Tentang Diaspora dan Indonesia Emas 2045

Tentang Diaspora dan Indonesia Emas 2045
info gambar utama

Beberapa waktu lalu, terdengar santer sebuah pandangan bahwa diaspora yang merupakan aset bangsa dari artikel yang dibuat oleh PPI Dunia mengharap agar seluruh warga Indonesia yang sedang studi di luar negeri mendapatkan program vaksinasi dari pemerintah Indonesia. Pernyataan ini kemudian mengundang kritik dari berbagai pihak.

Sebelumnya, kita juga mendengar mengenai Indonesia emas 2045 beserta artikel-artikel maupun diskusi mengenai bonus demografi yang akan didapatkan Indonesia. Hal ini menggelitik untuk dibahas karena Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada tahun 2020 lalu, pernah mengatakan bahwa bonus demografi harus dimanfaatkan dengan optimal sebagai kunci untuk menuju Indonesia emas pada tahun 2045.

Di sisi lain, artikel dari laman Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional (BKKBN) di tahun yang sama mengulas, apakah bonus demografi yang akan dituai oleh Indonesia ini peluang atau tantangan? Lal,u apa hubungannya dengan diaspora?

GNFI pernah memuat artikel hasil dari wawancara dua tokoh penting, yakni Leonard F. Hutabarat yang kini menjabat sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk Toronto, Kanada, dan Dr. Dino Patti Jalal yang merupakan pendiri dari Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

Diaspora Memiliki Peran Memajukan Indonesia

Dino Patti Djalal pada acara di Istanbul 2019 | Foto: Dok. Pribadi
info gambar

Dino Patti Djalal dalam sesi wawancara yang GNFI lakukan tiga tahun yang lalu, sepakat bahwa memang diaspora memiliki potensi sebagai aset bangsa yang berguna untuk pembangunan bangsa.

“Semakin banyak diaspora di luar negeri semakin bagus, kenapa? Karena sepanjang dia di luar dan menjadi agen Indonesia. mereka bisa menjadikan diri mereka hub untuk kepentingan Indonesia,” tuturnya.

Dirinya menyatakan bahwa diaspora yang berada di luar negeri memiliki dua pilihan, yakni pulang ke Indonesia dan membangun bangsa, atau bekerja dan berkarya di luar negeri. Keduanya memiliki potensi dan tantangannya masing-masing.

Peran diaspora dalam membangun bangsa bisa dilihat oleh almarhum B.J. Habibie yang berkuliah di Rheinisch Westfählische Technische Hochschule (RWTH), Achen, Jerman Barat. Saat ini kita mengetahui sederetan nama anak bangsa yang berkarya dan dikenal di luar negeri, hal ini tentunya salah satu cara membangun negeri.

Leonard F. Hutabarat, pada artikel yang pernah GNFI rilis pada tahun 2017 lalu, dan masih relevan secara substansi dengan keadaan sekarang, menyatakan bahwa pada tahun 2045 nanti generasi milenial akan memegang peranan penting untuk menentukan arah Indonesia.

Namun, untuk mewujudkan hal itu Indonesia memiliki tantangan dari sektor pendidikan. Menurutnya, memimpin negara maju harus memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Di sisi lain, masalah narkoba yang merusak calon masa depan bangsa juga harus ditangani karena narkoba akan berdampak panjang pada calon pemimpin bangsa ini.

Pun meski kini Indonesia memiliki beasiswa LPDP yang mengharap kontribusi besar dari para awardee-nya, perlu disadari bahwa diaspora yang sedang studi pun juga memiliki dua sisi. Mereka yang berkontribusi positif untuk Indonesia dan yang sebaliknya.

Untuk bisa mendapatkan bonus demografi yang diharapkan Indonesia, negeri ini masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Aset Indonesia bukan hanya terletak kepada mereka yang belajar dan berkarya di luar negeri. Namun, juga mereka yang di dalam negeri. Kata kunci terbesar yang harus dipikirkan kita adalah, “Kontribusi apa yang bisa kita lakukan untuk Indonesia”.*

Sumber: AntaraNews | BKKBN | GNFIArtikel | Kaldera News

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
MI
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini