Terusan Suez, dan Kisah Tenggelamnya Imperium Raksasa

Terusan Suez, dan Kisah Tenggelamnya Imperium Raksasa
info gambar utama

Hari-hari ini, Terusan Suez (Suez Canal) kembali menjadi buah bibir pasca tersangkutnya kapal Ever Given yang membuat Terusan Suez ditutup, dan seluruh dunia pun terkena dampaknya. Hingga kini, total kerugian dari dampak Terusan Suez yang tertutup sulit dihitung, sedangkan total nilai barang yang tertunda pengirimannya akibat Terusan Suez macet dan harus dikirim melalui jalur alternatif sangat bervariasi.

Jonathan Owens, spesialis logistik di University of Salford Business School, mengatakan, barang dagangan senilai Rp 43,22 triliun yang biasanya melintasi Terusan Suez setiap hari, seperti dikutip dari Kompas.com. (Saat tulisan ini disusun, tersiar kabar bahwa kapal Ever Given sudah berhasil 'dibebaskan'.)

Tak kali ini saja Terusan Suez ini menjadi berita. Pada tahun 50-an, krisis yang jauh lebih parah di Terusan Suez mendominasi berita dunia, dan memicu krisis besar multidimensi, dan mengubah lanskap sejarah dunia.

Sejarah Terusan Suez berawal di abad 19. Terusan Suez (dalam bahasa Arab al-Suways), yang terletak di sebelah barat Semenanjung Sinai, merupakan jalur kapal yang dibangun dengan mengeruk daratan sepanjang 163 km yang terletak di Mesir, yang menghubungkan Pelabuhan Said di Laut Tengah dengan Suez di Laut Merah.

Terusan Suez ini memungkinkan transportasi laut dari Eropa ke Asia tanpa harus mengelilingi benua Afrika seperti sebelum-sebelumnya. Sebelum adanya terusan ini ini, untuk menghemat waktu ada yang melakukan cara mengosongkan kapal dan membawa barang-barang muatannya lewat darat antara Laut Tengah dan Laut Merah. Meski repot luar biasa, cara ini terbukti jauh lebih cepat dibandingkan memutari Afrika.

Penghubung dua laut, Suez Canal | PD-USGov-NASA
info gambar

Pembangunan Terusan Suez dilakukan antara tahun 1859 dan 1869 oleh Universal Company of the Maritime Canal of Suez, sebuah perusahaan Prancis yang didirikan oleh Ferdinand de Lesseps pada tahun 1858. Terusan tersebut secara resmi dibuka pada 17 November 1869. Singkat cerita, karena krisis keuangan, perusahaan pengelola Suez menjual sebagian kepemilikannya kepada 1876 kepada pemerintah Inggris melalui perdana menterinya Benjamin Disraeli.

Mesir sendiri meraih kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1922, namun Inggris tetap nenempatkan ribuan militernya di negara tersebut untuk mengantisipasi Perang Dunia 2 dan menjaga Terusan Suez agar tidak direbut oleh musuh. Benar saja, Perang Dunia 2 terjadi pada tahun 1939 hingga 1945, dan Inggris berhasil mengamankan Terusan Suez dari tangan Jerman, sehingga jalur logistik (terutama pasokan minyak) ke Inggris tetap mengalir ketika perang berlangsung.

Setelah Perang Dunia 2 berakhir, terusan ini makin ramai setelah booming minyak seiring dibukanya ladang-ladang minyak baru di negara-negara Teluk Persia, juga karena meningkatnya perdagangan dunia. Perusahaan pengelola Suez pun untung sangat besar hingga puluhan miliar dollar, jumlah yang sangat besar di era itu.

Begitu besarnya keuntungannya, sehingga Universal Company of the Maritime Canal of Suez mampu menginvestasikan uangnya ke seluruh dunia, termasuk ke perkebunan, pembangkit listrik, rel kereta, hingga ke maskapai penerbangan.

Gamal Abdul Nasser | shutterstock.com
info gambar

Situasi berubah cepat saat Raja Farouk, penguasa Mesir saat itu, dikudeta oleh Gamal Abdul Nasser, seorang kolonel AD Mesir, yang kemudian mengakhiri monarki Mesir. Dalam waktu singkat, Nasser menjadi penguasa yang baru dan mencanangkan pembangunan infrastruktur besar-besaran di Mesir, salah satunya adalah rencana pembangunan Bendungan Sungai Nil di Aswan, yang pembangunannya diharapkan dapat terlaksana jika Bank Dunia memberikan pinjamannya.

Ternyata, Bank Dunia menolak pengajuan pinjaman tersebut. Menanggapi penolakan tersebut, Nasser menyatakan pada 26 Juli 1956 bahwa Mesir akan menasionalisasi Terusan Suez. Kalau itu, lalu lintas Terusan Suez mencapai 122 juta ton per tahun, lebih dari setengahnya adalah pengiriman minyak. Sebuah sumber uang yang sangat besar bagi “penguasa” Suez sebenarnya, yakni Inggris dan Prancis.

Perlu diingat, saat itu, Inggris masih menjadi imperium paling dominan di dunia, superpower layaknya Amerika Serikat saat ini. Pada masa itu, kekuasaan Inggris membentang di berbagai belahan bumi, dari Karibia hingga ke Singapura dan Malaya (kini Malaysia), Hong Kong, pun juga sebagian besar wilayah benua Afrika.

Jangan lupa, sejak 1882, Inggris mengintervensi sebuah urusan domestik dan internasional Mesir, sesuatu yang sangat dibenci oleh Gamal Abdul Nasser.

Meski begitu, kekuasaan imperium Inggris memang mulai meredup sejak Perang Dunia II. Jajahan terbesar mereka, anak benua India (kini menjadi India, Pakistan, Bangladesh, Maldives, Nepal, Bhutan, Sri Lanka), telah memerdekaan diri.

Gerakan-gerakan nasionalis untuk memerdekakan diri juga tumbuh subur di sebagian besar wilayah jajahannya, yang didorong salah satunya oleh KAA di Bandung yang diadakan setahun sebelumnya, juga munculnya kekuatan ‘penyeimbang’ baru dunia, yakni Soviet Rusia, dan juga didorong oleh Amerika Serikat yang sedang mengangkat reputasinya negara adidaya. Inggris sendiri baru mulai bangkit dari hancur lebur ekonominya pasca perang.

Meski begitu, Inggris masihlah negara kuat. Negara tersebut memiliki senjata nuklir, punya kursi permanen di dewan keamanan PBB yang punya hak veto, juga pasukan militer yang kuat di berbagai belahan dunia. Inggris juga masih kuat secara ekonomi, tahun 50-an mereka adalah trading nation yang kuat, industri yang mengakar, juga pelopor utama perdagangan bebas yang kala itu masih menjadi wacana.

Sebab itulah keputusan Nasser menasionalisasi Terusan Suez membuat sang superpower tidak terima. Inggris dengan cepat menyiapkan armada tempurnya untuk menginvasi Mesir dan menumbangkan Nasser. Perasaan superioritas moral dan militer yang terakumulasi selama berabad-abad selama era kolonialisme dan imperialime.

Tentara Inggris dan Prancis menawan pasukan dan relawan Mesir | www.cvce.eu
info gambar

Rasisme lama pun mencuat kembali. Ketika kaum pembaharu di Mesir berani menyatakan bahwa mereka bisa dan AKAN mengambil alih terusan Suez, mereka masih menganggap bahwa bangsa Mesir adalah bangsa terbelakang yang tidak bisa diandalkan, dan hanya bangsa barat yang bisa mengelola Suez secara baik.

PM Inggris kala itu, Anthony Eden menyatakan akan merespon ‘kekurangajaran’ Nasser dengan satu jawaban : invasi skala penuh. Inggris kemudian menggandeng Prancis (juga juga punya klaim kepemilikan atas Suez) menyerbu Mesir secara cepat. Pasukan udara kedua negara menyerang kawasan Suez untuk melumpuhkan pasukan pertahanan Mesir melalui sebuah operasi bernama "Operation Musketeer".

Ketika dunia terkesiap dan marah melihat aksi membabi buta dua negara Eropa tersebut, Inggris dan Prancis beralasan kemudian bahwa Mesir dan Israel sedang berperang, dan serangan mereka ke Suez adalah untuk memisahkan Mesir dan Suez agar menjauh dari Terusan Sues, dan menjaga keberlangsungan navigasi di kanal terpenting di dunia tersebut.

Semenanjung Sinai
info gambar

Mengapa ada Israel di sini? Pada kenyataannya, Inggris dan Prancis, telah melakukan negosiasi rahasia dengan Israel dan membuat kesepakatan untuk operasi militer bersama. Israel tentu punya kepentingan atas konflik ini karena sejak berdirinya Israel pada 1948, Mesir selalu menolak kapal berbendera Israel, atau kapal apapun dari dan ke Israel, untuk melewati Terusan Suez. Kesepakatan itu terlihat kasat mata.

Pada 29 September 1956, tentara Israel menyapu gurun Sinai, atau, dua hari menjelang serangan Inggris dan Prancis. Dalam waktu kurang dari tujuh hari, seluruh semenanjung Sinai berada di tangan Israel.

Dunia rupanya tak tertipu pada muslihat tersebut. Invasi Inggris-Prancis dipaksa berhenti oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas desakan Amerika Serikat, delapan hari setelah serangan. Bagaimana dengan angkarat bersenjata Mesir? Angkatan udara Mesir telah dihancurkan dan tentaranya juga banyak yang menjadi korban. Perlawanan luar biasa mereka memang tak mampu menandingi senjata-senjata berat gabungan Inggris-Prancis-Israel. Mesir telak kalah secara militer.

Kalau itu dunia hanya bisa menunduk, dan tinggal menunggu waktu, bahwa Nasser akan jatuh, dan kendali atas Terusan Suez akan kembali ke tangan Inggris dan Prancis.

Benarkah?

Yang terjadi berikutnya sungguh tak terduga. Atas perintah Nasser 47 rongsokan kapal besar ditenggelamkan di jalur masuk terusan, yang menutup total jalur laut yang melewatinya, persis yang terjadi saat ini. Dua calon kekuatan baru dunia kala itu, AS dan Soviet mengecam keras aksi militer Inggris-Prancis-Israel, dan dampak global yang disebabkannya. Ekonomi global terdampak hebat akibat terhentinya pasokan minyak dari Teluk Persia. Ramai-ramai kemudian Inggris disalahkan atas krisis global terbesar.

Ike, penguasa baru | Public Domain
info gambar

Dwight Eisenhower, presiden AS kalau itu, dikabarkan marah besar, dan menyatakan dengan lantang bahwa “Inggris bukan sahabat AS” dalam aksi ini, sesuai yang tak diduga oleh Inggris, karena sebelumnya AS sempat dibuat marah akibat pengakuan Gamal Abdul Nasser atas kekuasaan komunis China dan mendekatnya Nasser ke blok timur. Ike (panggilan Eisenhower) bahkan mengancam, jika Inggris tak segera menghentikan invasi, maka AS tak akan memberi pinjaman uang untuk membangun ekonomi Inggris yang babak belur dan belum pulih.

Inggris, juga Prancis harus segera menarik diri dari Mesir, dan pasukan perdamaian PBB yang akan menggantikan. Soviet yang kala itu juga tengah mempromosikan diri sebagai kekuatan besar dunia, dan juga sedang sibuk akibat pemberontakan anti komunis di HUngaria, juga mengancam jika keduanya tidak menarik diri, maka Soviet tak akan segan untuk ‘masuk gelanggang’ secara militer.

Tak ayal, Inggris pun ciut.

Prof Simon Hall, penulis buku 1956: The World in Revolt mengatakan bahwa Krisis Suez tidak hanya membuat tegang hubungan Inggris dengan AS, tetapi menunjukkan bahwa Inggris bukan lagi kekuatan dominan di dunia. Sang superpower lama itu sudah menua, dan mudah digertak., "Inggris dipaksa untuk mundur dan ini memalukan karena seluruh mata dunia menyaksikannya" tambahnya.

Kejadian di Suez tahun 1956 membawa keruntuhan imperium Inggris secara lebih cepat. "Itu adalah awal dari akhir kerajaan Inggris dan itu mendorong gerakan anti-kolonial yang sedang tumbuh. Sebagian besar wilayah imperium lenyap dalam 10 tahun (setelahnya), jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan orang sebelumnya”.

Demo anti perang Suez di Inggris | National Army Museum
info gambar

Suez juga menumbuhkan kesadaran sebagian besar anak-anak muda di Inggris akan kejahatan yang dilakukan oleh negerinya selama berabad-abad. Jutaan orang turun ke jalan menentang invasi Inggris ke Mesir, dan menentang misi jahat di baliknya. Mereka tak ingin lagi menjadi bagian dari Inggris lama yang ‘evil’, mereka ingin melihat Inggris menjadi bagian dari dunia baru.

Perlu diingat, bahwa dunia sedang berubah. Pada tahun 1956, Elvis Presley sudah menjadi mega bintang, Disneyland telah dibuka di California, dan teater-teater di Inggris tanpa henti menampilkan pergolakan dan revolusi dunia.' Invasi Inggris ke Suez Mesir menjadi penanda, sekaligus pemisah, bahwa imperialisme yang dulunya dianggap sebagai sebuah kebanggaan bangsa, kini dianggap sebagai sebuah kajahatan tanpa ampun.

Dr Adrian Bingham dari University of Sheffield, Inggris menyatakan hal yang menarik. "Inggris masih melihat dirinya sebagai pemenang Perang Dunia Kedua dan kekuatan paling dominan dunia. Orang-orang tidak siap untuk menerima kemunduran sebuah bangsa, meskipun pada dasarnya, imperium Inggris sudah mulai surut dengan India memperoleh kemerdekaan pada tahun 1947. Masih ada perasaan bahwa kita adalah kekuatan besar, dan konflik Suez membuka mata banyak orang Inggris, dan saat mereka sadar dan terbuka matanya, mereka melihat hanya ada dua negara adidaya - Amerika Serikat dan Uni Soviet."

Referensi

"The Suez Canal - A vital shortcut for global commerce"(PDF). World Shipping Council. Archived(PDF) from the original on 22 April 2018. Retrieved 15 March 2019.

Feyrer, James. "Distance, Trade, and Income – The 1967 to 1975 Closing of the Suez Canal as a Natural Experiment"(PDF). NBER. National Bureau of Economic Research. Archived(PDF) from the original on 11 February 2021. Retrieved 27 March 2021.

"Egypt's Suez Canal blocked by huge container ship". BBC News. 24 March 2021. Archived from the original on 23 March 2021. Retrieved 24 March 2021.

“1956: Suez and the End of Empire.” The Guardian, Guardian News and Media, 14 Mar. 2001, www.theguardian.com/politics/2001/mar/14/past.education1

“How Significant Was the Suez Crisis?” HistoryExtra, 26 Nov. 2020, www.historyextra.com/period/20th-century/how-significant-suez-crisis-canal-anthony-eden-failure-egypt-invasion/

Newsroom, The. “How the Suez Crisis Sank the British Empire.” Yorkshire Post, Yorkshire Post, 16 Nov. 2016, www.yorkshirepost.co.uk/news/politics/how-suez-crisis-sank-british-empire-1788585

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini