Sejarah Hari Ini (2 April 1946) - Lahirnya Hamengkubuwono X, Sultan di Pusaran Reformasi

Sejarah Hari Ini (2 April 1946) - Lahirnya Hamengkubuwono X, Sultan di Pusaran Reformasi
info gambar utama

Sultan Hamengkubuwono X yang terkenal dengan sapaan Ngarso Dalem, Sinuwun atau Sri Sultan merupakan penerus tahta kepemimpinan keraton Yogyakarta yang sebelumnya dipegang oleh Sultan Hamengkubuwono IX, ayahnya sendiri.

Lahir pada 2 April 1946, dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito merupakan putra tertua, ia ditunjuk oleh ayahnya sebagai putra lurah atau yang dituakan di antara semua Pangeran Keraton Yogyakarta.

Selanjutnya dia diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi. Gelar ini menjadi tanda bahwa dirinya akan menjadi penerus keraton Yogyakarta.

Setelah ayahnya, Sultan Hamengkubuwono IX meninggal dunia, KGPH Mangkubumi dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubuwono X. Penobatan ini terjadi pada tanggal 7 Maret 1989 yang tercatat menjadi penobatan Sultan Yogyakarta tanpa persetujuan Belanda. Pada pidato penobatannya, Hamenngkubuwono X menegaskan bahwa tahta adalah untuk rakyat.

"Totalitas jiwa raga yang dicurahkan bagi Republik Indonesia, sebagai jawaban atas piagam kedudukan yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia itu, telah mendapat pengakuan masyarakat sebagai tahta untuk rakyat," ujar Sultan yang dikutip dari Kompas (8/3/1989).

Sultan Hamengkubuwono X akhirnya menjadi sosok yang penting dalam keistimewaan Yogyakarta dengan mendamaikan sistem demokrasi dan monarki di Indonesia. Dirinya dilantik menjadi Sultan Keraton Yogyakarta sejak 1989 dan menjabat sebagai Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak tahun 1998 hingga sekarang.

Dalam perjalannanya, memang terjadi banyak perdebatan mengenai status keistimewaan DIY yang didasarkan pada UU No 3 Tahun 1950 tentang pembentukan DIY termasuk tentang jabatan gubernur.

Polemik itu berakhir berkat perjuangan panjang rakyat Yogyakarta menuntut status keistimewaan DIY dari pemerintah pusat. Akhirnya DPR pada 2012 mengesahkan UU tentang Keistimewaan DIY sehingga posisi gubernur DIY dan wakilnya diperoleh melalui proses penetapan bukan pemilihan

Sultan dalam Pusaran Reformasi

Sultan Hamengkubuwono X memang terkenal dekat dengan rakyat. Berulang kali dirinya menyatakan keberpihakan pada rakyat harus tetap dilakukan sebagai suatu panggilan. Hal ini terbukti saat gelombang reformasi pada 14 Mei 1998, Sultan mengatakan kalau dirinya siap turun ke jalan.

Dan itu bukan hanya perkataan saja, dirinya benar-benar tampil dan berpidato diberbagai tempat menyuarakan pembelaan terhadap rakyat. Pada sebuah pidatonya, Sultan berpesan kalau Yogya harus menjadi pelopor gerakan reformasi secara damai dan tanpa kekerasan.

Kehadiran Sultan menyedot animo yang besar dari masyarakat Yogyakarta, terbukti dengan datangnya satu jutaan orang yang turut serta menyaksikan. Massa mendatangi beberapa tempat, seperti alun-alun utara dan pagelaran Kraton.

Bahkan, karena tempat itu tidak dapat menampung luapan massa kemudian memenuhi beberapa jalan. Sebelumnya dalam sebuah orasi yang dilakukan di Kampus UGM, Alumnus Fakultas Hukum UGM ini menyatakan dukungan pada gelaran reformasi.

"Saya siap memimpin perjuangan yang panjang untuk reformasi ini bersama saudara-saudara di garda terdepan," ungkap Sultan seperti dikutip dari National Geographic.

Berkat Sultan pula, aparat keamanan akhirnya berani melepas mahasiswa ke alun-alun utara untuk mendengarkan maklumat tersebut. Padahal sebelumnya hampir setiap hari mahasiswa bersitegang melawan aparat keamanan untuk keluar dari kampus.

Pada hari yang bertepatan dengan peringatan Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1998, mahasiswa berbaris dengan tertib sambil menyuarakan 'mantra sakti reformasi' hingga Sultan selesai menyampaikan maklumat politik.

Hingga sekarang Sultan tetap menjadi tokoh yang diperhitungkan di dunia politik. Kedekatannya pada rakyat juga masih membuatnya dicintai oleh masyarakat Yogyakarta.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini