Mengulik Sejarah Tuban Selatan dalam Perang Tuban Melawan Mataram

Mengulik Sejarah Tuban Selatan dalam Perang Tuban Melawan Mataram
info gambar utama

#WrittingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Tuban adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki julukan "Bumi Ronggolawe" dengan beragam cerita sejarah. Hal itu karena Tuban merupakan salah satu kota tua, yang berdiri sejak zaman Majapahit. Bahkan, pelabuhan Tuban pun menjadi bagian penting dalam proses perniagaan, yakni menjadi pelabuhan besar dan utama dalam jalur distribusi dan perdagangan dan, serta pelayaran pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit.

Namun, terlepas dari itu, terdapat cerita sejarah yang tidak semua masyarakat Tuban paham, yakni sejarah Tuban bagian selatan. Bahwasannya Tuban bagian selatan merupakan pusat perang Tuban melawan Mataram. Pusatnya terdapat di salah satu kecamatan di Tuban Selatan, yakni Desa Bangilan dan sekitarnya.

Pada pertengahan kedua abad ke-16, Kesultanan Demak sebagai kerajaan yang mendominasi seluruh Pulau Jawa terpecah menjadi beberapa negara karena faktor internal. Namun, perpecahan ini dapat diselesaikan dengan cara baik-baik melalui para pembesar Jawa, dan membuat kesepakatan bahwa ibu kota Kesultanan Demak berpindah ke Panjang dengan Sultan Hadiwijaya sebagai sultan selanjutnya.

Potret Kesultanan Demak tempo dulu | Foto: wawasansejarah
info gambar

Kemudian, Panembahan Senapati Mataram yang membangkang terhadap Sultan Hadiwijaya melakukan pemberontakan hingga gugurnya Sultan Hadiwijaya. Demi mempertahankan kehormatan negara, seluruh pembesar Jawa bersatu memilih Arya Pangiri sebagai sultan selanjutnya, yang sebelumnya menjabat sebagai Adipati Demak.

Setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya dan jatuhnya negara timur di Madiun pada tahun 1590 M dengan cara yang licik oleh para pemberontak tersebut, persatuan Brang Wetan (persatuan kerajaan di nusantara) dipimpin oleh Surabaya dan Tuban sebagai gantinya. Pemilihan Arya Pangiri sebagai Sultan Demak sejatinya adalah rekomendasi dari Adipati Tuban dan Arya Pamalad, yang mengajak Panembahan Kudus untuk mengangkat Arya Pangiri atau Pangeran Jepara menjadi Sultan Pajang kedua.

Selanjutnya, hal itu disetujui oleh seluruh pembesar Jawa, bahkan juga diakui oleh para raja dari kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara. Mereka semua kemudian mengirimkan para duta kesatria ke Jawa sebagai wujud pengakuan, sekaligus sebagai dukungan untuk Kerajaan Pajang yang sah.

Mereka memutuskan berperang di Pajang pada tahun 1586 Masehi. Namun, akhirnya mereka mundur bersama Arya Pangiri ke Tuban Selatan. Para duta kesatria dari berbagai kerajaan di seluruh nusantara inilah yang sekarang mendirikan desa-desa di Tuban Selatan yang dahulunya adalah markas mereka.

Konon legitimasi kesultanan yang sah tersebut pada akhirnya diberikan kepada Adipati Tuban Arya Pamalad, sedangkan Arya Pangiri diangkat oleh Adipati Tuban sebagai seorang pemimpin wilayah di Tuban Selatan, yang bernama Kadipaten Warung. Dahulu, wilayah ini merupakan sengketa antara Mataram dan Tuban.

Arya Pamalad sendiri merupakan seorang yang pertama kali merekomendasikan Arya Pangiri sebagai Sultan Pajang. Kemudian, Arya Pangiri memilih Tuban sebagai tempat pelarianya dan memberikan legitimasi kesultanannya kepada Adipati Tuban Arya Pamalad.

Dikisahkan bahwa pemberontak tersebut terus melakukan aksinya hingga tahun 1586 Masehi, jatuhnya Arya Pangiri dan banyak kadipaten diduduki oleh pemberontak Mataram. Hal ini membuat bupati-bupati daerah timur, seperti Surabaya, Tuban, Japan, Malang, Madura, Sukadana, Banjarmasin, Ngurawan, Madiun, Blambangan, dan seluruh kadipaten di Jawa Timur membangun persekutuan atau pakta pertahanan bersama untuk menyerang Mataram.

Pada penyerangan ini, Mataram mengalami kekalahan. Senapati gagal merebut Tuban dan dipukul mundur karena kalah jumlah dan perlengkapan senjata. Ditambah lagi Tuban dibantu oleh pasukan sekutu yang berjumlah besar, yakni dari Surabaya, Pasuruan, Kanjuruhan, Japan ( Mojokerto), Madura, Sukadana, dan Banjarmasin di Kalimantan Selatan.

Tuban si 'Kuda Perang'

Sang Adipati Tuban | Foto: Iain Tulungagung
info gambar

Pasukan Tuban beserta sekutu mememukul mundur pasukan Mataram yang dipimpin oleh Senapati yang terdiri dari prajurit dari Jipang (Cepu) dan Pati, setelah pasukan Mataram berhasil dipukul mundur. Dikejarlah pasukan Mataram itu oleh pasukan sekutu hingga ke wilayah Jipang bagian utara, yang pada waktu itu bernama Jipang Leran.

Pertempuran kembali terjadi di wilayah Jipang dan kembali dimenangkan oleh pasukan Tuban, karena pasukan Mataram telah kelelahan akibat pertempuran sebelumnya. Ditambah lagi, pasukan Tuban pada waktu itu hampir semuanya adalah pasukan kavaleri penunggang kuda, sedangkan pasukan Mataram hampir semua adalah pasukan invanteri pejalan kaki yang bersenjata tumbak.

Akhirnya, wilayah Jipang jatuh ke dalam kekuasaan Tuban pada waktu itu, hal itu menyebabkan sebagian besar penduduknya mengungsi ke selatan, yakni ke kota raja Kadipaten Jipang (Cepu).

Tuban pada pada waktu itu sangat terkenal dengan kuda perangnya hingga mendapat julukan Tuban bumi pagedogan. Tak heran jika Tuban memiliki prajurit penunggang kuda yang hebat. Tak hanya kuda, gajah turut menguasai sepanjang pelabuhan Tuban untuk menarik kapal berlabuh dan gerobak barang dari kapal pedagang.

Setelah pasukan Tuban menguasai wilayah Jipang, disiagakanlah pasukan Tuban beserta aliansi di sepanjang Jipang Leran atau Tuban Selatan sebagai wilayah yang baru saja di kuasai, sekaligus untuk membagi harta rampasan berupa tanah dengan adil. Karena Tuban tidak berperang sendiri sehingga pasukan sekutupun juga mendapatkan bagian.

Para tawanan Jipang dan Pati yang terluka ataupun tertangkap mereka semua dihukum mati oleh prajurit Tuban dan dimakamkan di hutan Desa Banjar. Tujuan ditempatkanya prajurit Tuban di sepanjang Jipang Ler adalah untuk bersiaga perang atau berjaga-jaga akan terjadinya serangan balasan dari selatan.

Merujuk pada berbagai sumber lokal maupun tertulis, penempatan ini dipimpin langsung oleh Adipati Arya Pamalad beserta patihnya yang juga adiknya sendiri, yakni Arya Salempe yang akan menjadi Adipati Tuban setelahnya. Menurut sumber yang ada, pasukan Tuban berjumlah 3 kali lipat dari pasukan Mataram dan hampir semuanya ada kavaleri berkuda.

Dalam perang melawan Tuban Mataram tidak lagi hanya mengandalkan perang frontal karena walau pertahanan tetaplah kuat dengan bantuan sekutu. Mata-mata kembali berperan dalam menentukan penyerangan ke Tuban. Raja Mataram mengirim seorang mata-mata bernama Randu Watang ke sana. Randu Watang memberitahukan kepada raja bahwa Pangeran Dalem akan mengadakan pemberontakan.

Penyerangan dan Taktik Jalur

Setelah kemenangan pertama Tuban, para petinggi Tuban sangat yakin akan kemampuan para prajuritnya hingga akhirnya Tuban dan sekutu sepakat untuk menyerang Mataram sampai kepusat kekuasaan, yakni kota raja Mataram atau sekitar Yogyakarta sekarang. Dalam menentukan rute yang akan ditempuh seorang kajineman (mata-mata) menyarankan agar mengambil jalan lewat Madiun karena tanahnya datar, harga beras murah, dan banyak air.

Pelopor penyerangan hingga ke negeri Mataram ini kemungkinan adalah para prajurit pilihan dari Madiun yang sebelumnya menduduki Surabaya di tahun 1590 Masehi, karena negerinya berhasil dibobol oleh pemberontak Mataram yang licik. Para kesatria Madiun inilah yang di kemudian mendirikan Desa Ngepohan (Ngepon), Ngujuran, Bader, dan lainnya di Kecamatan Jatirogo dan Bancar. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih melewati Negeri Madiun karena mereka paham seluk beluk wilayah itu. Hal ini disampaikan oleh seorang kajineman Tuban yang baik.

Namun, untuk Adipati Tuban sendiri berfikir bahwa melewati jalur Pati juga lebih baik dari pada lewat Madiun, karena mengingat sekutu aliansi yakni Kadipaten Pajang juga akan turut bergabung dan memberontak terhadap Mataram, sekaligus dianggap sebagai kunci kemenangan dari serangan ke Mataram ini. Serangan ini didukung oleh para sekutu aliansi Brang Wetan, mereka adalah para kesatria yang berjuang untuk mempertahankan kehormatan Negara Pajang yang sah dari pemberontak Mataram. Hingga pada akhirnya terjadi perang besar di Siwalan pada tahun 1616 Masehi.

Pasukan aliansi sekutu bergerak sampai mendekati wilayah musuh. Mereka berkemah di Siwalan yang terletak dekat Pajang. Mereka berkemah di sana mungkin karena menganggap akan mendapatkan bantuan dari Pajang.

Namun, ternyata Pajang batal bergabung dengan mereka dan kembali kepada Mataram. Pasukan Mataram dibawah Tumenggung Martalaya dan Jaya Suponta memotong jalur pasokan makanan. Pasukan sekutu pun berperang dalam keadaan lapar dan sakit.

Adipati Tuban yang malu karena kebohongan mata-matanya telah menyesatkan sekutu, memberanikan diri menyerang terlebih dahulu. Akan tetapi tembakan-tembakan lawan menghalau kembali pasukannya yang sambil melarikan diri sebagian masuk ke dalam rawa (De Graaf, 1985).

Esok harinya serangan kedua dipimpin oleh Adipati Japan (Mojokerto) yang berakhir dengan kekalahan total bagi sekutu. Pasukan Surabaya dan Madura juga tidak bisa bertahan. Mereka dihabisi dalam pelarian, sedangkan Adipati Japan melakukan perlawanan hingga gugur. Atas perintah Raja Mataram, Sultan Agung, yang memuji keberaniannya, Adipati Japan dimakamkan di Butuh, sebelah Raja Pajang. Sementara itu, Adipati Tuban berhasil selamat.

Sekitar tiga tahun setelah pertempuran di Siwalan, Sultan Agung memerintahkan Tumenggung Martalaya dan Jaya Suponta untuk menyerang Tuban. Sebelumnya, kakeknya, Senopati, gagal menaklukkan Tuban. Serangan ini gagal karena kota itu pada peralihan tahun 1598-1599 masih berkembang dengan pesat dan penduduknya menyebut rajanya sebagai raja yang paling berkuasa di Jawa (De Graaf, 1985).

Serat Kandha menggambarkan jalannya pertempuran. Adipati Pati mengusulkan serangan kilat, tetapi Tumenggung Martalaya lebih menghendaki menunggu sampai pasukan Tuban keluar. Patih Tuban, Jaya Sentana, mengusulkan agar pasukan istimewa maju terlebih dahulu.

Adipati Tuban menolak karena mengandalkan sepenuhnya pada tiga meriam yang dipercaya mempunyai kekuatan gaib. Meriam-meriam itu ditempatkan diatas tembok. Namun, dua meriam meledak yang membunuh banyak kawan dan lawan sedangkan meriam ketiga macet tidak bisa melepaskan tembakan.

Dalam serat Babad Tanah Djawi menyebut dua nama meriam itu ialah Sidamurti dan Pun Gelap. Meriam yang pertama membunuh tiga adipati, sedangkan dua lainnya meledak. Orang-orang Tuban terkejut karena menganggapnya sebagai pertanda kekalahan.

Terdapat banyak versi terkait sejarah Tuban bagian selatan ini. Namun, jika menillik pada peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Tuban selatan, seperti makam para pahlawannya dapat membuktikan bahwa sejarah Tuban selatan berawal dari perang Tuban melawan Mataram di abad ke-16. Di mana saat itu wilayah Tuban selatan bernama Jipang Ler. Itulah sedikit kisah peristiwa sejarah Tuban Selatan ketika perang Tuban melawan mataram.*

Referensi: Tan Koen Swie, Babad: - Tan Koen Swie (ed.), Babad Toeban. Kedir~ 1936. | Thomas Stanford Raffles. 2008. The History Of Java. Yogyakarta: Narasi | De Graaf, TH. Pigeaud . (1985). Kerajaan-kerajaan islam di Jawa. Jakarta

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AO
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini