Lantunan Syair Nandung dan Surat Kapal dalam Tradisi Rengat

Lantunan Syair Nandung dan Surat Kapal dalam Tradisi Rengat
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Nandung adalah salah satu sastra lisan yang ada di Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Nandung dilantunkan oleh ibu-ibu yang ingin menidurkan anaknya di dalam buaian. Isi syair nandung adalah tentang pengajaran agama, kasih sayang orang tua, pengajaran dan pendidikan, akhlak mulia, dan nasehat-nasehat.

Nandung adalah sastra lisan yang digunakan untuk menidurkan anak yang disampaikan dengan syair yang berbentuk pantun,dan dilantunkan dengan berirama (bersenandung). Syair dalam nandung seperti pantun yang memiliki sampiran dan isi, serta dengan bentuk pola a-b dan a-b. Nandung juga memiliki arti yang sama dengan kata nyanyian, yaitu melantunkan lirik-lirik (pantun) dengan cara dinyanyikan dengan menggunakan irama yang khas untuk menidurkan anak.

Masuknya kesenian nandung ini, tidak diketahui pasti kapan asal muasalnya dan tahun berapa mulai ada dalam masyarakat melayu Kota Rengat Indragiri Hulu, karena pada zaman dulu, ibu-ibu sudah terbiasa menandungkan anaknya ketika di dalam buaian. Ketika bapak-bapak sedang mencari nafkah seperti berkebun, mencari ikan di sungai, dan berdagang di pasar, ibu-ibu di rumah akan menandungkan anaknya menjelang tidur, dan ketika anak sudah tidur, maka ibu bisa menjalankan aktivitas-aktivitasnya di rumah.

Seorang Ibu yang sedang melantunkan Nandung kepada anaknya
info gambar

Awalnya, nandung hanya berupa nyanyian atau lantunan kalimat La Ilaha Illalah dan ditambahkan dengan kalimat-kalimat yang mampu membuat anak tidur dalam buaian. Perkembangannya, nandung menjadi lebih kompleks dengan ditambahkannya pantun yang berisikan tentang agama, nasehat, akhlak dan pendidikan.

Seiring waktu berlalu, masyarakat mulai menambahkan cara melantunkan nandung sama dengan irama saat membacakan ayat suci Al-Qur’an, sehingga pembacaan syair nandung ini memiliki ciri khas dan terus diwariskan secara turun temurun di dalam keluarga masyarakat daerah Kota Rengat dan sekitarnya.

Syair nandung yang dibacakan oleh seseorang yang paham seni membaca Al-Qur’an, akan terasa berbeda dengan orang pada umumnya, karena irama yang dilantunkan akan memiliki perbedaan dari segi durasi, pola ritme dan melodi syairnya. Dilihat dari perkembangannya, saat ini kesenian nandung mulai ramai diperlombakan dan dipertunjukan dalam acara-acara besar daerah Kota Rengat Kabupaten Indragiri Hulu.

Bersyair dengan Syair Surat Kapal

Masih berbicara soal syair, kali ini terdapart syair surat kapal. Syair Surat kapal adalah rangkaian seloka yang merupakan syair dan pantun. Di dalamnya berisi cerita tentang pertemuan jodoh dua insan sampai pada mahligai rumah tangga, pengenalan pribadi saudara-saudara dekat pengantin, nasehat agama, doa serta harapan dalam kehidupan berumah tangga. karya sastra milik masyarakat Melayu di Indragiri.

Syair ini turun-temurun ke anak cucu dari zaman Kerajaan Indragiri dulu hingga saat ini. Syair Surat Kapal merupakan syair yang sudah lama dibuat oleh datok kita di Indragiri. Keaslian Syair Surat Kapal bisa dilihat dari cara pembacaan syair surat kapal yang begitu khas yang di sertai dengan alunan merdu yang enak untuk di dengar.

Perbedaan syair ini dengan syair-syair Melayu lainnya yaitu syair ini hanya dikhususkan pada perhelatan (acara pernikahan) masyarakat Melayu Indragiri. Oleh karenanya, dalam pembacaannya harus berangkaian dengan proses adat perkawinan. Pembacaan Syair Surat Kapal tidak bisa dilakukan di sembarang tempat dan waktu.

Dahulu, masyarkat Melayu umumnya bermukim dengan membangun kampung di daerah aliran sungai atau di sepanjang pinggiran sungai Indragiri. Kehidupan sehari-hari mereka sangat bergantung pada sungai tersebut, seperti mencari nafkah (menangkap ikan), mandi, mencuci pakaian dan sebagainya.

Hal penting lainnya adalah aliran sungai Indragiri di manfaatkan sebagai prasarana transportasi dengan menggunakan perahu (sampan) atau kapal. Sejak dahulu kapal adalah alat transportasi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Indragiri bekerja di kapal atau menjadi pelaut yang berlayar di satu pulau ke pulau lain.

Setiap perjalanannya mereka harus dilengkapi dengan "pas kapal" atau surat-menyurat kapal. Apalagi ketika kapal tersebut akan berlabuh ke sebuah dermaga maka harus ada pas kapal sebagai persyaratan untuk berlabuh di dermaga tersebut.

Pada awalnya Syair Surat Kapal ditulis dengan menggunakan tulisan Arab Gundul atau biasa disebut dengan Arab Melayu, karena pada saat itu tulisan latin belum begitu dikenal oleh masyarakat Melayu Indragiri. Namun, pada saat ini sangat sulit untuk menemukan Syair Surat Kapal yang masih bertulisan Aksara Arab Melayu.

Hal ini terjadi karena masyarakat Melayu Indragiri yang masih tulen, tetapi lama-kelamaan bahasa yang digunakan dipengaruhi oleh bahasa Indonesia atau bahasa-bahasa serapan lainnya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa syair yang dirubah oleh penyair pada masa sekarang.

Media yang digunakan dalam penulisan Syair Surat Kapal adalah kertas yang terbuat dari daun lontar atau kulit pohon. Bentuk kertas tersebut memanjang dan konon ceritanya bergulung-gulung hingga belasan meter panjangnya. Akan tetapi, pada saat ini kertas yang digunakan untuk menulis Syair ini adalah kertas biasa yang berasal dari pabrikan.

Teks atau naskah Syair Surat Kapal dahulu sangat panjang bisa terdiri atas beratus-ratus bait sehingga diperlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan pembacaannya. Hal tersebut dapat dimaklumi Karena pada waktu itu pembacaan Syair Surat Kapal, salah satu acara hiburan pada perhelatan perkawinan yang memang ditinggu-tunggu oleh khalayak ramai.

Selain sarat akan unsur humor yang menggelitik, Syair Surat Kapal juga berisikan unsur romantis yang asyik untuk disimak. Apalagi jika pembacaan syair dilakukan dengan nada-nada yang khusus, seperti senandung-senandung merdu, yang enak didengar telinga.

Seseorang yang sedang membacakan Syair Surat Kapal
info gambar

Filosofi 'Kapal' pada Syair Surat Kapal

Karena populernya kapal pada saat itu, masyarakat Melayu Indragiri menjadikan kapal sebagai simbol dalam upacara adat perkawinan masyarakat Melayu, yaitu berupa kapal kayu mini yang menjadi salah satu kelengkapan adat-istiadat dalam sebuah uapacara perkawinan. Simbol kapal kayu mini tersebut menjadi arak-arakan pengantin laki-laki menuju kediaman pengantin perempuan pada saat rangkaian upacara adat.

Makna kapal dimaksudkan sebagai sebuah lambang kehidupan rumah tangga tidak lepas dari goncangan gelombang, badai hujan, dan gejala-gejala alam di laut lainnya. Kehidupan rumah tangga tidak pernah lepas dari gejolak yang penuh dengan pemasalahan rumah tangga. Sedih, gembira, dan amarah selalu menyertai dalam mengurangi mahligai tersebut.

Pandangan budaya Melayu, kehadiran keluarga, saudara-mara, tetangga, dan masyarakat kepada majelis perkawinan. Tujuannya tiada lain untuk mempererat hubungan kemasyarakatan, dan memberi kesaksian dan doa restu atas perkawinan yang dilangsungkan.

Perkawinan yang dilakukan tidak berdasarkan pada adat Melayu setempat akan menyebabkan masyarakat tidak merestuinya. Kapal mini yang dijadikan simbol buah kapal disertai dengan sepucuk surat berisikan syair-syair yang menerangkan tentang kapal yang di bawah, mengisahkan tali kasih sayang sehingga menjadi sepasang suami istri.

Esensi sebuah Kapal bagi Masyarakat Indragiri
info gambar

Surat yang berisikan syair di dalam kapal tersebut kemudian populer dengan nama Syair Surat Kapal. Kapal dibawah dengan goyangan-goyangkan ibarat kapal terkena gelombang. setelah menjadi fase barulah kapal tersebut disandingkan (diletakkan) di dekat tabak di bawah pelaminan. Sesampainya kapal di pelaminan dan kedua mengantin sudah duduk di singgasana barulah pembacaan syair dilaksanakan.

Kertas syair yang sudah dipersiapkan dikeluarkan dari kapal mini dan mulailah di bacakan. Namun pada saat ini para pengubah tidak lagi meletakan teks Syair Surat Kapal di kapal, tetapi langsung berada di saku mengubah atau pembaca syair, karena dikhawatirkan kertas syair tersebut terjatuh dan tidak dapat dibacakan. Pembacaan dilakukan di dalam rumah tepat di depan pelaminan pengantin yang bersanding.

Saat ini banyak juga orang Melayu yang membacakan syair tersebut diluar rumah kediaman pengantin perempuan atau di panggung. Hal ini tidak diketahui secara pasti apakah bagian masyarakat tersebut tidak mengetahui bagaimana pembacaan Syair Surat Kapal atau disengaja agar dapat disaksikan oleh khalayak (seperti pembacaan Syair Surat Kapal pada acara perhelatan di Rengat Barat Indragiri Hulu).*

Referensi:BPS | Darmawi, A. (2006). Sastra Lisan Nandung Indragiri Hulu. Riau: Lembaga Seni Budaya Melayu | Suardi, R. (2017). KESENIAN NANDUNG DI MASYARAKAT MELAYU KOTA RENGAT KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU (KAJIAN SEMIOTIKA). Imaji, 219-228. | Yulihasman. (n.d.). SURAT KAPAL DALAM PERKAWINAN ADAT MELAYU RENGAT DI DESA ALANG KEPAYANG KECAMATAN RENGAT BARAT INDRAGIRI HULU. Pekanbaru: Universitas Riau

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HX
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini