Si Uda, Manusia Ikan dari Suku Bajo Pemilik Genetik Penyelam

Si Uda, Manusia Ikan dari Suku Bajo Pemilik Genetik Penyelam
info gambar utama

Berenang dan menyelam adalah dua kemampuan dasar saat ingin menaklukan laut. Namun, ada satu pria yang tidak hanya punya dua kemampuan ini, tapi juga bisa bertahan lama di dasar laut tanpa scuba.

Si Uda (47 tahun) mampu bertahan selama 3 menit dalam satu hembusan nafas hingga kedalaman 35 meter. Ketenaran pria yang berasal dari Samabahari dari Dusun Katutuan, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi pun sudah mendunia.

Ia bercerita pernah diundang ke Jerman selama seminggu, ke Belanda 4 hari, dan Prancis. Mengutip Satutulis, Dia mengaku ke luar negeri diajak untuk kepentingan pembuatan film.

Namun tanpa adanya dukungan uang saku dari pengurus desa. Ia pun memilih untuk kembali ke Sampela, Wakatobi, Indonesia. Padahal saat di luar negeri, Si Uda mengaku sedikitnya tiga pulau sudah dia selami.

“Karena tidak adanya uang saku yang berikan, akhirnya saya menyimpulkan untuk balik ke Indonesia dari Perancis. Saya kembali ke Indonesia karena di bantu oleh teman bernama La Kiki bersama temanku berasal dari Polandia, dijemput di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta," dikutip Kamis (8/4/2021).

Menurutnya ada teknik tersendiri agar Ia bisa bernafas dan berjalan di dasar laut. Hal ini berkaitan dengan paru-paru besar yang dimiliki Si Uda. Hal itu dipengaruhi oleh kebiasaan menyelam sejak kecil. Selain itu kemampuan berjalan di laut, dirinya memakai dua teknik, yaitu bernafas tenggelam dan timbul.

''Saya belajar berjalan di dasar laut selama 7 hari dengan menggunakan 2 teknik nafas yaitu tenggelam dan timbul disertai ayunan tangan kiri sebagai penopang dan tangan kanan memegang Panah,'' ujarnya.

Si Uda memang telah mempelajari hal ini secara turun temurun melalui keluarganya. Bahkan anaknya, Si Adi sudah mampu berjalan di dasar laut di kedalaman 8 sampai 10 meter selama 1 menit.

Suku Bajo, manusia laut di Wakatobi

Suku Bajo atau sering disebut Suku Bajau memang suku bangsa Indonesia yang hidup nomaden di atas perairan laut. Hal inilah yang membuat mereka mendapat julukan Gipsi Laut.

Merunut sejarahnya, Suku Bajo datang dari Kepulauan Sulu di Filipina utara ratusan tahun lalu. Sebagian besar menuju ke Sabah dan berbagai wilayah Indonesia, hingga ke Kepulauan Madagaskar.

Para pelaut ulung ini tinggal di berbagai pelosok Indonesia, mulai dari Sulawesi, Papua, hingga NTT. Sebagian kecil suku ini pun tersebar di Filipina dan Malaysia.

Berbeda dengan Suku Bajo di Filipina, di Indonesia mereka telah beradaptasi dengan budaya lokal. Mereka sudah berbicara dengan bahasa lokal melalui intonasi dan logat yang berbeda.

Mereka juga telah meninggalkan kebiasaan hidup nomaden dan memilih menetap di pesisir pantai. Juga telah meninggalkan ajaran animisme/dinamisme.

Genetik penyelam pertama di dunia

Menurut National geographic, keunggulan Suku Bajo adalah perenang hebat, mereka mampu bertahan di kedalaman hingga 60 meter selama 13 menit, tanpa alat bantu apapun. Kemampuan ini bahkan membuat para ilmuwan bingung sekaligus kagum dengan kemampuan istimewa tersebut.

Bedasarkan jurnal yang diterbitkan oleh Cell, menunjukan proses adaptasi membuat orang Bajo mampu menahan napas di dalam laut. Kemampuan ini ternyata berasal dari limpa yang lebih besar daripada ukuran normal yang dimiliki manusia.

Limpa ini digunakan untuk menyimpan lebih banyak oksigen untuk darah mereka, layaknya "tabung oksigen". Selain itu para peneliti juga menemukan adanya gen bernama PDE10A di Suku Bajau. Gen tersebut diduga berfungsi untuk mengontrol hormon tiroid tertentu. Pada tikus, homon itu dikaitkan dengan ukuran limpa. Tikus yang memiliki hormon tiroid rendah, limpanya lebih kecil.

"Selama ribuan tahun, orang Bajo telah tinggal di rumah perahu, bepergian dari satu tempat ke tempat lain di perairan Asia Tenggara dan hanya sesekali ke daratan. Semua yang mereka butuhkan, mereka dapatkan dari laut," kata salah satu penulis studi, Melissa Ilardo, dari University of Copenhagen, dikutip dari BBC.

Kemampuan menyelam ini juga bisa berimplikasi terhadap medis. Respons menyelam tersebut mirip dengan kondisi medis yang bernama hipoksia akut, yakni ketika manusia kekurangan oksigen dengan cepat. Menurut Illardo, mempelajari Suku Bajo bisa memberi pengetahuan tentang hipoksia. Kondisi ini sering menyebabkan kematian di unit gawat darurat.

Tapi dengan meningkatnya industri perikanan juga membuat mereka lebih sulit bertahan hidup pada stok makanan yang tersedia di lautan. Alhasil, banyak orang-orang Bajau yang memilih meninggalkan lautan.

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini