5 Masjid di Indonesia yang Memiliki Arsitektur Unik (Bagian 1)

5 Masjid di Indonesia yang Memiliki Arsitektur Unik (Bagian 1)
info gambar utama

Menyambut bulan Ramadan, Masjid menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi oleh umat Islam, baik untuk beribadah atau menunggu waktu berbuka puasa. Kegiatan selama satu bulan ini pastinya membuat masjid layaknya destinasi yang begitu ramai disesaki oleh pengunjung.

Apalagi bila masjid tersebut memiliki keindahan arsitektur bangunan hingga menambah keindahannya. Saat ini memang sudah tak terhitung jumlahnya masjid yang memiliki keindahan arsitektur di berbagai belahan dunia.

Sebagai negara yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia tentunya tak kalah dengan negara lain dalam menampilkan keindahan dan keunikan arsitektur masjid. Beberapa keindahan arsitektur ini banyak memadukan antara beragam kebudayaan, seperti Arab hingga Tionghoa.

Berikut 5 masjid di Indonesia yang memilki keindahan arsitektur unik dan kreatif.

1. Masjid Al-Azhar, Summarecon Bekasi

Masjid Al Azhar Summarecon Bekasi

Masjid Al Azhar Summarecon sekarang bisa dibilang menjadi ikon baru kota Bekasi. Desainnya mengacu kepada bangunan-bangunan khas Timur Tengah. Hal ini terlihat dari warna kecokelatan pada arsitektur luarnya ditambah ornamen palem yang menghiasi bagian interior.

Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, menjadi sosok yang bertanggung jawab penuh atas keindahan dari arsitektur masjid ini. Sososk arsitek yang pernah mengenyam pendidikan di University of California, Barkley, itu memang tak menggunakan kubah lazimnya masjid kebanyakan yang ada di Indonesia.

Kang Emil--sapan akrabnya--malah membuat layaknya rancang bentuk kubus bak ka'bah. Masjid yang diresmikan pada 2013 ini tidak terlalu luas, karenanya didesain dengan tidak mengaplikasikan tiang di dalam masjid, agar tak memutus shaf salat.

Secara umum, masjid dengan luas 1.320 meter persegi ini bisa menampung 1.500 jamaah untuk salat. Di bagian dalamnya, Anda juga bisa menemukan basement, aula, dan ruang serbaguna lainnya, ditambah lantai mezanine yang memancarkan keindahan.

2. Masjid Al Irsyad, Kota Baru Parahyangan

Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan

Sederhana tapi elegan, mungkin ini kata yang tepat untuk menggambarkan masjid Al Irsyad di kawasan perumahan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung, Jawa Barat. Masjid ini selesai dibangun dan diresmikan pada 17 Ramadan 1431 H (27 Agustus 2010).

Bangunan ini layak menjadi pemantik perhatian berkat desain arsitekturnya yang memesona, sehingga keberadaannya pun sudah populer ke mancanegara. Lagi-lagi Kang Emil adalah arsitek masjid seluas 1.871 meter persegi ini.

Bentuknya yang seperti kubus besar layanya bentuk ka'bah, memperlihatkan garis-garis hitam di sekujur dinding masjid. Hal ini karena penataan batu bata pada dinding masjid yang membuatnya terlihat sangat mengagumkan.

Kang Emil memang lebih memilih untuk menampilkan identitas keislaman melalui kalimat syahadat raksasa yang bisa dilihat dari susunan bata pembentuk dinding masjid, sehingga bangunan layaknya sebuah seni kaligrafi tiga dimensi dengan ukuran yang sangat besar.

Batu bata disusun berbentuk lubang atau celah di antara bata solid. Sementara desain arah kiblat dibuat terbuka dengan pemandangan alam, hingga saat senja kita bakal merasakan semburat matahari akan masuk dari bagian depan yang tidak berdinding itu.

Secara keseluruhan, masjid ini hanya memiliki tiga warna, yakni hitam, putih dan abu-abu. Susunan tiga warna ini menjadikannya tampil lebih cantik, modern, simpel, namun tetap enak dipandang mata pada masjid yang mampu emanmpung 1.500 jamaah ini.

Masjid ini juga tak memiliki tiang penyangga untuk menompang atap, sehingga terasa lebih lapang. Saban harinya, masjid ini tak hanya dikunjungi oleh masyarakat dari sekitar Bandung, tapi juga seluruh Indonesia.

Lain itu, masjid ini juga menjadi persinggahan favorit bagi warga negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Timur Tengah, Belanda, Australia, dan beberapa negara Eropa lainya guna menikmati keunikan arsitektur bangunannya.

Pada 2010, National Frame Bulding Association memilih masjid Al Irsyad menjadi salah satu dari lima besar "Bulding of The Year 2010".

3. Masjid Raya Asmaul Husna, Summarecon Serpong

Masjid Raya Asmaul Husna Summarecon Serpong

Masjid Raya Asamul Husna di kawasan Gading Serpong, Tangerang, Banten, belakangan santer menjadi perbincangan di jagad media sosia. Hal tersebut karena masjid yang diresmikan pada 2013 ini memiliki arsitektur yang unik dan mengundang rasa penasaran. Terutama dari tulisan kaligrafi jenis Kufi yang menyelimuti tubuh bangunan tempat ibadah tersebut.

Tulisan-tulisan ini memang cukup membingungkan orang awam jika dilihat dari jauh, tapi saat mendekati ya akan memunculkan rasa takjub. Itu karena tulisan yang membalut masjid ini bertuliskan Asmaul Husna, atau 99 nama Allah yang didesain dengan sangat apik dan tidak biasa.

Kang Emil, sang arsitek, merancang bangunan tempat ibadah ini dengan membuat bagian atas tidak sebagaimana masjid pada umumnya. Desainnya secara umum berbentuk lengkungan, namun tidak cembung. Permukaannya tampak semakin menurun ke arah belakang masjid. Sementara di sisi bagian bawah lengkungan itu terdapat bintang yang transparan ke arah langit.

Masjid Asmaul Husna memiliki luas 2.500 meter persegi dan mampu menampung sekitar 3.000 jamaah yang terbagi atas tiga lantai. Masing-masing lantai pun memiliki fungsi, yakni lantai pertama digunakan untuk kegiatan keagamaan, lantai kedua digunakan untuk ibadah salat, sementara di lantai tiga digunakan saat Salat Jum'at bila lantai dua penuh.

Dari semua lantai di ruangan itu, jamaah bisa melihat pemandangan cahaya lampu dari bulan dan bintang di langit-langit masjid.

4. Masjid Ceng Ho, Surabaya

Masjid Cheng Ho Surabaya

Mendengar namanya saja, Anda pasti sudah menebak jika masjid ini menggunakan arsitektur Tiongkok. Memang benar, bangunan ini merupakan tempat ibadah dengan nuansa Islam-Tionghoa di Surabaya, Jawa Timur, yang diresmikan pada 2002.

Uniknya, masjid ini tak hanya berfungsi sebagai tempat salat bagi umat Islam, tapi juga menjadi tempat wisata religi bagi wisatawan yang ingin melihat keindahan bangunannya. Soal pemilihan nama masjid ini, adalah sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Ceng Ho (keturunan Islam-Tiongkok) yang telah menyebarkan Islam ke Asia Tenggara.

Pendiri masjid ini merupakan gabungan antara Yayasan Haji Muhammad Ceng Ho dan juga beberapa elemen masyarakat lain. Ihwal pembangunan masjid ini merupakan keinginan dari masyarakat Islam-Tionghoa yang ingin memiliki rumah ibadah sesuai budayanya. Sementara itu untuk arsitektur dari masjid ini dipercayakan kepada arsitek asal Bojonegoro, Ir Abdul Aziz.

Masjid yang dibangun di atas tanah seluas 21x11 meter ini mampu menampung lebih dari 200 jamaah. Selain itu, pada bagian atas masjid terdapat delapan sisi yang memiliki makna sendiri. Angka 11 berarti makna ukuran bangunan ka'bah, angka 9 merujuk kepada Wali Songo, sementara angka 8 bermakna kejayaan atau Pat wa.

5. Masjid perahu Nabi Nuh, Semarang

Masjid Kapal Semarang

Di Semarang juga ada masjid yang unik dan memesona, salah satunya Masjid Kapal Semarang, yang menjadi destinasi wisata religi favorit saat berkunjung ke kota itu. Memiliki nama resmi Masjid Safinatun Najah, bangunan tempat ibadah ini memang memiliki bentuk bangunan yang tak lazim seperti masjid kebanyakan, yakni berbentuk kapal besar.

Masjid yang dibangun pada tahun 2015 ini memang menarik karena temboknya dilukis menyerupai kayu, bahkan terdapat beberapa jendela yang berbentuk lingkaran khas kapal. Bentuk kapalnya mengambil dari model dasar kapal Nabi Nuh AS.

Bangunan yang dimiliki oleh Yayasan Safinatun Najaat asal Pekalongan ini memiliki empat lantai, dan yang sudah difungsikan adalah lantai-1 dan lantai-2. Lantai pertama befungsi sebagai aula untuk berkegiatan keagamaan, sedangkan lantai di atasnya berfungsi sebagai tempat salat. Nantinya, lantai-3 akan dipergunakan sebagai perpustakaan.

Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 4.000 meter persegi ini menampilkan bagian atasnya berupa kbubah dengan warna dominan hijau. Di sana, Anda bisa melihat pemandangan indah persawahan dan hutan yang membentang di sekelilingnya.

Akses menuju masjid Kapal Semarang memang cukup jauh. Dari bandara internasional Ahmad Yani, jalan melalui Pantura ke arah barat dan berbelok ke arah pasar Jrakah dan Ngaliyan.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini