Sejarah Hari Ini (6 April 1875) - Lahirnya Staatsspoorwegen, Cikal Bakal PT KAI

Sejarah Hari Ini (6 April 1875) - Lahirnya Staatsspoorwegen, Cikal Bakal PT KAI
info gambar utama

Ide tentang pembuatan perkeretaapian di Indonesia bermula dari gagasan tanam paksa yang dicetuskan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van De Bosch pada 1830. Saat itu kereta api sangat dibutuhkan untuk mengangkat hasil bumi dari program tanam paksa yang diolah para petani.

Priangan, menjadi salah satu daerah tumpuan ekonomi pemerintah kolonial Belanda. Karena itu daerah ini menjadi prioritas dalam pembuatan jalur kereta api. Stasiun Bogor atau dulu dikenal sebagai Buitenzorg menjadi titik awal pembangunan jalur priangan.

Awalnya proyek ini dibuat oleh perusahaan kereta api swasta era Hindia Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg atau NIS. Tapi perusahaan tersebut mengalami krisis keuangan. Sehingga pemerintah kolonial, membuat perusahaan Staatsspoorwegen (SS) pada 6 April 1875.

SS memulai projek ini pada tahun 1879, Stasiun Bogor dibangun menjadi lebih megah. Keberadaan Paleis Buitenzorg menjadi alasannya karena stasiun ini harus melayani perjalanan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Sebelumnya, pada 8 April 1875, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur keretaapi negara melalui (SS) dengan Rute pertama meliputi Surabaya-Pasuruan-Malang. Acara pembukaannya dihadiri oleh Guburnur Jenderal Mr. J. W. van Lansberge.

Selain di Jawa, jalur kereta api juga dibangun di Sumatera. Jalur kereta ini berhasil menghubungkan Medan dengan Labuan dengan jarak 21 kilometer. Jalur itu merupakan cikal bakal kereta api Medan-Belawan.

Sementara itu di Kalimantan meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak-Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, juga pernah dilakukan studi pembangunan jalan KA.

Staatsspoorwagen Nederlandsch–Indie menjadi lebih berkembang karena mengakuisisi aset kereta api dan trem milik maskapai-maskapai kecil. Namanya pun berganti menjadi Staatsspoor en Tramwegen in Nederlandsch–Indie, meski tetap disebut SS.

Diambil Jepang lalu direbut pemuda

Sampai akhir 1928, panjang jalur kereta api dan trem di Indonesia mencapai 7.464 km, dengan perincian rel milik pemerintah sepanjang 4.089 km dan swasta sepanjang 3.375 km.

Akhirnya pada 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Semenjak itu, perkeretaapian Indonesia diambil alih Jepang dan berubah nama menjadi Rikuyu Sokyuku (Dinas Kereta Api).

Selama penguasaan Jepang, operasional keretaapi hanya diutamakan untuk kepentingan perang. Tetapi, Jepang juga melakukan pembangunan yakni lintas Saketi-Bayah dan Muaro-Pekanbaru untuk pengangkutan hasil tambang batubara guna menjalankan mesin-mesin perang mereka.

Setelah Indonesia merdeka, jawatan kereta api yang dikuasai Jepang itu diambilalih pada 28 September 1945 oleh Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA). Saat itu disebutkan, para pemuda yang bekerja di kereta api menyatakan sikapnya bahwa kekuasaan perkeretaapian dipegang Republik Indonesia dan menolak campur tangan orang-orang Jepang.

Lembaganya bernama Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Perusahaan ini terus hidup dan beberapa kali sempat berganti nama. Hingga pada 2010, berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI). Industri perkeretaapian bertransformasi menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini