Sungai Ciliwung, Keindahan Ratu dari Timur hingga Sumber Kehidupan

Sungai Ciliwung, Keindahan Ratu dari Timur hingga Sumber Kehidupan
info gambar utama

Sebuah tangkapan foto dari akun Instagram @priyombodo mendapat perhatian besar dari masyarakat. Potret ini menampilkan banyak anak kecil yang sedang bersenang-senang di selokan tepat di depan Plaza Indonesia.

Selain menampilkan realita ibu kota dan kenangan masa kecil, potret ini juga menggambarkan adanya keterkaitan antara masyarakat dengan alam sekitar, dalam hal ini sungai.

''Sebuah realita urban ketika anak-anak kota bermain di selokan tepat di depan sebuah pusat perbelajaan di jantung ibu kota di kawasan Bundaran Hotel Indonesia,'' yang dikutip dari akun IG pribadinya.

Khusus berbicara tentang Jakarta, masyarakat dan sungai tidaklah bisa dilepaskan satu sama lain. Sejak dahulu, sungai telah menjadi salah satu pusat kehidupan bagi masyarakat.

Pada tahun 1500-an, Kerajaan Pajajaran telah memamfatkan Sungai Ciliwung sebagai pusat transportasi dari ibu kota kerajaan di Pakuan (Bogor) menuju pelabuhan ke Pantai Utara seperti Banten, Tangerang dan Sunda Kelapa.

Sungai Ciliwung ini berhulu di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Lalu mengalir ke Kawasan Puncak, Ciawi, kemudian membelok ke arah utara melalui Bogor, Depok, Jakarta, dan bermuara di Teluk Jakarta. Bagian sungai yang lurus dari Harmoni ke utara, dulu merupakan kali swasta dengan aturan membayar tol apabila melaluinya.

Pada masa awal Batavia, perahu kecil masih berlayar di sepanjang Ciliwung untuk mengangkut barang dari gudang dekat Kali Besar ke kapal yang berlabuh di laut. Cabang sungai Ciliwung yang bermuara ke samudera digunakan sebagai jalan masuk kasteel lewat Kapal dan dari kanal ke Waterpoort.

Pembangunan kali ini juga digunakan untuk sumber tenaga bagi industri, karena duluya sungai ini juga airnya dipakai sebagai sumber air minum penduduk.

Berjuluk 'Ratu dari Timur'

Sampai abad ke-19, air Kali Ciliwung dipergunakan oleh orang-orang Belanda di Betawi sebagai air minum. Air kali itu mula-mula ditampung dalam semacam waduk (waterplaats atau aquada).

Waduk air itu dilengkapi dengan pancuran-pancuran kayu yang mengucurkan air dari ketinggian kira-kira 10 kaki (kurang lebih 3 m). Dari sana air diangkut dengan perahu oleh para penjual air (waterboereri) dan dijajakan ke kota.

Memang saat itu pemahaman masyarakat tentang kesehatan masih sangat rendah. Air sungai Ciliwung langsung diminum tanpa proses penjernihan. Apalagi saat itu daerah-daerah di pinggiran kota--di arah hulu kali--masih penuh hutan tanpa penghuni.

Bahkan sungai Ciliwung sangat terkenal dengan kejernihan airnya, sampai-sampai mendapat julukan 'Ratu dari Timur'. Hal inilah yang membuat Pemerintah Kolonial Belanda yang tergabung dalam VOC sangat terpukau dengan sungai ini.

Kala itu sistem kanalisasi Ciliwung sangat indah. Terdapat barisan pohon kelapa dan bangunan bergaya Eropa di sebelah kanan-kiri Ciliwung.

Ketika kemudian pembukaan hutan-hutan dan penggarapan tanah semakin meluas, dan pemukiman makin meningkat, air sungai pun semakin tercemar. Pada 1689 bedasarkan catatan, air yang keluar dari pancuran waduk di Pancoran sangat keruh, bahkan berlumpur di musim hujan.

Bermanfaat sebagai tempat binatu

Walau sudah tidak bisa digunakan untuk minum, sungai yang dijuluki "Got Besar" itu sampai 1960-an masih menjadi tempat favorit ribuan penduduk untuk mengambil wudhu, mandi, mencuci, sampai berbagai hajat keperluan lain.

Sungai Ciliwung di Jakarta pada era 1960-an memang masih jernih, tidak seperti sekarang yang hitam dan berbau tak sedap. Ribuan penduduk Jakarta ketika sungai ini masih jernih dan lebar, menggantungkan kehidupannya dari Ciliwung.

Ada yang menjadi tukang perahu, pekerja eretan, dan tidak kurang banyaknya yang menjadi tukang binatu. Puluhan tukang binatu tengah mencuci pakaian dan celana di Ciliwung.

Selain itu masih terdapat jenis-jenis ikan, ada sebanyak 270 ikan endemik Ciliwung yang bisa menjadi sumber konsumsi. Sayangnya sekarang hanya menyisakan 20 jenis ikan yang tersisa di wilayah Cianjur dan Bogor.

Selain ikan, ada hewan khas di bantarannya seperti kupu-kupu raksasa, bulus atau kura-kura bertempurung lunak, serta ular sanca. Kemudian di bagian muara sungainya ada buaya, kucing bakau, burung bangau, dan berang-berang. Tapi sekarang hewan-hewan ini telah punah.

Memang kondisi ini tidak terlepas dari kondisi air Sungai Ciliwung yang semakin surut, terutama ketika musim panas. Ciliwung bakal mengalami banjir saat musim hujan tiba.

Selain itu, pencemaran menjadi masalah serius sungai Ciliwung saat ini. Kian hari air yang mengalir makin kotor, bahkan berkurang debitnya. Permasalahan tersebut diduga terjadi ketika muncul pembangunan-pembangunan secara masif di Depok, Jakarta, dan Bogor.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini