Sejarah Hari Ini (5 April 1981) - Serial Boneka Si Unyil Tayang Pertama Kali di TVRI

Sejarah Hari Ini (5 April 1981) - Serial Boneka Si Unyil Tayang Pertama Kali di TVRI
info gambar utama

Dunia si Unyil adalah Indonesia. Disana ada beragam karakter yang mereprentasikan wajah-wajah Keindonesiaan. Selain bocah-bocah macam si Unyil dan kawan-kawannya, juga ada sosok pengangguran seperti Pak Ogah, yang sering tidur di pos ronda dan sering berkata,"cepe dulu".

Ada juga orang tua yang cerewet, pelit, gemuk, dan ingin terlihat berwibawa dengan kumis zaman kompeni. Dialah Pak Raden.

Film Boneka Si Unyil tayang perdana di TVRI pada 5 April 1981. Film kartun anak ini diproduksi oleh Produksi Film Negara (PPFN), sebuah perusahaan film milik negara. Program film Boneka Si Unyil dipegang langsung oleh Drs Suyadi yang merupakan pembuat karakter Si Unyil.

Si Unyil merupakan bentuk wayang boneka yang diciptakan oleh Drs Suyadi, lulusan seni rupa Institute Teknologi Bandung (ITB). Dia juga yang menjadi sosok pengisi suara Pak Raden.

Kisah si Unyil dengan setia menemani hari Minggu anak-anak selama 13 tahun hingga 1993. Kemudian cerita Si Unyil kembali tayang pada 2002-2003 oleh stasiun TV swasta dengan nama baru, Laptop Si Unyil.

Unyil, tokoh utama dalam cerita "Si Unyil" digambarkan selalu menggunakan peci dan sarung dalam kesehariiannya. Kedua hal itu dianggap mewakili identitas masyarakat Indonesia. Sementara itu digambarkan karakternya yang tidak suka mencuri. Teman-temannya yang nakal akan selalu kalah pada akhir cerita.

Kepopuleran kartun Si Unyil membuat banyak anak-anak menirukan dialog-dialog dari cerita tersebut. Serta menyanyikan lagunyal. Tingginya perhatian penonton terlihat dari banyaknya surat pembaca yang masuk, sehingga menyadarkan bagaimana ampuhnya media televisi saat itu.

Dengan keterbatasan terciptalah karakter Si Unyil

Kesuksesan cerita Si Unyil ternyata berawal dari sebuah keterbatasan. Drs Suryadi, pencipta dari boneka Si Unyil menyebut sudah hampir menyerah saat ingin membuat kartun cerita anak ini. Hal ini karena mahalnya produksi dan minimnya Sumber Daya Manusia (SDM).

Namun karena pada tahun 70-an, program televisi untuk anak-anak dibombardir oleh tayangan impor dari luar negeri. 'Pak Raden' julukan Drs Suryadi bersama Drs Ghufron tetap berusaha mewujudkan mimpinya.

"Pada era 70 an yah, itu oleh Pak Ghufron, program anak-anak pada sore hari didominasi tayangan impor luar negeri. Kapan Indonesia bikin yang diperhatikan untuk anak-anak Indonesia," ucap Suryadi, yang dikutip dari Tribunnews.

Barulah pada tahun 1979, Direktur PFN saat itu, G Dwiyapana menawarkan ide untuk membuat cerita kartun Si Unyil. Ia menggandeng Drs Suryadi dan Kuranin Suhardiman. Drs Suryadi akan membuat boneka, sementara Kurnain akan menggarap naskah cerita.

Cerita Si Unyil mendapat momentum karena bersamaan dengan program Pemerintah Soeharto yang sedang merancang Pedoman Penghayatan Pengalaman Pancasila. Pedoman ini dirancang sebagai acuan dalam pengendalian kehidupan sosialpolitik warga Indonesia. Si Unyil diberi tugas sebagai penyampai pesan-pesan dari Pemerintah.

Tapi kesederhanaan cerita, tokoh-tokoh yang dekat dengan keseharian masyarakat dan dukungan pemerintah saat itu membuat cerita Si Unyil tetap kasih dikenang. Setelannya belum ada lagi program kartun anak khas Indonesia yang mampu menandingi kepopuleran cerita Si Unyil hingga sekarang.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini