Keenam Kalinya, Rhenald Kasali Masuk Jajaran Top 30 Global Gurus in Management

Keenam Kalinya, Rhenald Kasali Masuk Jajaran Top 30 Global Gurus in Management
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia (UI) Profesor Rhenald Kasali, untuk keenam kalinya kembali masuk dalam jajaran "Top 30 Global Gurus in Management 2020" dari lembaga riset The Global Gurus. Bahkan, Profesor Rhenald Kasali menjadi satu-satunya sosok yang mewakili Indonesia.

Tentu saja hal tersebut menjadi prestasi yang membanggakan bagi Indonesia. Bagaimana tidak? Profesor Rhenald Kasali sejajar dengan tokoh ekonomi dunia, seperti Prof. John Kotter (Harvard Business School), Prof. Joseph Eugene Stiglitz (Columbia University), Prof. Jeffrey Pfeffer (Stanford University), Prof. Vijay Govindarajan (Darmouth College), dan nama-nama populer lainnya.

Sebagai informasi, penetapan Top 30 Global Gurus didasarkan atas tujuh parameter, yaitu opini publik (30 persen), keaslian ide (30 persen), dampak ide-ide bagi masyarakat (10 persen), kegunaan ide (10 persen), jumlah publikasi dan karya ilmiah (5 persen), serta gaya presentasi & faktor keguruan (15 persen).

Prof. Rhenald Kasali © Beritasatu.com
info gambar

Apa Tanggapan Sang Profesor?

Menanggapi rilisnya daftar tersebut, Rhenald menyatakan bahwa lingkungan Indonesia yang super dinamis menjadi kesempatan bagi ilmuwan dari dalam negeri untuk menambah literatur dunia. Baginya, pencapaian tersebut sekaligus menjadi pengakuan dunia terhadap pendidikan yang ada di Indonesia pada kancah Internasional.

Sejatinya, ia tak berupaya meraih atau mempertahankan penghargaan tersebut. Ia membagikan ilmu dan observasi tanpa ada niatan untuk mencapai sesuatu. Ia senang melihat para pemimpin menyukai gagasannya, meski terkadang pemikiran yang ia tawarkan menimbulkan pro-kontra di kalangan sebagian ekonom.

"Seorang guru tak pernah mengharapkan pengakuan apa-apa. Hanya ingin melihat bangsa kami maju dan ilmu kami berguna bagi banyak orang. Saya ingin dikenal sebagai pendidik dan pembaharu. Namun, berbeda dengan pemikir biasa, saya ingin menunjukkan kemampuan merealisasikan ajaran saya," ujarnya kepada tim GNFI.

Di masa pandemi, Rhenald terpaksa menunda sejumlah inisiatif publikasi buku dan hasil riset. Namun, lebih fokus membina kaum muda, mengembangkan platform edukasi, dan menghidupkan kembali program kewirausahaan sosial.

Kini, Rhenald yang menjabat sebagai Komisaris Utama PT Telkom juga tengah mendalami program transformasi untuk mengantarkan perusahaan tersebut menuju masa depan yang lebih baik.

Prof. Rhenald Kasali © Mediaindonesia.com
info gambar

Rekam Jejak dan Karya

Selain terkenal sebagai pakar manajemen, Rhenald memiliki perjalanan panjang sebagai pendidik dan pelopor sejumlah kegiatan. Ia meraih gelar PhD dari University of Illinois di Urbana Champaign, AS dan gelar profesor dari UI pada tahun 2009.

Tak hanya itu, Rhenald juga membangun pendidikan anak usia dini dengan konsep baru dalam bingkai kewirausahaan sosial dan memberi bimbingan mentorship RK Mentee. Ia juga mendirikan Rumah Perubahan, sebuah pusat pelatihan yang menjadi percontohan dari social business bagi kalangan para akademisi dan pegiat sosial.

Adapun sejumlah buku sudah dibuat oleh Profesor Rhenald, antara lain Sembilan Fenomena Bisnis (1997), Change! (2005), Recode Your Change DNA (2007), Cracking Zone (2011), dan Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger (2014), Disruption (2017), The Great Shifting (2018), dan #MO (2019).

Terkait manajemen di Indonesia, Rhenald mengungkapkan bahwa saat ini masih banyak anggapan kalau manajemen berarti keteraturan. Padahal, dunia tengah bergerak ke arah ketidakteraturan.

Sesuatu akan terus berkembang dan berubah seiring waktu menjadi lebih dinamis, tangkas, dan adaptif bukan menjadi mekanistik, rigid, dan birokratis. Selain itu, para ilmuwan masih punya tugas untuk mengajak masyarakat dan institusi menjelajahi hari esok.

"Saya memandang Indonesia di 10 tahun mendatang akan ada banyak pelaku usaha baru yang menggantikan pelaku usaha lama. Masa depan perekonomian Indonesia kelak akan ada di desa, bukan di kota atau kawasan perindustrian. Ketika kaum muda sudah mulai kembali ke desa, maka Indonesia akan mengukuhkan dirinya sebagai pemasok pangan yang penting. Tak hanya untuk pasar domestik, melainkan juga untuk dunia," jelas Rhenald.

Indonesia bisa menjadi mitra para pemasok teknologi global dengan menghadirkan ekosistem digital yang diperhitungkan dunia. Namun, pelaku-pelaku usaha dan pemerintah harus mengadopsi pemikiran baru dan melakukan investasi dalam future skills.

Perguruan tinggi akan tergantikan oleh teknologi dan komunitas ahli yang bergabung dalam platform. Pada saat itu, kaum muda yang bisa menjalani adalah mereka yang eksploratif dan mampu belajar sendiri seumur hidup. Di sisi lain, Indonesia harus meredam gairah kebebasan karena kehadiran teknologi digital agar tak menimbulkan kebingungan akan berita bohong.*

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini