Ondel-Ondel, Boneka Tolak Bala yang Dilarang Ngamen

Ondel-Ondel, Boneka Tolak Bala yang Dilarang Ngamen
info gambar utama

Pada Minggu (28/3/2021), Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, menyampaikan alasan pelarangan ondel-ondel sebagai sarana mengamen ataupun mengemis. Riza menyebut larangan ini merupakan bentuk apresiasi budaya.

Ondel-ondel, sambungnya, adalah warisan budaya betawi harus ditempatkan pada level yang tinggi dan tidak digunakan untuk mengamen. Selain itu, kehadiran ondel-ondel yang memiliki ukuran besar di pinggir jalan dan pemukiman dikhawatirkan menganggu masyarakat.

"Kebijakan (melarang ondel-ondel sarana ngamen) ini diambil justru untuk mangapresasi dan menempatkan ondel-ondel sebagai budaya luhur kita, budaya bangsa, termasuk budaya betawi di tempat yang baik," Kata Riza.

Secara resmi, Pemprov DKI melarang penggunaan ondel-ondel sebagai sarana mengamen melalui akun resmi instagram Satpol PP DKI Jakarta @satpolpp.dki pada, Rabu (24/3).

Dalam unggahan itu, disebutkan bahwa ondel-ondel perlu dijaga kelestariannya dari tangan-tangan sekelompok orang yang menggunakannya sebagai sarana mengamen, mengemis, atau meminta uang. Perda sanksi yang digunakan adalah Perda Nomor 8 tahun 2007 tentang ketertiban umum.

Kontroversi pelarangan

Sontak pelarangan ondel-ondel untuk mengamen menuai pro dan kontra, salah satunya sejarawan JJ Rizal melalui akun twitternya @JJRizal mengkritik kebijakan tersebut.

Menurutnya, pelarangan menggunakan Perda Kebudayaan Betawi ini memiliki dua kesalahan besar. Hal pertama adalah Pemprov DKI dianggapnya tidak mengerti sejarah ondel-ondel yang memang digunakan oleh masyarakat betawi untuk hiburan rakyat masuk keluar kampung.

Kesalahan kedua adalah, Perda Kebudayaan Betawi Nomor 11 Tahun 2017 sebagai rujukan pelarangan ondel-ondel sebagai sarana mengamen adalah produk yang tidak mengerti tentang ondel-ondel itu sendiri.

"Kedua ngasih liat Perda Kebudayaan Betawi itu produk aturan yang enggak ngerti kebudayaan betawi," katanya.

Dari Tolak Bala hingga ikon Kota Jakarta

Ondel-ondel sudah sejak lama menghiasi Kota Jakarta, tapi kesenian ini tidak tercipta begitu saja. Sejarah mencatat, ondel-ondel sudah digunakan sebagai penolak bala sejak abad ke 17. Hal ini diambil dari catatan pedagang dari Inggris Edmund Scott.

Menurut Kustopo yang dikutip dari bukunya yang berjudul Mengenai Kesenian Nasional 6: Ondel-Ondel yang terbit pada 2008, menceritakan asal muasal budaya betawi satu ini.

"Ia menulis adanya sebuah kebudayaan unik yang berbentuk boneka raksasa, yang dipertunjukan kepada masyarakat Sunda Kelapa dalam sebuah upacara adat," tulis Kustopo. Edmund Scott, menurut Kustopo tidak menulis nama dari boneka tersebut, namun diindikasikan sebagai ondel-ondel.

Selain itu menurut JJ Rizal dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul Ondel-Ondel dan Korupsi (2011), menjelaskan soal boneka raksasa yang dinamakan oleh Edmund Scott "een rause en een monster" sebagai manifesti pelindung kampung.

Hal ini melihat fakta boneka yang dilihat oleh Edmund Scott saat itu jadi bagian iring-iringan Pangeran Jayakarta, Wijaya Krama saat merayakan upacara sunatan Raja Banten, Abdul Mufakhir yang masih berusia sepuluh tahun.

Sementara dalam catatan sejarah tentang ondel-ondel dalam buku Jakarta Membangun (1998) karya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, DKI Jakarta H Basri Rochadi menyebut ondel-ondel berakar dari budaya Hindu-Jawa.

Dari awalnya, Ondel-ondel dianggap sebagai perwujudan dari Dewa Brahma, Wisnu, Siwa dan istri-istrinya yang dipersembahkan sebagai hadiah saat orang Betawi berkunjung ke daerah lain.

Ondel-ondel memang dianggap sebagai upaya ikhtiar, dari melawan penyakit dan juga gagal panen. Sehingga ondel-ondel selalu datang secara berpasangan. Ondel-ondel wanita dianggap sebagai perwujudan Dewi Sri (Dewi Kesuburan), sementara ondel-ondel laki-laki adalah perwujudan hal buruk, hal ini terlihat dari wajahnya yang menakutkan.

Menurut disertasi Mita Purbasari Wahidayat yang berjudul Ondel-Ondel Sebagai Ruang Negoisasi Kultural Masyarakat Betawi (2019) disebutkan istilah lain dari ondel-ondel adalah Barongan.

Barulah setelah Ali Sadikin memimpin Jakarta, ondel-ondel pun dianggap sebagai budaya dan kearifan lokal masyarakat Betawi asli. Di tangan Ali Sadikin, selain mempercantik Jakarta, Ia juga menghidupkan kembali ondel-ondel yang sempat mati suri lalu menjadikanya ikon Jakarta.

Mengutip buku Ramadhan K.H dalam buku Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 (1992) , diuraikan bagaimana wujud suka cita Ali Sadikin akan budaya Betawi yang diperlihatkan dalam peringatan ulang tahun ke 450 pada 1977. Saat itu Ali, membawa arak-arakan yang meriah, salah satunya ondel-ondel.

"Tak kurang dari hampir 70 peserta barisan turut mengambil bagian dalam acara arak-arakan itu, diantaranya 60 orang membawa bendera Merah Putih. 100 orang lebih membawa umbul-umbul, sekian banyak rombongan drum band, ondel-ondel 60 pasang, penganten Betawi di 10 delman, sepeda motor. Pendeknya kemeriahan yang tidak bisa saya lupakan. Semoga ini menjadi kenang-kenangan yang indah bagi penduduk Jakarta juga. Hakikatnya ini keramaian untuk masyarakat Jakarta," ucapnya.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini