Pameran Harmoni Cina-Jawa untuk Merawat Toleransi di Masa Depan

Pameran Harmoni Cina-Jawa untuk Merawat Toleransi di Masa Depan
info gambar utama

Toleransi seharusnya bukan merupakan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Tanpa toleransi, manusia tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan leluasa, kehidupan terasa tidak tenang dan hambar, serta kerap terjadi konflik yang menimbulkan perpecahan.

Jika kita mau menengok kondisi Indonesia sekarang, masih banyak orang yang melakukan tindakan rasis dan diskriminatif. Ketidaktahuan terhadap sejarah, pengetahuan lokal, dan tradisi bisa menjadi penyebab hal tersebut.

Pada akhir bulan Maret 2021 lalu, terdapat pameran bertajuk Harmoni Cina-Jawa dalam Seni Pertunjukan yang diadakan oleh Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Pameran yang dilaksanakan secara daring dan luring sejak 26 Februari hingga 27 Maret 2021 ini berusaha menjelaskan kepada masyarakat mengenai etnis Cina dan Jawa yang hidup berdampingan di Yogyakarta, tepatnya di lingkungan keraton.

Stigma negatif mengenai lingkungan kraton yang ekslusif dapat dipatahkan dengan fakta bahwa sejak ratusan tahun silam masyarakat Cina dan Jawa saling membuka diri, saling memberikan pengaruh, dan saling bertukar budaya untuk memajukan budaya. Dapat diartikan juga bahwa kemajuan budaya pun dapat dicapai melalui sikap membuka diri. Yogyakarta terbuka dan menjadi rumah unuk berbagai entitas.

Selain dari bukti fisik seperti Kampung Ketandan (Pecinan) di Malioboro, keterbukaan ini bisa dilihat dalam seni pertunjukan. Ada beberapa pertunjukan yang menggabungkan budaya Cina dan Jawa, yaitu Wacinwa (Wayang Cina-Jawa), Wayang Golek Menak, Srimpi Muncar, Beksan Golek Menak. Kethoprak Sudiro, Barongsai dan Liong, dan Wayang Potehi.

Seni pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa etnis Cina dan Jawa mampu hidup berdampingan. Penyerapan unsur-unsur budaya yang terjadi tak serta-merta mengaburkan budaya asli. Hal itu dapat terlihat pada seni pertunjukan yang ditampilkan pada Pameran Harmoni Cina-Jawa. Berikut beberapa hal yang ada di pameran tersebut.

1. Wacinwa (Wayang Cina-Jawa)

Foto: Dok. Lena Sutanti
info gambar

Wayang kulit ini sebenarnya sudah ada di Cina sejak zaman dahulu. Namun, Gan Thwan Sing (pencipta Wacinwa) menggubah wayang kulit Cina ke dalam konteks tradisi masyarakat Jawa.

Penggubahan terjadi pada iringan, bahasa penuturan, serta ragam hias Jawa dalam Wacinwa. Wacinwa memberikan refleksi mengenai ruang terbuka, saling menerima perbedaan, dan menampilkan seni dengan ciri khas masing-masing.

2. Wayang Golek Menak

Foto: Dok. Lena Sutanti
info gambar

Kisah dari Wayang Golek Menak bersumber dari Serat Menak yang merupakan penafsiran ulang Hikayat Amir Hamzah dari Persia. Wayang Golek Menak kisahnya berlatar belakang budaya Arab/Persia dan mempunyai tokoh berasal dari Cina. Selain itu, Wayang Golek Menak telah disesuaikan dengan kebudayaan Jawa.

3. Srimpi Muncar

Foto: Dok. Lena Sutanti
info gambar

Tari klasik sakral bergaya Yogyakarta ini pada mulanya hanya dibawakan dalam acara-acara tertentu, misalnya upacara kerajaan/kenegaraan, kenaikan takhta, dan resepsi pernikahan. Kini digunakan sebagai materi pembelajaran tari putri di lingkup dalam maupun luar keraton.

Srimpi Muncar dibawakan oleh empat penari yang melambangkan simbol mata angin. Unsur Cina dan Jawa berpadu dalam riasan dan busana yang dikenakan oleh Dewi Adaninggar. Dewi Adaninggar yang merupakan putri Cina membuatnya dikenal dengan nama Srimpi Cina atau Srimpi Putri Cina.

4. Beksan Golek Menak

Foto: Dok. Lena Sutanti
info gambar

Beksan Golek Menak merupakan tari klasik Yogyakarta yang bersumber dari Serat Menak. Beksan yang dipentaskan terinspirasi dari Wayang Golek Menak. Pengaruh Cina dalam Beksan Golek Menak dapat dlihat dalam riasan, busana, dan gerakan.

Hingga saat ini, prnsip-prinsip pada pementasan Beksan Golek Menak masih terbuka untuk dikembangkan, terus mengalami penyesuaian dan penyempurnaan.

5. Kethoprak Sudiro

Foto: Dok. Lena Sutanti
info gambar

Kethoprak Sudiro muncul dari cerita Sie Jin Kwie yang dipentasan dari panggung ke panggung oleh Cokrojadi, dan grup Kethoprak Kridomardi pada 1960-an. Kethoprak Sudiro diangkat dari kisah Sie Jin Kwie yang merupakan alih wahana yang dipentaskan dalam Wacinwa.

Tak hanya itu, kethoprak sudiro juga hadir dalam komik karangan Otto Swastika atau Siauw Tik Kwie. Sie Jin Kwie merupakan seorang pahlawan dari cerita legenda Tiongkok.

6. Barongsai dan Liong

Foto: Dok. Lena Sutanti
info gambar

Barongsai merupakan kesenian Cina yang melambangkan perwujudan dari singa yang dipercaya membawa keberuntungan. Berbeda dengan barongsai, liong adalah perwujudan naga yang merupakan hewan mitologi, perlambang Dewa Kebijaksanaan. Nah, barongsai dan liong digunakan sebagai penolak bala dan mengusir kesialan.

7. Wayang Potehi

Foto: Dok. Lena Sutanti
info gambar

Wayang Potehi adalah kesenian yang dibawa oleh para imigran Cina yang pergi ke Indonesia pada abad 16-19 Masehi. Pementasan Wayang Potehi menggunakan musik Cina sebagai pengiringnya.

Tokoh-tokoh dalam Wayang Potehi sendiri menggunakan kostum khas dengan motif, warna, dan aksesoris bernuansa kebudayaan Cina. Nah, lakon pada Wayang Potehi berasal dari kisah-kisah klasik Cina. Pelabuhan menjadi gerbang masuk Wayang Potehi di kota-kota di Jawa, Bali, maupun Lampung.

Di kala dunia yang semakin maju ini, pameran luring ini dapat kembali mengenalkan masyarakat tentang toleransi antara Cina dan Jawa. Tak hanya itu, pameran ini juga mengarjarkan bahwa sosial media akan berdampak positif apabila digunakan untuk menyebarluaskan nilai-nilai mengenai keragaman dan toleransi pada budaya-budaya yang ada di sekitar kita.*

Referensi: Pameran Harmoni Cina-Jawa dalam Seni Pertunjukan, Museum Sonobudoyo Yogyakarta | kratonjogja.id

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

LS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini