Pocut Meurah Intan, Srikandi Aceh yang Diasingkan ke Blora

Pocut Meurah Intan, Srikandi Aceh yang Diasingkan ke Blora
info gambar utama

Kesultanan Aceh menjadi salah satu willayah yang cukup sulit untuk ditaklukan oleh pasukan kolonial Belanda. Tercatat, Belanda menyatakan perang melawan Aceh pada tahun 1873 tapi Kesultanan Aceh baru menyerah pada 1904.

Selain medan yang begitu sulit, pasukan Aceh pun dipimpin oleh tokoh, ulama, dan panglima yang begitu tangguh. Para pemimpin-pemimpin ini tidak hanya laki-laki, tapi juga para wanita yang luar biasa.

Tercatat nama-nama seperti Cut Nyak Dhien, Laksamana Malahayati, Cut Muetia yang cukup akrab d itelinga masyarakat. Tapi ada satu wanita lagi yang begitu merepotkan Belanda, yaitu Pocut Meurah Intan.

Pocut Meurah Intan atau kerap disapa 'Mbah Tjut' merupakan salah satu pahlawan Aceh yang dimakamkan di Tegalsari, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pada sebuah riwayat, Mbah Tjut lahir pada tahun 1833 di Bireun, sebuah wilayah sagi XXII di Mukim di bawah Kesultanan Aceh.

Nama Pocut Meurah merupakan panggilan khusus bagi perempuan keturunan kelurga Sultan Aceh. Pocut Meurah Intan disebut sebagai tokoh kesultanan Aceh yang paling anti terhadap Belanda. Apalagi Ia sudah ditanamkan nilai-nilai agama dan patriotik sejak kecil oleh ayahnya, Teungku Meureh Intan yang seorang hulubalang di Biheue.

Cerai dari suami dan berjuang bersama ketiga anaknya

Dirinya pun berambisi untuk melawan pasukan kolonial Belanda yang masuk ke negerinya. Tapi, wanita yang juga dikenal sebagai Pocut Di Biheue ini begitu marah setelah suaminya, Tuanku Abdul Madjid yang menyerah kepada Belanda. Ia pun meminta bercerai kemudian melanjutkan perjuangan melawan Belanda bersama putra-putranya.

Bersama tiga putranya, Tuanku Muhammad Batee, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin, ketiganya saling bahu-membahu melawan pasukan kolonial. Karakternya yang tegas, menghasilkan ketertiban, keamanan, dan kemakmuran sehingga membuat masyarakat ikut mendukung. Hal inilah yang membuat Belanda begitu khawatir dengan sepak terjang wanita satu ini.

Akhirnya pada ekspedisi militer Hinda Belanda pada tahun 1902 di Aceh, Meyjen T.J Veltman Bersama 17 tentara menemukan tempat persembunyian Pocut Meurah Intan di Biheue. Tidak ingin menyerah, dirinya melawan sendiri rombongan patroli tersebut. Sehingga ia memiliki luka yang dalam di kepala, bahu, dan otot tumitnya putus sehingga harus diamputasi ketika dirawat dalam tahanan kolonial.

Memang cintanya yang begitu dalam kepada tanah air dan hikayat perang sabil, membuat Pocut Meurah Intah pantang mundur dalam peperangan. Karena ketangguhan ini membuat kagum Veltman, hingga dirinya berempati saat ada seorang komandan yang menyarankan membunuhnya.

Pada bukunya, H.C Zentgraff menjulukinya sebagai de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) dan grandes dames (perempuan besar).

Setelah sembuh, dia bersama putranya, Tuanku Budiman dijebloskan ke penjara Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Sementara Tuanku Nurdin terus melakukan perjuangan hingga pada 18 Februari 1905, Belanda menemukan tempat persembunyian Tuanku Nurdin di Desa Lhok Kaju. Akhirnya Tuanku Nurdin ditahan bersama ibu dan kakaknya.

Lalu pada 6 Mei 1905, Pocut Meurah Intan bersama kedua putranya dan seorang bangsawan Aceh bernama, Tuanku Ibrahim dibuang ke Blora, Jawa Tengah.

Pengasingan di Blora hingga wafat

Makam Pocut Meurah Intan
info gambar

Selama 30 tahun di tempat pengasingan, kesehatan Pocut Meurah Intan menurun drastis karena usianya yang sudah tua. Dirinya tidak dikenal banyak orang, apalagi terkendala bahasa dengan masyarakat sehingga tidak dapat berjuang lagi melawan penjajahan warga.

Dia juga tinggal dan dirawat oleh salah satu keluarga di Desa Kauman. Warga setempat memanggilnya dengan nama Mbah Tjut, yang kemudian meninggal dunia pada 30 September 1937 sesuai yang tertera pada nisan makamnya di Desa Tegal Sari, Kabupaten Blora.

Melansir dari National Geographic Indonesia, Mochammad Djamil, generasi ketiga penjaga situs makam Pocut Meurah Intan menyebut banyak orang yang tidak berani merawat pahlawan asal Aceh ini. Hal ini karena, banyak yang takut dengan Belanda, hanya kakeknya RMN Dono Muhammad yang berani mengamankan ke kediamannya.

"Selama persembunyiannya, enggak berani keluar dia (Pocut Meurah Intan) biar enggak ketahuan Belanda. Apalagi dia sakit-sakit an, dan kakinya kan diamputasi," terang Djamil.

Meski Dono meninggal pada 1933, perawatan dan penjagaan kepada Pocut Meurah Intan terus dilakukan hingga wafatnya. Sebelum kepergiannya, Pocut Meurah Intan berwasiat ketika meninggal agar dimakamkan di Blora saja.

Ketika Pocut Meurah Intan meninggal, anak-anak Dono memakamkannya di pemakaman keluarga di Desa Temurojo, Blora. Hingga kini, Djamil bersama sanak keluarganya tetap mempertahankan wasiat itu.

"Pernah perwakilan Provinsi Aceh datang kemari, mereka mau memindahkan makamnya di Aceh. Tapi kami menentangnya karena ini sudah jadi wasiat dari beliau langsung pada kami, ini amanahkan yang diberikan pada keluarga kami," pungkasnya.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini