Alun-alun Tugu Kota Malang, Saksi Perjuangan Bangsa Indonesia di Bumi Arema

Alun-alun Tugu Kota Malang, Saksi Perjuangan Bangsa Indonesia di Bumi Arema
info gambar utama

Taman Alun-alun Tugu Kota Malang merupakan salah satu simbol landmark Kota Malang, Jawa Timur. Tempat ini berbentuk lingkaran dengan tugu sebagai pusat dari tempat tersebut.

Lokasinya terletak di tengah-tengah kota, tepatnya di jalan Tugu, Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Letaknya yang dekat dengan Balai Kota Malang dan Stasiun Baru Kota Malang memudahkan wisatawan dalam menemukan alun-alun unik ini.

Alun-alun ini juga dilengkapi dengan lampu-lampu cantik yang bersinar di setiap malam. Wisatawan yang berkunjung bisa menikmatinya dengan hanya sekadar duduk-duduk santai, atau memanfaatkan indahnya alun-alun untuk berswafoto. Di balik keindahannya, tempat ini menyimpan nilai sejarah, mulai dari zaman penjajahan Belanda sampai dengan sekarang.

Pembangunan awal taman alun-alun ini diprakarsai oleh pemerintah Kolonial Belanda. Tujuan didirikan taman ini sebagai bentuk penghormatan kepada jasa Gubernur Jenderal Jaan Pieterzoen Coen, seorang jenderal pendiri daerah Batavia (Jakarta).

Alun-alun Tugu Kota Malang | Ngalam.co
info gambar

Pada masa tersebut, bentuk taman ini masih sangat sederhana, yaitu hanya dibuat melingkar tanpa tugu dan tanpa pagar. Taman ini dibiarkan seperti taman terbuka sederhana. Nama jalan di sekitarnya juga diberi nama dengan nama jenderal Kolonial Belanda, sehingga daerah taman ini sangat kental dengan nuansa kehidupan orang Belanda.

Satu tahun setelah Indonesia merdeka tepatnya pada tahun 1946, muncul inisiatif untuk membangun tugu di tengah-tengah taman tersebut. Peletakan batu pertama pada monumen ini dilakukan oleh Gubernur Doel Arnowo yang disaksikan langsung oleh Wali Kota Malang saat itu, M. Sardjono.

Pembangunan ini merupakan pembangunan monument tugu pertama di Indonesia sebagai wujud lahirnya bangsa Indonesia setelah berabad-abad dikuasai oleh imperialisme kolonial Belanda. Monumen tugu ini juga dapat diartikan sebagai wujud identitas dari berdirinya sebuah bangsa.

Pada perkembangan selanjutnya, di tahun 1947, pembangunan monumen ini sudah hampir mencapai 100 persen. Namun, masyarakat Kota Malang harus menerima bahwa monumen tugu yang akan menjadi kebanggaan identitas kota harus hancur di tangan sekutu pada Agresi Militer Belanda I.

Belanda menghancurkan bangunan tersebut untuk melunturkan semangat Arema, yang pada saat itu sangatlah gigih dalam mempertahankan wilayahnya. Monumen yang telah hancur tidak lantas dibiarkan begitu saja. Pada tahun 1953, dibangun kembali monumen tersebut sebagai wujud semangat identitas warga Kota Malang dalam membangun negeri. Monumen ini diresmikan langsung oleh Presiden Ir. Sukarno.

Nilai sejarah dan filosofi

Saat ini, Taman Alun-alun Kota Malang sudah mengalami perombakan menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi. Walaupun sudah banyak dirombak tidak mengurangi nilai-nilai sejarah yang terdapat pada bangunan. Nilai sejarah itu di antaranya filosofi dari Monumen Tugu.

Bentuk monumen seperti bambu runcing menyimbolkan senjata yang digunakan Arema dalam mengusir penjajah. Rantai pada tugu melambangkan semangat persatuan arema untuk melawan Belanda. Simbol lainnya adalah bintang yang mempunyai 17 pondasi dan delapan tingkat serta tangga berbentuk empat dan lima sudut.

Hal ini dibuat untuk menyimbolkan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Bunga Teratai yang mengelilingi monumen alun-alun berwarna merah dan putih melambangkan warna dari bendera Republik Indonesia.

Di sekeliling tugu, juga dibangun pagar. Tujuan dibuatnya adalah untuk menjaga bangunan dari tangan-tangan jahil wisatawan yang berkunjung, dan dikhawatirkan dapat menghilangkan nilai sejarahnya.

Sebagai tempat bersejarah, Taman Alun-alun Tugu Kota Malang sangat mendapat perhatian lebih dari pemerintah setempat. Harapannya, generasi pemuda-pemudi Kota Malang dapat mengingat sejarah bagaimana masyarakat saat itu berjuang mengusir penjajah dari bumi Arema.

Apa yang mereka rasakan saat ini, hidup damai, aman, dan sejahtera, semuanya itu merupakan buah dari perjuangan para pahlawan arema saat itu. Sudah selayaknya generasi penerus bumi Arema dapat membalas jasa mereka dengan ikut berkontribusi membangun Bumi Arema menjadi lebih baik.

Pesan ini tidak hanya untuk pemuda-pemudi Arema, namun untuk generasi bangsa di seluruh Indonesia untuk menghargai setiap perjuangan pahlawannya di daerahnya masing-masing. Dengan menjaga sejarah, sama halnya kita menjaga identitas bangsa.

Referensi:ngalam.co | kumparan.com | republika.co.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini