Tan Ek Tjoan, Roti Legendaris Indonesia yang Digemari Bung Hatta

Tan Ek Tjoan, Roti Legendaris Indonesia yang Digemari Bung Hatta
info gambar utama

Sudah satu abad, roti Tan Ek Tjoan hadir di Indonesia. Hingga sekarang produk roti itu menjadi yang tertua di Indonesia. Adalah pria Tionghoa, Tan Ek Tjoan, yang mulai merintis usaha pada 1921 di Suryakencana, Bogor.

Sejak itu usahanya meningkat pesat dan produknya cukup terkenal di Jakarta dan Bogor. Bersama dengan istrinya, Phoa Lin Nio, ia memulai usaha dari rumahnya yang sederhana tapi cukup luas.

Pasangan ini saling melengkapi dengan kemampuan istrinya dalam membuat roti, sementara Tjoan andal dalam mengembangkan bisnis. Setelah bisnis rotinya berkembang dan cukup populer, mereka membuka kedai di daerah Tamansari pada tahun 1953.

"Di Bogor, dulu banyak tinggal orang-orang Belanda, jadi bisnis roti bisa berkembang dengan baik," tutur Wawa. Pada tahun 1955, kedai ini pun berpindah ke Jalan Cikini Raya sehingga menjadi roti legendaris di kawasan itu. Tapi pada 2015, kedai ini harus pindah ke BSD Tangerang dan Ciputat. Sedangkan kedai yang di Bogor masih tetap sama.

Roti Tan Ek Tjoan ternyata mampu melebur perbedaan antara orang pribumi dengan Belanda. Hal ini terjadi karena adanya simbiosis mutualisme antara penjaja roti yang pribumi dengan orang Belanda, maupun Tionghoa yang mengonsumsi.

Padahal, saat itu ada sekat batas antara orang Belanda, Tionghoa, dan Pribumi dalam ras, ekonomi, dan sosial. Tapi mereka semakin membaur berkat roti Tan Ek Tjoan.

Kesukaan Bung Hatta

Tidak hanya masyarakat biasa, Wakil Presiden Mohammad Hatta ternyata pernah mencicipi kelezatan roti ini. Mengutip buku ''Kesaksian dari Bung Karno'' saat perjalanan dari Jakarta ke Mega Mendung, Bung Hatta pernah mampir ke toko roti Tan Ek Tjoan di Bogor.

Ia perintahkan Sardi--pengawal Bung Karno--untuk membeli roti di kedai tersebut. Dia memberikan uang Rp5, sedangkan Sardi Rp3,75. Bung Hatta lalu melahapnya.

Hingga pada akhirnya apabila Bung Hatta melintasi kawasan Bogor, ia tak pernah lupa untuk sekadar mampir dan membeli roti ini.

Usaha turun-temurun

Setelah Tan Ek Tjoan meninggal dunia pada 1950 an, istrinya Phoa Lin Nio masih meneruskan roda bisnis dan mengembangkan sayap. Setelah Lin Nio wafat, Ia mewariskan bisnis tersebut kepada kedua anaknya, Tan Bok Nio dan Tam Kim Thay. Tan Bok Nio memegang kedai di Jakarta, sementara Tam Kim Thay di Bogor.

Tam Kim Thay ternyata mewarisi kemampuan bisnis ayahnya, apalagi ia juga mengenyam pendidikan ekonomi di Belanda. Berada di tangan yang tepat, kedai Tan Ek Tjoan ternyata berkembang pesat di Bogor. Awalnya toko hanya seperempat dari luas saat ini, bisnis rumahan, dan tidak memiliki pabrik.

Berkat keuletan Kim Thay, toko roti ini mampu membeli tanah di sekitarnya dan membuat toko semakin luas. Kedai Tan Ek Tjoan di Bogor sekarang berpindah ke daerah Siliwangi, karena di daerah Suryakencana kian sepi semenjak adanya Tol Gadog.

Saat ini status kepemilikan pabrik Tan Ek Tjoan sudah berpindah tangan pada Josey R Darwin. Ia tak memiliki hubungan darah dengan pendiri asli pabrik roti legendaris tersebut. Alexandra Tamara--cucu Tan Ek Tjoan-- yang meminta Josey untuk mengambil alih perusahaan milik orang tuanya sejak tahun 2010.

"Waktu ayah Alexandra meninggal, usaha roti ini juga diserahkan kepada pegawai yang sudah kerja lama, sementara mereka tinggal di Belanda. Jadi tidak pernah terurus," ucap Josey, mengutip Bisnisgrowth.

Filosofi Yin Yang

Kim tidak hanya membuat terobosan dalam manajemen bisnis tapi juga varian roti. Bila awalnya hanya membuat roti gambang dengan tekstur keras, Ia akhirnya membuat roti bimbam dengan tekstur lembut. Sekarang bimbam pun menjadi roti Tan Ek Joan yang cukup favorit.

Ternyata adanya varian roti bimbam mengambil filosofi dari Tiongkok, Yin dan Yang. Gambang yang berstektur keras sedangkan bimbam lembut, membuat adanya satu kekuatan yang berhubungan dan berlawanan, saling membangun satu sama lain.

"Selain itu istri Pak Kim, orang Belanda. Orang bule kan tidak suka roti keras. Sehingga bimbam adalah perpaduan unsur Tionghoa, Eropa, dan Indonesia," ujar Kennedy Sutandi, Direktur Operasional Tan Ek Tjoan.

Meski ini terbilang kuliner yang cukup legendaris, namun harga rotinya masih cukup terjangkau, yakni mulai Rp3.500 sampai Rp55.000.

Dulu, distribusi roti ini bergantung kepada jasa pedagang keliling dengan gerobaknya, namun sekarang sudah dikembangkan melalui gerai dan via online. Sementara untuk memproduksinya, pabrik roti Tan Ek Tjoan masih menggunakan mesin roti yang sama guna mempertahankan cita rasanya.

Jaga kualitas melalui mesin kuno buatan Belanda

Pada masa awal berdirinya, pembuatan roti Tan Ek Tjoan hanya menggunakan batu Bata, semen putih, dan campuran gula pasir. Mesin pembuatan roti ini memang sudah uzur, harap maklum karena mereka memang berdiri sebelum Indonesia merdeka. Dari yang hanya menggunakan cara tradisional, kini Tan Ek Tjoan sudah membuat dengan mesin.

Pernah suatu hari seorang teknisi mesin dari Belanda datang mengunjungi pabrik Tan Ek Tjoan di Kawasan Ciputat, Jakarta Selatan. Menurut data dari perusahaan tempat pria ini bekerja, Tan Ek Tjoan pernah memesan sebuah mesin proofer untuk mengembangkan adonan. Dia mengutarakan maksud dan tujuannya kepada Josey untuk mengecek keberadaan mesin tersebut.

Mesin-mesin buatan Belanda yang digunakan oleh Tjan Ek Tjoan itu ternyata memang sangat langka. Maka tidak mengherankan seri pembuatan mesin tersebut sudah tidak dapat dikenali. Hal yang menajubkan bagi teknisi Belanda itu, mesin pembuat roti tersebut masih berfungsi. Dirinya menyarankan Josey untuk memuseumkan mesin tersebut karena tergolong barang antik.

"Saya jawab saja, jangankan bikin museum, bikin perusahaan survive saja sudah setengah mati. Kalau ini benar-benar antik, bawa saja ke Belanda dan gantiin dengan dua biji mesin baru kayak gini. Iya dong. Kan barang antik, harganya pasti Mahal," canda Josey.

Nama Tan Ek Tjoan memang tidak bisa lepas dari kesan roti jadul yang berkualitas, meski untuk menjaga kualitas itu bukan perkara gampang.

Secara umum, produk roti buatan Tan Ek Tjoan ini memiliki tekstur yang berbeda. Rotinya tebal dan padat sehingga mengonsumsinya sepotong saja sudah sangat kenyang.

Roti Tan Ek Tjoan memang masih mempertahankan resep lama yang sudah diturunkan kepada anaknya, yang kini sudah generasi ketiga menjalankan usaha tersebut.

"Kami tetap mempertahankan resep yang ada dan hanya orang tertentu saja yang dipercaya dan memiliki integritas saja yang boleh mengetahui resepnya. Ketika sudah ada ditangan karyawan bahan-bahan tersebut sudah dikemas, tinggal masukan saja."

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
YF
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini