Memelihara Persatuan dari Filosofi Rumah Adat Betang

Memelihara Persatuan dari Filosofi Rumah Adat Betang
info gambar utama

Perbedaan bukanlah hal yang baru bagi negara Indonesia. Sebagai sebuah negara yang besar dan luas, Indonesia terdiri dari beragam budaya dan adat-istiadat yang berbeda. Bahkan, negara ini memiliki sebuah semboyan yang menggambarkan perbedaan ini, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

Tentunya, seluruh perbedaan di dalam negara ini seharusnya dapat mempererat persatuan. Namun, persatuan kerap kali diuji melalui berbagai hal, seperti perdebatan di media sosial yang berujung pada pertengkaran, berbagai berita hoaks yang dapat memicu perpecahan, ditambah lagi konflik kedaerahan yang kerap terjadi akhir-akhir ini.

Sebagai bangsa yang besar, kita mewarisi banyaknya kekayaan budaya nenek moyang, termasuk cara untuk memelihara persatuan di bumi pertiwi ini. Salah satu caranya adalah belajar dari filosofi rumah adat Betang, rumah adat suku Dayak di pulau Kalimantan.

Tempat Tinggal sekaligus Tempat Berlindung

https://indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/rumah-betang-tak-hanya-kediaman-suku-dayak
info gambar

Rumah Betang merupakan rumah tradisional suku Dayak yang memiliki bentuk sederhana namun begitu kaya akan filosofi kehidupan. Di Kalimantan Tengah, suku Dayak Ngaju menyebutnya dengan nama Huma Betang, sedangkan di wilayah lain di Kalimantan rumah Betang bisa saja memiliki penyebutan yang berbeda.

Kawan-kawan bisa menemukan beberapa Betang yang telah dijadikan sebagai cagar budaya di beberapa tempat di Kalimantan, salah satunya Betang Damang Batu yang terletak desa Tumbang Anoi, Kecamatan Kahayan Hulu Utara, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah. Kemudian, di Provinsi Kalimantan Barat, tepatnya di kota Pontianak, kawan-kawan bisa mengunjungi salah satu Betang yang terkenal dan besar, yaitu Rumah Radakng.

Bentuk rumah Betang menyerupai rumah panggung yang panjang, bahkan panjangnya bisa mencapai 100 hingga 150 meter dengan lebar hingga 30 meter. Dalam satu Betang dapat dihuni oleh puluhan keluarga yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 50 jiwa.

Setiap keluarga memiliki sekat dan kamar yang ditempatinya. Oleh karena itu, Betang pun dapat dikatakan sebagai rumah suku karena dihuni oleh banyak keluarga dan dipimpin oleh seorang kepala suku.

Untuk memasuki Betang, para penghuni rumah harus menaiki anak tangga kayu yang berjumlah ganjil. Tangga kayu ini tidak melekat pada Betang dan dapat diangkat ke dalam jika ada keadaan yang mengancam keselamatan penghuni Betang.

https://bombasticborneo.com/2018/09/rumah-betang-lunsa-hilir-dayak-taman-longhouse-kapuas-hulu/authentic-dayak-taman-kapuas-longhouse-putussibau-borneo/
info gambar

Pembangunan Betang pun tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Pada zaman dahulu, suku Dayak membangun rumah Betang menggunakan kayu-kayu hutan yang kokoh dan tidak mudah rapuh.

Biasanya, jenis kayu yang digunakan adalah kayu Ulin atau lebih dikenal sebagai kayu besi. Kayu-kayu ini kemudian ditancapkan di tanah hingga mencapai ketinggian rata-rata 5 meter dari tanah. Setelah itu, para lelaki suku Dayak pun bergotong-royong membangun Betang.

Apakah kawan-kawan bertanya-tanya mengapa rumah Betang cenderung memiliki bentuk yang tinggi? Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa Betang dibangun sedemikian rupa.

Pertama, untuk menghindari banjir yang sering terjadi di hulu sungai karena suku Dayak lebih memilih untuk membangun dan tinggal di dekat hulu sungai. Kedua, untuk menghindari serangan binatang buas yang masih berkeliaran di hutan yang ada di sekitar Betang. Terakhir, untuk menghindari serangan musuh.

Berbeda tapi Satu

https://pixabay.com/photos/grass-landscape-in-outdoor-garden-2744459/
info gambar

Betang merupakan sebuah perwujudan dari kebersamaan dan persatuan di dalam suku Dayak. Banyaknya keluarga yang berkumpul dengan berbagai latar belakang, karakter, keyakinan, dan pekerjaan menjadikan rumah Betang ibarat wadah yang meleburkan setiap perbedaan menjadi sebuah kesatuan.

Ketika sebuah keluarga yang hidup di dalam Betang menghadapi masalah, seluruh penghuni yang lain akan menolong keluarga tersebut agar masalah yang mereka hadapi dapat terselesaikan dengan baik. Rasa saling menolong terhadap sesama penghuni Betang menciptakan rasa kebersamaan dan keterikatan secara emosional untuk merasakan suka dan duka sebagai satu keluarga besar di dalam rumah Betang.

Ikatan yang kuat dari kebersamaan akan membuat persatuan yang kuat dan persatuan yang kuat dapat mengalahkan upaya adu domba. Di saat musuh menyerang Betang, seluruh keluarga akan melawan dengan seluruh kemampuan mereka.

Mereka tidak akan membiarkan musuh untuk menghancurkan rumah di mana mereka berlindung dari hujan dan panas. Sebuah tempat di mana mereka saling membantu untuk membangun wilayah, melestarikan alam, dan melahirkan generasi-generasi Dayak selanjutnya.

Sebuah Rumah Betang memiliki seorang kepala suku, dalam bahasa Dayak Ngaju disebut Pambakas Lewu yang menjadi pemimpin seluruh keluarga yang berada di dalam Betang. Pambakas Lewu harus memiliki sikap dan perbuatan yang dapat menjadi teladan bagi setiap keluarga di dalam Betang.

Seorang Pambakas Lewu ibarat pilar utama di dalam Betang, jika dia tidak dapat menjadi teladan maka setiap keluarga di dalam Betang akan terpecah dan berusaha untuk keluar dari Betang tersebut. Atau lebih parah lagi, seluruh keluarga akan memberontak dan menghancurkan Betang dari dalam.

https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-mengenakan-sweater-leher-kru-hitam-memegang-bendera-putih-dan-merah-berdiri-dekat-gunung-di-bawah-langit-biru-dan-putih-1009949/
info gambar

Apakah Kawan GNFI terpikirkan sesuatu? Benar, Betang begitu mirip dengan Indonesia. Negara kita adalah rumah dan kita sebagai penghuninya berasal dari suku yang berbeda, dengan kebudayaan berbeda, ditambah lagi keyakinan dan kepercayaan yang berbeda pula.

Namun, perbedaan-perbedaan itu seharusnya menjadi sebuah kesatuan agar rumah yang kita diami ini tetap utuh dan kuat dari serangan-serangan musuh. Ketika ada masalah yang terjadi di negara ini, sudah seharusnya kita sebagai warga negara untuk saling menolong dan bahu-membahu menyelesaikan masalah sehingga negara kita dapat tetap utuh dan kokoh.

Presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan ibarat Pambakas Lewu di dalam rumah Betang, yang sikap dan perbuatannya dapat mengayomi setiap warga negara Indonesia. Filosofi persatuan, kerukunan, dan kebersamaan yang telah ada di dalam masyakarat Dayak melalui rumah Betang dapat menjadi pembelajaran bagi kita sebagai warga negara Indonesia.

Kita bisa belajar bagaimana penghuni Betang saling bersatu di dalam perbedaan yang mereka miliki. Jika bukan kita yang memelihara negara ini, siapa lagi yang akan melakukannya?

Referensi: Indonesia.go.id | Antaranews.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini