Selain Tarzan, dedengkot Srimulat lain Timbul juga memandang Ateng yang dianggapnya tipe pengocok perut berhasil dalam karier dan kehidupan berkeluarga. Ateng disebut sukses membina anaknya yang dalam bidang pendidikan.

Pada 6 Mei 2003, panggung lawak nasional berkabung. Ateng wafat dalam usia 61 tahun di Rumah Sakit Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur. Ateng meninggalkan istrinya Theresia Maria Reni Indrawati dan dua anak yakni Alexander Agung Suripto dan Antonius Ario Gede Suripto.

Meskipun Ateng sudah berpulang pada 2003, tetapi sosoknya tetap menjadi kenangan. Augie Fantinus, aktor yang sempat memerankan tokoh Ateng dalam film Lagi-Lagi Ateng misalnya, menilai sosoknya sebagai pelawak cerdas.

''Dia seorang pelawak yang smart. Kalau kita menonton film-filmnya, dari gestur, sifat, ucapannya dia tak pernah menyakiti hati orang lain lewat lawakannya. Karena itu saya melihat dia sebagai pelawak paket lengkap,'' ungkap Augie dikutip dari Okezone pada 2019.

---

Referensi: Okezone | CNN | Tirto | Jakarta.go.id | Tempo Publishing, "Ateng dan Para Pelawak Angkatan 60-70"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini